SCOR (Supply Chain Operations Reference Model)

Metode SCOR

(Supply Chain Operations Reference Model) 

SCOR (Supply Chain Operations Reference Model) merupakan suatu referensi model yang digunakan untuk mengukur kinerja dari Supply Chain.

SCOR ini di kembangkan oleh Supply Chain Council (SCC) yakni suatu lembaga nonprofit yang didirikan pada tahun 1996 dan diprakarsai oleh beberapa organisasi/perusahaan seperti Bayer, Compaq, Procter & Gamble, Lockheed Martin, Nortel, Rockwell Semiconductor, Texas Instruments, 3M, Cargill, Pittiglio, Rabin, Todd, & McGrath (PRTM), dan AMR (Advance Manufacturing Research).  Pada awal berdirinya council ini memiliki anggota sebanyak 69 perusahaan, namun saat ini anggotanya telah mencapai 1000 perusahaan.

Sejak berdirinya SCC, Council ini memiliki tujuan yakni mengembangkan suatu model acuan standar dari supply chain process yang memungkinkan terjalinnya komunikasi efektif antara supply chain partner dengan :

  • Menggunakan terminology standar untuk komunikasi yang lebih baik dan mempelajari isu-isusupply chain
  • Menggunakan ukuran standar untuk membandingkan dan mengukur kinerja dari supply chain.

KERANGKA SCOR

picture1

  • Membangun Model Kinerja (Build Performance Model)

Pada tahap ini model dari kinerja dibuat. Model kinerja ini terdiri dari tiga aspek yakni (1) desain dari pengukuran kinerja, didalamnya terdapat sebuah pengukuran terstruktur yang seimbang, definisi dari ukuran dan perhitungan pengukuran serta metode pengumpulan data (2) Measure dependencies memetakan hubungan anatra ukuran-ukuran kinerja yang merupakan dasar dari analisa selanjutnya.

  • Mengukur Kinerja Supply Chain (Measure SC Performance)

Proses pengukuran kinerja didalamnya terdiri dari perhitungan ukuran dan evaluasi kinerja. Ukuran-ukuran dapat dihitung berdasarkan definisi – definisi proses dan data sebenarnya yang diambil dari supply chain.

Evaluasi kinerja adalah sebuah proses pemberian bobot pada berbagai macam ukuran kinerja untuk mempresentasikan tingkat kepentingan dari setiap dimensi yang diukur.

  • Analisa Kinerja (Performance Analysis)

Pada tahap ini akan menghasilkan beberapa metode analisis kinerja untuk pengambilan keputusan dan perbaikan yakni gap analysis, prioritas ukuran dan analisis sebab akibat.

  • Improvement

Berdasarkan pengukuran dan analisis kinerja, improvement disini dapat dibagi menjadi dua subdivisi utama. Pertama, dengan menganalisa tingkat kepentingan dan hubungan antara ukuran-ukuran kinerja.  Kedua dengan gap analysis dan process reengineering, dapat meningkatkan  kinerja dari supply chain yang sesungguhnya.

SCOR model memainkan sebuah peranan yang penting dalam kerangka tersebut. SCOR tidak hannya menghasilkan struktur  dan acuan aturan yang terdefinisi dengan baik untuk mengukur kinerja dari desain namun juga pendekatan benchmark untuk gap analysis dan pendekatan best practice untuk improvement.

PENDEKATAN “top-down” MODEL SCOR

picture2

Level Pendekatan Top-down

Level 1: Tipe Proses:

  • Plan : menyeimbangkan kapasitas sumberdaya terhadap demand
  • Source : Identifikasi dan seleksi pemasok
  • Make : transform bahan baku ke wujud selanjutnya
  • Deliver : penerimaan order, reservasi inventori, kuotasi, konsolidasi order, shipping, invoicing
  • Return: returning defective rantai pasok

Level 2 : Kategori Proses

  • Planning : planning dukungan alokasi sumberdaya terhadap demand
  • Execution: dipicu oleh demand – inti rantai pasok
  • Enable: memungkinkan proses dukungan untuk kategori lainnya

Level 3: Elemen Proses

  • P1 : pengembangan aksi thd periode waktu utk memenuhi kebutuhan rantai pasok
  • P1.1 mengidentifikasi, memprioritaskan, dan menjumlah persyaratan produksi
  • P1.2 mengidentifikasi, menilai, dan menjumla sumber daya rantai pasokan
  • P1.3 keseimbangan sumber daya rantai pasokan dengan kebutuhan rantai pasokan
  • P1.4 menetapkan dan mengkomunikasi kan rencana rantai pasokan

Level 4: Implementasi Proses

  • Pada level ini digambarkan secara detail tugas-tugas didalam setiap
  • Aktivitas yang dibutuhkan pada level 3 untuk mengimplementasikan dan
  • Mengelola supply chain berbasis harian

BATASAN MODEL SCOR

  • SCOR hanya dapat menyajikan aliran bisnis di antara entitas hukum atau geografis, tidak ada matrik struktur organisasi atau konsep “perusahaan virtual”.
  • SCOR terbatas pada penyajian satu rantai pasokan tunggal, sementara sebagian besar perusahaan dapat dikaitkan dengan berbagai saluran pasar dan produk.
  • Kegiatan desain kolaboratif dan manajemen hubungan pelanggan tidak didefinisikan dalam SCOR

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *