Psikologi Kerekayasaan & Motivasi

A. Psikologi Kerekayasaan

Psikologi kerekayasaan (engineering psychology) adalah ilmu yang mempelajari penemuan dan penerapan informasi tentang perilaku manusia dalam kaitannya dengan mesin-mesin, peralatan, pekerjaan, dan lingkungan kerja, yang bertujuan untuk membantu dalam merancang peralatan, tugas-tugas, tempat-tempat kerja, dan lingkungan kerja sehingga sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dari tenaga kerja. Psikologi kerekayasaan memandang pekerja sebagai suatu konstanta psikologis dan biologis yang mengandung banyak kecakapan dan keterbatasan.

 

Istilah – istilah yang umum dalam Psikologi Kerekayasaan :

  • Human factors engineering
  • Human engineering
  • Biomechanics
  • Ergonomics
  • Psikoteknologi
  • Psikologi eksperimen terapan

Berdasarkan kaitannya diatas maka Psikologi Kerekayasaan melibatkan ilmu-ilmu manusia seperti anatomi, antropometri, fisiologi terapan, kesehatan lingkungan, sosiologi dan toksiologi, dan rancangan industrial dan riset operasi (Lestari, 2011).

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Psikologi Kerekayasaan :

  • Analisis waktu dan gerak
    Analisis waktu dibutuhkan untuk menentukan berapa lama waktu yang diperlukan dalam menyelesaikaan suatu pekerjaan. Sedangkan analisis gerak dibutuhkan untuk memisahkan antara gerakan mana yang diperlukan dan tidak diperlukan dalam bekerja. Kedua kegiatan tersebut bertujuan agar terjadi efisiensi yang tinggi dalam bekerja sehingga diperoleh standar waktu dan standar gerak seperti apa yang perlu diterapkan (Kairupan, 2012).
  • Ukuran dan tata letak
    Mengatur sedemikian rupa ukuran – ukuran material dan peletakannya akan memudahkan pekerjaan sehingga dapat menghindari stres kerja dan ketidakefisienan dalam bekerja.
  • Pengaturan tempat kerja
    Pengaturan tempat kerja berkaitan tentang bagaimana lingkungan dalam melakukan pekerjaan sehingga dapat mempengaruhi keadaan pekerja.
  • Warna dinding
    Pada rancangan ruang kerja, unsur warna memegang peranan yang penting dalam hubungannya dengan
    aktivitas dalam ruang kerja tersebut. Ada reaksi tubuh manusia terhadap warna baik secara psikologis maupun fisiologis. Oleh karena itu, warna dinding suatu ruang dapat dipilih sesuai dengan aktivitas yang dilakukan di dalam ruang tersebut.

Berikut efek yang ditimbulkan dari beberapa warna terhadap presepsi jarak, suhu, dan psikis :

WARNA EFEK JARAK EFEK SUHU EFEK PSIKIS
Biru Jauh Sejuk Tenang
Hijau Jauh Sangat sejuk Sangat tenang
Merah Dekat Panas Sangat mengusik
Orange Sangat dekat Sangat panas Merangsang
Kuning Dekat Sangat panas Merangsang
Coklat Sangat dekat Netral Merangsang
Lembayung Sangat dekat Sejuk Agresif
  • Kondisi fisik kerja
    Kondisi fisik kerja perlu diperhatikan dalam perancangan untuk menjamin pekerjaan terhindar dari gangguan. Kondisi yang tercipta dipengaruhi antara lingkungan kerja dan fasilitas yang disediakan. Mencakup tentang penerangan, agar memaksimalkan penglihatan dalam bekerja. Kebisingan, yang perlu diatur sedemikian rupa agar suara – suara yang tidak diinginkan dalam lingkungan kerja dapat diminimalisasikan sehingga tidak mengganggu dan mengurangi efisiensi kerja. Suhu, harus membuat nyaman pekerja. Musik, diberikan agar dapat memberikan rasa rileks dan santai, namun tidak wajib terutama bagi pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi dan pekerjaan majemuk. (Kairupan, 2012)
  • Distribusi jam kerja

-Jam kerja

Jumlah jam kerja dalam semingggu  di Indonesia biasanya 40 jam. Terdapat perusahaan membagi 40 jam kerja dalam enam hari kerja, terdapat juga yang membaginya ke dalam lima hari kerja. Rata – rata jam kerja yang diberikan adalah 8 jam. Hal ini disesuaikan dengan peraturan yang diberlakukan dalam undang – undang.

