METODE SCOR (Supply Chain Operations Reference) DALAM MANAJEMEN RANTAI PASOK

A.SEJARAH METODE SCOR

Pada tahun 1996, dua perusahaan konsultan yang berbasis di Boston: Pittiglio Rabin Todd & McGrath dan AMR Research memutuskan untuk mengembangkan pendekatan standar untuk analisis dan menggambarkan semua aspek proses rantai pasokan. Hasilnya adalah SCOR (Supply Chain Operations Reference) model, yang dirilis pada tahun 1996.Model SCOR dirancang dengan tujuan mudah untuk diaplikasi oleh semua industri.

SCOR membantu perusahaan untuk mengatasi masalah rantai pasokan, ukuran kinerja, mengidentifikasi tujuan peningkatan kinerja, dan daya pengembangan perangkat lunak SCM. SCOR mencakup semua metrik rantai pasokan,rumus yang terkait dengan metrik dan referensi untuk praktik terbaik dan teknologi yang terkait.

B.PENGERTIAN METODE SCOR

METODE SCOR adalah sebuah bahasa rantai suplai,yang dapat digunakan dalam berbagai konteks untuk merancang, mendeskripsikan, mengonfigurasi ulang berbagai jenis aktivitas komersial/bisnis.

C.KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN METODE SCOR

  1. SCOR model yaitu dapat memperlihatkan hubungan antara tujuan umum perusahaan (taktik dan strategi) dengan operasi SCM secara keseluruhan.
  2. SCOR model dapat mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memonotoring performa

D.FRAMEWORK DAN METODE

Model SCOR supply chain management terdiri dari proses-proses detail yang saling terintegrasi dari supplier-nya supplier sampai customer-nya customer dimana semua proses tersebut searah dengan strategi operasional, material, kerja dan aliran informasi perusahaan.

  1. Membangun Model Kinerja Model kinerja ini terdiri dari dua aspek yaitu:

(1) Desain dari pengukuran kinerja :  pengukuran terstruktur yang seimbang, definisi dari ukuran dan perhitungan pengukuran serta metode pengumpulan data.

(2) Measure dependencies : memetakan hubungan anatara ukuran-ukuran kinerja yang merupakan dasar dari analisa selanjutnya.

 

  1. Mengukur Kinerja Supply Chain Proses pengukuran kinerja didalamnya terdiri dari perhitungan ukuran dan evaluasi kinerja. Ukuran-ukuran dapat dihitung berdasarkan definisi – definisi proses dan data sebenarnya yang diambil dari supply chain.

Evaluasi kinerja adalah sebuah proses pemberian bobot pada berbagai macam ukuran kinerja untuk mempresentasikan tingkat kepentingan dari setiap dimensi yang diukur.

E.ANALISIS KINERJA

  1. Improvement

SCOR tidak hanya menghasilkan struktur dan acuan aturan untuk mengukur kinerja dari desain namun juga pendekatan benchmark untuk gap analysis dan pendekatan best practice untuk improvement.

Proses dalam SCOR terdiri dari 4 level. Level 1 adalah top level yang terdiri dari 5 proses kunci yakni PLAN, SOURCE, MAKE, DELIVER dan RETURN.

 

  • Level 1 metrik mengkarakteristikan kinerja berdasarkan dua perspektif. Perspektif pertama adalah dari sisi customer dan perspektif yang kedua adalah berdasarkan perspektif internal. Pada level ini, dilakukan pendefinisian tentang kompetisi dasar yang ingin dicapai beserta petunjuk dan cara bagaimana dapat memenuhi kompetisi dasarn tersebut. Adapun penjelasan dari kelima proses pada level 1 adalah sebagai berikut:
  1. Plan, merupakan proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman. Plan mencakup proses menaksir kebutuhan distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi, perencanaan material, perencanaan kapasitas, dan melakukan penyesuaian supply chain plan dengan financial plan
  2. Source, yaitu proses pengadaan barang maupun jasa untuk memenuhi permintaan. Proses yang tercakup meliputi penjadwalan pengiriman dari supplier, menerima, mengecek, dan memberikan otorisasi pembayaran untuk barang yang dikirim supplier, memilih suplier, mengevaluasi kinerja supplier,dll. Jadi proses bisa berbeda tergantung pada apakah barang yang dibeli termasuk stoked, make-to-order, atau engineer-to-order products.
  3. Make, yaitu proses untuk mentransformasi bahan baku/komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan.Kegiatan make atau produksi dapat dilakukan atas dasar ramalan untuk memenuhi target stok (make-to-stock), atas dasar pesanan ( make-torder ), atau engineer-to-order. Proses yang terlibat disini adalah penjadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan pengetesan kualitas, mengelola barang setengah jadi, memelihara fasilitas produksi, dll
  4. Deliver, yang merupakan proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa. Biasanya meliputi order management, transportasi, dan distribusi. Proses yang terlibat diantaranya adalah menangani pesanan dari pelanggan, memilih perusahaan jasa pengiriman, menangani kegiatan pergudangan produk jadi, dan mengirim tagihan ke pelanggan.
  5. Return, yaitu proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan Kegiatan yang terlibat antara lain identifikasi kondisi produk, meminta otorisasi engembalian cacat, penjadwalan pengembalian, dan melakukan pengembalian. Post-delivery-customer support juga merupakan bagian dari proses return.

 

  • Level 2 dilakukan pendefinisian kategori – kategori terhadap setiap proses pada level 1. Pada level ini, proses di susun sejalan dengan strategi supply chain. Tujuan yang hendak dicapai pada level 2 ini adalah menyederhanakan supply chain dan meningkatkan flexibility dari keseluruhan supply chain. Pada level 2 ini, kendala market, kendala produk dan kendala perusahaan untuk menyusun proses inter dan intra- perusahaan.
  • Level 3 adalah level elemen proses dan merupakan level paling bawah dalam lingkup SCOR model. Pada level implementasi, yakni level yang berada dibawah level 3, elemen proses diuraikan kedalam task dan aktivitas lanjutan. Level implementasi ini tidak mencakup dalam lingkup SCOR model.
  • Pada level 4 ini digambarkan secara detail tugas-tugas didalam setiap aktivitas yang dibutuhkan pada level 3 .Ada tiga tipe proses dalam SCOR model: planning, execution dan enable. Proses planning merencanakan keseluruhan supply chain sejalan dengan perencanaan spesifik tipe dari execution process. Proses eksekusi mencakup semua kategori proses yang terdiri dari source, make, deliverdan return kecuali kategori enable process. Enable process dari suatu elemen proses tertentu.

 

F.METRIK DALAM SCOR

Metrik adalah sebuah pengukuran kinerja standar yang memberikan dasar bagaimana kinerja dari proses-proses dalam supply chain di evaluasi.Setiap metrik dari SCOR model berasosiasi secara tepat pada salah satu dari atribut kinerja yakni :

  1. Supply Chain Reliability berkaitan dengan keandalan
  2. Supply Chain Responsiveness berkaitan dengan kecepatan waktu respon setiap perubahan
  3. Supply Chain flexibility berkaitan dengan keflesibelan di dalam menghadapi setiap perubahan.
  4. Supply Chain Cost berkaitan dengan biaya-biaya di dalam Supply chain
  5. Efisiensi dalam pengelolaan asset berkaitan dengan nilai suatu barang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *