SCOR (Supply Chain Operations Reference) Model

Apa itu SCOR Model ?

Model Supply Cyahain Operations Reference (SCOR) adalah sebuah bahasa supply chain, yang dapat digunakan dalam berbagai konteks untuk merancang, mendeskripsikan, mengkonfigurasi dan mengkonfigurasi ulang berbagai jenis aktivitas komersial/bisnis. Penerapan model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dalam batas-batas tertentu cukup fleksibel dan dapat disesuaikan untuk meningkatkan produktivitas demi memenuhi kebutuhan konsumen.

Tahapan pemetaan dalam SCOR Model

Menurut Supply Chain Council (2010), ada 4 level tahapan pemetaan SCOR version 10.0, yaitu: Top Level (Level 1), Configuration Level (Level 2), Process Element Level (Level 3), dan Implementation Level (Level 4).

LEVEL 1

Level 1 mengkarakteristikan kinerja berdasarkan dua perspektif. Perspektif pertama adalah dari sisi customer dan perspektif yang kedua adalah berdasarkan perspektif internal. Pada level ini, dilakukan pendefinisian tentang  kompetisi dasar yang ingin dicapai beserta petunjuk dan cara bagaimana dapat memenuhi kompetisi dasarn tersebut. Adapun penjelasan dari kelima  proses pada level 1 adalah sebagai berikut:

 

level-1

LEVEL 2

Level 2 merupakan level konfigurasi dan berhubungan erat dengan pengkategorian proses.

Hal itu dimulai dari proses yang berkaitan dengan pemasok, aktivitas produksi dan distribusi hingga produk yang diterima oleh konsumen. Terdapat pengklasifikasian proses seperti berikut:

1 = Make-to-stock 
2 = Make-to-order
3 = Engineering-to-order 
4 = Retail product

 

SCOR model pemetaan dalam level 2, yaitu :

1.      planning(perencanaan)

2.      excecution (pelaksanaan)

3.      enable (pengaturan antara perencanaan dan pelaksanaan).

LEVEL 3

Pada pemetaan level 3 ini, perusahaan mendefinisikan secara detil prosesproses yang teridentifikasi, ukuran kinerja dan praktik terbaik pada setiap aktivitas. Pada level ini, benchmarking dan atribut-atribut diperlukan untuk enabling software. Sistem rantai pasok perusahaan didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk bersaing pada pasar yang dipilih. Pada level 3, proses unsur dibagi kedalam bentuk informasi masukan, proses unsur dan keluaran yang terdiri dari :

1. Definisi proses unsur.

2. Informasi masukan dan keluaran proses unsur.

3. Metrik pengukuran kinerja.

4. Praktik terbaik.

5. Kemampuan sistem yang diperlukan untuk menerapkan praktik terbaik.

6. Sistem dan alat bantu untuk melakukan ”fine tuning” pada level strategi operasi.

Metric dalam SCOR

Metrik adalah sebuah pengukuran kinerja standar yang memberikan dasar bagaimana kinerja dari proses-proses dalam supply chain di ebaluasi. Pengukuran kinerja ini harus reliable dan valid. Reliability berkaitan dengan bagaimana kekonsistenan research instrument. Sedangkan validitas berkaitan dengan apakah variable telah didefinisikan secara tepat dan representative.

Meskipun SCOR model menyediakan berbagai variasi ukuran kinerja untuk mengevaluasi supply chain, namun SCOR tidak mengindikasikan apakah ukuran tersebut cocok untuk semua tipe industri. Karenanya penyesuaian atau kustomisasi terhadap SCOR model terkadang dibutuhkan. Pemilihan ukuran kinerja yang cocok disini dilakukan  untuk tiap elemen proses termasuk untuk kinerja dari supply chain. Perhitungan dari sebuah metric mungkin tergantung tidak hanya pada process data item namun juga perhitungan secara detail pada level yang lebih rendah.

