Chevron Berpotensi Keluar Dari Indonesia

Chevron Berpotensi Keluar Dari Indonesia

Pemerintah memutuskan tak memperpanjang kontrak Chevron sebagai pengelola Blok Rokan di Riau pada 2021. Analis Wood Mackenzie, Johan Utama, memperkirakan ke putusan pemerintah berisiko membuat perusahaan minyak dan gas asal Amerika Serikat itu hengkang dari Indonesia. “Keluarnya (Chevron) dari Indonesia tak dapat dikesampingkan,” kata dia kemarin.

Chevron mengelola Blok Rokan sejak 1971. Blok ini menjadi ladang minyak terbesar dengan produksi 207 ribu barel pada Juni lalu. Angka produksi tersebut jauh menurun karena dua lapangan terbesarnya, Duri dan Minas, memasuki usia lanjut. Untuk menggenjot produksi, Chevron menerapkan teknologi pengurasan minyak (enhanced oil recovery) skala besar melalui injeksi surfaktan. Perusahaan ini sudah melakukan dua tahap uji coba. Hasilnya, surfaktan menghasilkan angka pengembalian minyak sekitar 17-22 persen di satu pola di Lapangan Minas.

Tes lapangan yang di lengkapi dengan genset berukuran besar ini memakan biaya US$ 222 juta. Tapi proyek ini meleset dari target operasi seharusnya, yaitu pada 2017. Menurut Johan, setelah upaya mengelola kembali Blok Rokan kandas, Chevron hanya memiliki satu proyek di Indonesia, yakni gas laut dalam (Indonesia deep water development/ IDD). Chevron sudah meng operasikan IDD tahap pertama di Lapangan Bangka.

Tapi, untuk berlanjut ke tahap kedua di Blok Ganal dan Rapak, perusahaan ini harus mengeluarkan dana hingga lebih dari US$ 10 miliar. Selain persoalan dana, Johan mengatakan Chevron harus menghadapi ketidak pastian perpanjangan kontrak di Blok Ganal dan Rapak. “Dua faktor ini membuat portofolio investasi Chevron di Indonesia lebih sulit bersaing dengan investasi globalnya,” tutur Johan.

Sejak harga minyak dunia melemah pada 2015, Chevron juga mundur dari pengelolaan blok migas East Kalimantan dan Blok Makassar Strait. Perusahaan ini juga mundur dari operasional wilayah kerja panas bumi Darajat dan Salak. Pemerintah kini menyerahkan Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero). Keputusan itu terbit setelah Pertamina dan Rokan bersaing dalam proposal pengelolaan.

Menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar, Pertamina lebih unggul dalam hal besaran bonus tanda ta ngan sebesar US$ 784 juta dan komitmen kerja pasti sebesar US$ 500 juta. “Potensi pendapatannya untuk negara diperkirakan US$ 57 miliar selama 20 ta hun mendatang. Ini bisa menjadi kebaikan bagi kita,” tutur Arcandra dalam ke terangannya.

Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman, mengatakan pengelolaan Blok Rokan tak hanya dilandasi faktor perolehan ke untungan. Menurut Arief, perusahaan juga mempertimbangkan aspek keamanan pasokan minyak untuk kilang Balongan. Sebab, kilang ini membutuhkan minyak jenis sweet crude yang di hasilkan dari lapangan Minas dan Duri.

Arief optimistis keuangan perusahaannya memadai sekalipun Pertamina harus menanggung ongkos pengelolaan Blok Rokan. “Kami cukup optimistis karena itu net positif,” tutur dia. Corporate Communications Manager Chevron Indonesia, Danya Dewanti, enggan mengomentari soal peluang perusahaannya hengkang dari Tanah Air. Dia mengatakan Chevron tetap menjalankan program kerjanya sesuai dengan komitmen untuk memenuhi target yang disepakati bersama pemerintah. “Kami berkomitmen menjadi mitra yang andal dan ber tanggung jawab dalam menjalankan program kerja kami untuk memenuhi target produksi,” ujar Danya.