-Kerja paruh waktu

Biasanya pekerjaan seperti ini banyak dijalani oleh pekerja dengan usia muda dan beberapa termasuk dalam kelompok yang telah menjalani pensiun. Kelompok ini senang karena selain mendapatkan tambahan penghasilan juga dapat melakukan aktivitas yang bermakna.

-Empat hari minggu kerja

Empat hari kerja tiap minggu diterapkan dengan harapan akan terjadi peningkatan efisiensi  dan produktivitas kerja, yang diikuti dengan pengurangan absensi.

-Jam kerja lentur

Hari kerja dibagi dalam empat bagian, dimana dua bagian adalah waktu kerja pilihan, dan dua bagian lain adalah waktu kerja wajib. Jam kerja lentur ini dibuat agar dapat meningkatkan produktivitas karyawan dan mutu dari kerja, agar tidak datang terlambat, dan sebagainya.

 

Sistem Manusia – Mesin

Penyesuaian kerja pada manusia berarti pula penyesuaian mesin dan lingkungan kerja terhadap manusia. Dalam proses sistem manusia – mesin terdapat dua interaksi yaitu :

  • Manual man-machine systems

Dimana input akan langsung diproses oleh manusia menjadi output

  • Semiautomatic man-machine systems

Terdapat suatu mekanisme khusus sebelum input dapat diolah dan masuk ke dalam sistem manusia. Sebelum menjadi suatu output-pun, dari sistem manusia akan melalui mekanisme tertentu.

  • Automatic man-machine systems

Dalam proses ini sistem mesin akan memegang peranan penuh secara langsung. Tugas dari manusia hanyalah sebagai operator yang memonitoring dan mengawasi berlangsugnya proses agar mesin dapat bekerja dengan baik sebagaimana mestinya.

Schultz memberikan 3 prinsip umum dalam rancangan ruang kerja :

  • Semua bahan, peralatan, dan persediaan harus terletak berurutan sesuai dengan urutan penggunaannya
  • Alat-alat harus diletakkan sedemikian rupa sehingga mereka siap diambil untuk digunakan
  • Semua suku cadang dan alat-alat harus berada dalam jarak raih yang mudah dan menyenangkan

 

 

B. Motivasi

Motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu movere, yang berarti menggerakkan (to move). Motivasi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu untuk mencapai kebutuhan.

 

Proses motivasi kerja terdiri dari tiga elemen penting, yakni kebutuhan (needs), dorongan (drives) dan rangsangan (incentives) (Luthans dalam Kartika, 1992:147) .

NEEDS –> DRIVES –> INCENTIVES

-Kebutuhan (needs) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh adanya kekurangan untuk menyebabkan seseorang berperilaku untuk mencapai tujuan. Kekurangan tersebut dapat bersifat psikologis, fisiologis, atau sosial.
-Dorongan (drives) adalah suatu kondisi yang menyebabkan seseorang menjadi aktif untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku demi tercapainya kebutuhan atas tujuan.
-Rangsangan (incentives) adalah sesuatu yang memiliki kecenderungan merangsang minat seseorang untuk bekerja mencapai tujuan.

 

Motivasi dibagi menjadi 2 jenis yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang disebut motivasi intrinsik, dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang disebut dengan motivasi ekstrinsik (Djamarah dalam Tunjungsari, 2009: 115).

