HIV di Kota Semarang

HIV/AIDS di Kota Semarang
Human immunodeficiency virus adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Seorang dengan pengidap HIV/AIDS dapat bertahan hidup sekama 9-11 tahun setelah terinfeksi.
HIV/AIDS ini dapat tertular apabila kita bergonta-ganti pasangan dalam melakukan seks bebas, penggunaan jarum suntik bekas penderita HIV/AIDS yang lupa diganti juga menjadi salah satu penyebab tertularnya penyakit ini ke orang lain. Sehingga apabila kita bersentuhan dengan penderita HIV/AIDS secara langsung tidak akan menjadikan kita tertular penyakit ini
Kota semarang menjadi daerah yang angka penderita HIV/AIDS nya tertinggi di Jawa Tengah. Menurut data Dinas Kesehatan Kota Semarang, total pengidap penyakit HIV/AIDS di kota Semarang mencapai 5288 sejak 2017 hingga maret 2019 yang menjadikan kecamatan Semarang Utara sebagai wilayah yang memiliki total pengidap HIV/AIDS tertinggi di kota semarang.
Tingginya angka penderita HIV/AIDS di kota semarang disebabkan karena daerah Semarang merupakan kota transit, dikatakan kota transit karena kebanyakan warga nya merupakan pendatang baru di Kota Semarang.
Penemuan kasus HIV/AIDS ini bersumber dari layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di setiap Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di Kota Semarang. Selain VCT ada juga cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyakit ini yaitu PITC (Provider Initiative Counseling and Testing) yang dilakukan atas saran petugas pelayanan kesehatan karena melihat gejala yang mengarah ke HIV.
Untuk mengurangi kasus pengidap HIV/AIDS ini, pemerintah Kota Semarang meyiapkan berbagai fasilitas yang akan mendukung penurunan target pada kasus ini. Diantaranya yaitu tiap puskesmas terdapat tempat pemeriksaan penyakit HIV/AIDS yang sudah disediakan di Puskesmas Poncol, Halmahera, Lebdosari dan Bandarharjo.