Belajarlah dari Pengalaman Masa Lalu, Jangan Pernah Meremehkan Hal Sekecil Apapun

adhi alumni

Salah satu kisah alumni datang dari Adhi Cahya Pradana (C11.2003.00440) lulusan Universitas Dian Nuswantoro, universitas swasta terfavorit se-Kota Semarang, Fakultas Bahasa dan Sastra, Jurusan Sastra Inggris (S1) pada tahun 2007. Adhi saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pekalongan sebagai Fungsional Pengantar Kerja sejak tahun 2011. Sebelum dia tergabung disana, Adhi bekerja mandiri dengan membuka rental komputer, menerima terjemahan Bahasa Inggris, serta menerima pengerjaan makalah dan Skripsi.

Dulu pada tahun 2007, tepat setelah Adhi lulus dari UDINUS, dia sudah sempat lolos seleksi tertulis tes CPNS di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Pusat. Pada saat itu jumlah orang yang dibutuhkan di tempat tersebut hanya 3 orang untuk jurusan Sastra Inggris, sedangkan yang lolos seleksi tertulis ada 6 orang. Jadi kesempatan dirinya untuk mendapatkan pekerjaan itu sudah 50 50. Pada saat itu 6 orang dari jurusan Sastra Inggris dipanggil untuk mengikuti seleksi wawancara tahap akhir oleh Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Thamrin. Ketika tes tersebut Bapak Thamrin menanyakan bahasa suplemen apa yang dikuasai selain Bahasa Inggris. 5 peserta tes yang lain, 3 orang berasal dari Universitas Indonesia dan 2 orang lain berasal dari Universitas Negeri Jakarta, menjawab bahwa masing-masing dari mereka menguasai 1 bahasa asing, diantara Bahasa Jerman, Belanda, Perancis, Jepang dan Mandarin secara aktif. Sedangkan Adhi menjawab menguasai 2 bahasa suplemen, yaitu Jepang dan Mandarin, tetapi pasif. Setelah itu, Bapak Thamrin menguji mereka satu persatu secara lisan. 5 orang yang lain mampu menjawab secara aktif, sedangkan Adhi tidak bisa menjawab, karena penguasaan bahasa suplemen dirinya yang pasif. Kemudian Adhi langsung dinyatakan gugur dalam proses seleksi tersebut. Ketika Adhi sedang dalam perjalanan pulang setelah proses seleksi tersebut, dia menyesal karena pada masa kuliah dirinya kurang memperhatikan mata kuliah bahasa suplemen dan tidak mengambil kursus bahasa tersebut di luar kampus.

“Seandainya saya dulu memperhatikan mata kuliah bahasa suplemen dan mengambil kursus untuk memperdalam penguasaan tersebut, mungkin saya akan lolos menjadi CPNS Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, dengan status dan gaji yang tinggi. Sekarang ini bila saya mengenang kembali masa itu, saya akan lebih menyesal, karena setelah menjadi PNS, saya mengetajhui bahwa PNS Pusat memiliki jenjang karir yang jauh lebih prospektif daripada status saya saat ini sebagi PNS Daerah Tingkat II. Akan tetapi semua hanya kenangan dan masa lalu yang memang harus saya lalui dan saya belajar banyak dari kesalahan saya. Sekarang saya hanya berusaha untuk tidak meremehkan sesuatu hal apapun, walaupun itu sifatnya hanya suplemen/tambahan saja.” kata Adhi.

Adhi memiliki harapan agar para dosen dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro agar sedikit lebih memperhatikan mata kuliah suplemen bahasa, sehingga materi yang diberikan lebih mendalam dan lebih fokus pada conversation. Hal itu diharapkan agar tidak ada alumni lain lagi yang memiliki pengalaman seperti dirinya. Adhi pun juga berharap agar para mahasiswa jurusan Sastra Inggris dapat belajar lebih serius dan tidak meremehkan mata kuliah bahasa suplemen, mengingat hal itu dapat menjadi nilai lebih dibandingkan kompetitor lainnya saat melamar pekerjaan.

 

“Teruslah belajar dari pengalaman masa lalu, ketika proses suatu pembelajaran berlangsung jangan meremehkan hal sekecil apapun.” – Adhi Cahya Pradana, S.S

Bookmark the permalink.

Comments are closed.