 

Berikut teori – teori mengenai motivasi : (Sudrajad, 2008)

  • Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
    Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa
    manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :

-Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;

-Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik
semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;

-Kebutuhan akan kasih sayang (love needs);

-Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status;

-Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

  • Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
    Dikenal sebagai teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu :

-Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat;

-Menyukai situasisituasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya;

-Menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

  • Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
    Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG”. “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf
    pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhan untuk
    berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan).

Terdapat dua hal penting dalam pemaknaan istilah tersebut:

-Secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow.

-Teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak.

  • Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
    Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
    Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang,
    keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

 

George dan Jones dalam Kartika (2005, p.175) menyatakan bahwa unsur–unsur motivasi kerja adalah sebagai berikut:

  • Arah perilaku (direction of behavior)
    Di dalam bekerja, ada banyak perilaku yang dapat dilakukan oleh karyawan. Arah perilaku (direction
    of behavior) mengacu pada perilaku yang dipilih seseorang dalam bekerja dari banyak pilihan perilaku yang dapat mereka jalankan baik tepat maupun tidak. Banyak contoh perilaku tidak tepat yang dapat dilakukan oleh seorang karyawan, perilaku–perilaku ini nantinya akan menjadi suatu penghambat bagi organisasi dalam mencapai tujuannya. Sedangkan untuk mencapai tujuan perusahaan secara maksimal, karyawan harus memiliki motivasi untuk memilih perilaku yang fungsional dan dapat membantu organisasi dalam mencapai tujuannya. Setiap karyawan diharapkan dapat bekerja tepat waktu, mengikuti peraturan yang berlaku, serta kooperatif dengan sesama rekan kerja.
  • Tingkat usaha (level of effort)
    Tingkat usaha atau level of effort berbicara mengenai seberapa keras usaha seseorang untuk bekerja sesuai dengan perilaku yang dipilih. Dalam bekerja, seorang karyawan tidak cukup jika hanya memilih arah perilaku yang fungsional bagi pencapaian tujuan perusahaan. Namun, juga harus memiliki motivasi untuk bekerja keras dalam menjalankan perilaku yang dipilih. Misalnya dalam pekerjaan, seorang pekerja tidak cukup hanya memilih untuk selalu hadir tepat waktu, namun juga perlu dilihat keseriusan dan kesungguhannya dalam bekerja.
  • Tingkat kegigihan (level of persistence)
    Hal ini mengacu pada motivasi karyawan ketika dihadapkan pada suatu masalah, rintangan atau halangan dalam bekerja, seberapa keras seorang karyawan tersebut terus berusaha untuk mrnjalankan perilaku yang dipilih. Misalnya saja bila ada kendala pada cuaca atau masalah kesehatan seorang karyawan produksi, apakah karyawan tersebut tetap tepat waktu masuk bekerja dan sungguh–sungguh mengerjakan tugas seperti biasanya atau memilih hal lain, seperti ijin pulang atau tidak masuk kerja. Dalam hal ini dibuat pengecualian jika masalah kesehatan yang dialami pekerja termasuk penyakit serius yang dapat menyebabkan seseorang tidak mampu bekerja.

 

 

 

Sumber :

Lestari dkk. 2011. Psikologi Kerekayasaan. Jakarta

Kairupan Andreas Anthony. 2012. Teori Kondisi Kerja Dan Kerekayasaan. Diakses 12 Mei 2017.

Kartika Endo Wijaya , Kaihatu Thomas S. 2010.  Analisis Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (Studi Kasus pada Karyawan Restoran di Pakuwon Food Festival Surabaya). V0l 12, no 1.

Tunjungsari. 2015. Pengaruh Motivasi Intrinsik Dan Motivasi Ekstrinsik Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas VII Di SMPN 1 Banyakan Kediri.

Sudrajat Akhmad. 2008. Teori-Teori Motivasi.

Article written by

Please comment with your real name using good manners.

Leave a Reply