PT Bukit Asam Tbk Merambah Bisnis Pembangkit Listrik

PT Bukit Asam Tbk Merambah Bisnis Pembangkit Listrik

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berupaya memperbesar porsi pemasukan dari lini bisnis non batubara. Perusahaan tambang pelat merah ini tengah gencar mengembangkan bisnis pembangkit listrik. Sekretaris Perusahaan PTBA Suherman mengatakan, ini bagian dari strategi perusahaan ini untuk mengantisipasi tren penurunan penggunaan batubara. “Visi kami menjadi perusahaan energi dan mulai berbisnis hilirisasi energi,” kata dia, Selasa (25/9).

Menurut Suherman, arah bisnis memang ditujukan ke pembangkit listrik, karena hilirisasi energi memiliki multiplier effect besar, dengan keuntungan 12-13 kali lebih besar dibandingkan hulu. Ada dua jenis pembangkit listrik yang tengah dikembangkan, yakni pembangkit listrik tenaga uap (PLTU0 dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Saat ini, PTBA sudah mengoperasikan tiga PLTU. Rinciannya, PLTU Banjarsari dengan kapasitas 1 x 110 megawatt (MW). Lalu, PLTU Tanjung Enim berkapasitas 3 x 10 MW dan PLTU Pelabuhan Tarakan dengan kapasitas sebesar 2 x 8 MW.

Memulai Proyek Baru

Selanjutnya, PTBA akan membangun lima pembangkit lagi, terdiri dari empat PLTU dan satu PLTS. Pertama, PLTU Sumsel berkapasitas 2 x 620 MW yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2021/2022. Di sini, PTBA memiliki saham 45% dengan total nilai investasi US$ 1,6 miliar. Kedua, PLTS Bangka Belitung 100 MW dengan nilai investasi US$ 197 juta. Meski saat ini proyek tertunda, namun diharapkan bisa beroperasi pada 2022.

Ketiga, PLTU Kuala Tanjung berkapasitas 2 x 350 MW. Pembangkit dengan investasi US$ 950 juta ini ditarget beroperasi di 2020. Keempat, PLTU Pomalaa dengan kapasitas 2 x 30 MW. Nilai investasi proyek ini US$ 75 juta. Kelima, PLTU Halmahera Timur berkapasitas 2 x 40 MW.

Pembangkit yang menelan investasi US$ 150 juta ini akan beroperasi pada 2021 atau 2022. Selain itu, PTBA juga menggarap proyek dengan PT Angkasa Pura II. “Semua bandara AP II akan menggunakan PLTS. Kami menyiapkan teknologinya, sedang AP II yang mengoperasikan,” papar Suherman. Dengan sejumlah ekspansi ini, PTBA berharap pendapatan dari pembangkit listrik bisa meningkat. “Kontribusi pembangkit listrik masih di bawah 10%. Ke depan diharapkan bisa lebih dari itu,” ujar Suherman. Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, strategi memperbesar bisnis pembangkit akan menambah sumber pendapatan.

Ini sekaligus cara antisipasi penurunan penggunaan batubara, sehingga penyerapan produksi perusahaan tetap maksimal. Penggunaan batubara untuk PLTU juga memberikan margin lebih besar. William menilai, PTBA berpotensi kembali masuk indeks MSCI pada November ini. “Rekomendasi beli dengan target harga akhir tahun ini Rp 5.000 per saham,” saran dia.

Proyek besar ini akan dikerjakan selama 24 jam non stop meskipun dimalam hari. Oleh karena itu mereka mendatangkan genset dari jual genset samarinda berkapasitas besar agar dapat memenuhi kebutuhan listrik dimalam hari. Selain dikerjakan selama 24 jam, jumlah perkerja juga akan ditambah agar pengerjaan lebih cepat selesai.