Inflasi China Naik Karena Virus Corona

Inflasi China Naik Karena Virus Corona

Bisnis – Inflasi atau yang disebut dengan Indeks Harga Konsumen (IHK). China saat ini tengah merasakan inflasi yang membengkak akibat wabah virus corona tak kunjung selesai. Tingkat inflasi tersebut mencapai ke level yang paling tinggi dalam depalan tahun terakhir karena masyarakat scr888 menimbun makanan.

Biro Statistik negara tirai bambu tersebut menyatakan bahwa tingkat inflasi melampaui ekspektasi. Momentum ditengah tahun baru imlek perjuangan China untuk melawan ekonomi domestik pun menjadi melambat. Harga makanan melonjak hingga naik menjadi 20,6 persen.

Baca Juga : Ekonom Indonesia Mengatakan Virus Corona Memperlambat Bisnis Pariwisata

Inflasi tersebut meroket ke 5,4 persen di bulan yang lalu, naik tinggi dibandingkan Desember 2019 sebesar 4,5 persen. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan harga sayuran segar, buah-buahan dan juga daging babi melonjak naik.

Padahal saat survei Bloomberg sebelumnya telah memperkirakan inflasi bulanan pada Januari 2020 sekitar 4,9 persen saja. Kenyataan yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan ekspetasi karena wabah virus corona yang tak kunjung usai. Bukan hanya itu, kenaikan angka jumlah orang yang terinfeksi juga sangat mengejutkan sekali.

Pasalnya saat ini kasus corona tembus hingga 40ribu jiwa, dan 908 dinyatakan telah meninggal dunia. Karena hal tersebut masyarakat di China cenderung menimbun makanan dan pasokan lainnya saat situasi yang sangat mencekam ini. Penimbunan makanan pastinya akan menaikkan harga barang.

Kepala penelitian UOB Suan Teck Kin menyebutkan bahwa, meskipun harga barang dan pangan cenderung turun setelah imlek. Namun tren nya akan menanjak karena gangguan rantai pasokan. Beberapa pasokan makanan mungkin rusak sebelum dikirim ke kota-kota besar, karena gangguan transportasi. Kebijakan pemerintah mengunci akses satu kota dengan kota lainnya.

Baca Juga : Virus Corona Ditaksir Rugikan Ekonomi China $62 Miliar US

Ditambah lagi tahun lalu ternak babi di China terganggu, pasalnya karena terkena serangan flu babi Afrika. Hal tersebut menyebabkan pasokan menjadi langka dan harga melonjak drastis mulai pada Desember 2019. Namun pada bulan lalu harga daging babi kembali melonjak hingga 116 persen, dibandingkan tahun sebelumnya hanya 97 persen saja.

Disisi lainnya, indeks harga produsen cuma naik sekitar 0,1 persen saja. Indeks tersebut jatuh 0,5 persen bila dibandingkan dengan bulan desember 2019 lalu. Analisis memperkirakan bulan berikutnya, harga pabrik pastinya akan terpukul. Ekonom Senior Capital Economics, Julian Evans-Pritchard menyatakan virus corona berdampak kecil login live22 pada harga produsen.