Mengenal Sistem Produksi Toyota

Siapa sih yang tidak mengetahui perusahaan raksasa milik PMA Jepang ini?

Sekilas kita langsung mengetahui bahwa toyota merupakan perusahaan PMA Jepang yang bergerak di bidang otomotif khususnya dalam pembuatan mobil.

Saat saya bekerja di salah satu lembaga pembelajaran bahasa Jepang yang berlokasi di kawasan industri Jawa Barat dan merupakan lembaga yang bekerja sama dengan toyota, saya selalu merasa heran dengan atasan saya yang selalu membanggakan perusahaan tersebut beserta sistem yang dijalaninya. Hingga sampai apa saja yang ada pada toyota ingin diaplikasikan pada kantor tempat saya bekerja dulu.

Apa sih istimewanya toyota?

“Kenapa atasan saya selalu saya membanggakan sistem toyota? Sampai-sampai ingin diterapkan disini? Padahal nggak semuanya sistem toyota bisa diterapkan di sini. Kita kan buka perusahaan besar, hanya kantor atau lembaga belajar. Ya bisa dikatakan kita ini vendor Toyota, tapi kaaann…” seperti itulah celetukan dari saya saat atasan saya ingin menerapkan sistem yang ada pada Toyota.

Di Indonesia Toyota dikenal dengan nama TMMIN (Toyota Motor Manufacturing Indonesia). Pusat industri berlokasi di Sunter.

Baiklah, mari langsung kita bahas mengenai sistem produksi di Toyota.

Sebetulnya sistem produksi Toyota terdiri dari dua pilar yaitu Just In Time dan Jidouka.
Just In Time atau sistem produksi tepat waktu prinsipnya hanya untuk memproduksi jenis barang yang diminta dan dirancang untuk meningkatkan kualitas, menekan biaya dan mencapai waktu yang seefisien mungkin agar tidak terjadi pemborosan produksi. Dengan tujuan tersebut sehingga tidak terjadi penumpukan stok dan konsumen dapat memperoleh kendaraan bukan dari barang yang telah disimpan lama.

Just In Time memiliki tiga konsep pokok, yaitu:

  • Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan.
  • Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya.
  • Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan.
  • Berpikir kreatif dan menampung saran-saran karyawan

 

Selain itu perlu diterapkan sistem dan metode demi mencapai empat konsep ini, diantaranya:

  • Sistem kanban untuk mempertahankan produksi Just In Time (JIT).
  • Metode pelancaran produksi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
  • Penyingkatan waktu penyiapan untuk mengurangi waktu pesanan produksi.
  • Tata letak proses dan pekerja fungsi ganda untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
  • Aktifitas perbaikan lewat kelompok kecil dan sistem saran untuk meningkatkan moril tenaga kerja.
  • Sistem manajemen fungsional untuk mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan

Pilar kedua dalam sistem produksi toyota ada jidoka. Jidoka merupakan sistem yang digunakan untuk mengetahui/ mendeteksi ketidaknormalan proses. sistem tersebut diberi wewenang untuk menghentikan proses produksi jika terjadi sesuatu yang abnormal. Contohnya ketika operator assembling berpikir/ menganggap dirinya menghasilkan barang defect atau cacat, ia harus berusaha untuk menghentikan conveyor dengan menekan menekan “line stop button” untuk menghentikan produksi sehingga terhindari defect part terkirim ke proses berikut. Oleh karena itu, di proses perakitan yang menggunakan konveyor, dipakai sistem fixed stop area (operator bekerja di area yang sudah ditentukan).

Tujuan jidoka sendiri yaitu:
a. Menjamin hasil produksi, mencapai kualitas terbaik.
b. Penyederhanaan man power produksi.
c. Mencegah terjadinya down time akibat adanya kelainan pada proses produksi.

 

Sumber:
http://luckyprasetyohardiyanto.blogspot.co.id/
https://id.wikipedia.org
http://news.okezone.com/
http://www.sistemproduksitoyota.com/
  

Leave a Reply