IMPLEMENTASI

PEMBUKTIAN PERHITUNGAN SCOR MODEL PADA PERUSAHAAN JOB ORDER( STUDI KASUS PT. HUDA RACHMA GROUPINDO)

PT. Huda Rachma Groupindo adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa pembuatan tas untuk instansi atau media promosi suatu perusahaan. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan perhitungan SCOR Model terhadap manajemen rantai pasok pada perusahaan job order dan untuk mengetahui pembuktian penerapan SCOR Model pada perusahaan job order dan hasil dari perbandingan dengan penelitian SCOR Model pada perusahaan distributor dan manufaktur.Hasil dari perhitungan SCOR Model pada PT. Huda Rachma Groupindo menunjukan perfect order fulfillment (POF) sudah mencapai tingkat superior dan cost of good sold (COGS) dari PT. Huda Rachma Groupindo lebih kecil yaitu sebesar 50,25% dari data advantage 56,11% dan menunjukan bahwa kinerja dari perusahaan sudah efektif dan efisien. Hasil perbandingan dengan penelitian lain membuktikan bahwa SCOR Model lebih maksimal jika diterapkan pada perusahaan manufaktur.

PEMBAHASAN

level-1

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa SCOR Model tidak dapat digunakan secara maksimal pada perusahaan job order . Penulis tidak perlu melanjutkan ke pemetaan selanjutnya ,karena terlihat dari perfect order fulfillment (POF) sudah mencapai tingkat superior dan nilai dari cost of good sold(COGS) dari PT. Huda Rachma Groupindo lebih kecil yaitu sebesar 50,25% dari data advantage sebesar 56,11%. Artinya pemenuhan pesanan sampai konsumen menerima barang pesanan sudah tepat waktu dan biaya untuk membuat satu unit barang jadi sudah efisien.

level-2

Dari perhitungan kinerja PT. Huda Rachma Groupindo memberikan hasil yang menyatakan bahwa kinerja dari PT. Huda Rachma Groupindo sudah sangat baik, dilihat dari Perfect Order Fulfillment (POF) yang sudah mencapai superior, Order Fulfillment Cycle Time (OFCT) selama 45 hari, dan Total Cost to Serve (TCTF) sebesar 50,25% yang lebih efisien di banding data benchmark advantage sebesar 56,11%. Jika salah satu metrik sudah mencapai superior dan tidak ada masalah dengan data benchmark maka SCOR model level berikutnya tidak perlu dilakukan kembali. Dari data diatas terlihat bahwa kinerja perusahaan sudah baik, oleh karena itu SCOR Model tidak dapat diterapkan pada perusahaan job order karena tidak perlu melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kinerjanya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, penulis melanjutkan dengan membandingkan dengan penerapan SCOR Model pada perusahaan lain. Terlihat bahwa penerapan SCOR Model lebih maksimal jika diterapkan pada perusahaan manufaktur, karena didalam perusahaan manufaktur banyak permasalahan yang terjadi dan memiliki cakupan yang lebih luas dari pemasok hingga pelanggan sehingga perlu evaluasi pada perusahaan yang lebih maksimal. Untuk perusahaan sebaiknya melakukan pelatihan SCOR Model agar perusahaan bisa melakukan evaluasi lebih mendalam dari produk pada perusahaan tersebut.

SARAN

Saran untuk PT. Huda Rachma Groupindo dalam tingkat pemenuhan pesanan kepada pelanggan perlu dipertahankan agar pelanggan semakin luas cakupannya. Karena pada PT. Huda Rachma Groupindo dalam memenuhi pesanan pelanggannya sudah sangat baik dibanding dengan para pesaingnya. PT. Huda Rachma Groupindo sebaiknya mengikutin seminar SCOR Model baik untuk direktur maupun staff dari PT. Huda Rachma Groupindo. Karena tidak selamanya target pemenuhan pesanan itu terpenuhi oleh sebuah perusahaan dan dengan SCOR Model dapat mengevaluasi seluruh kegiatan dari mulai supplier hingga pelanggan. Salah satu programnya adalah yang dilaksanakan oleh PT. Husin Intelligence Group Executive program, seminar ini membahas mengenai SCOR Model dan membahas semua bagian dari SCOR Model dan bertujuan untuk membantu perusahaan melalui solusi yang ada didalam seminar tersebut.

Sumber :

http://thesis.binus.ac.id/Doc/WorkingPaper/2014-2-00519-MN%20WorkingPaper001.pdf

https://dazzdays.wordpress.com/2009/10/27/sekilas-scor-supply-chain-operation-reference-model-intro/

https://mgt-logistik.com/pengertian-scor-model/

https://sbm.binus.ac.id/2015/09/28/pengenalan-scor-model-10-0-untuk-penelitian-bisnis-2/