Berbagi Cerpen (3)

MENJAGAMU
Oleh: Asrorri

Landon benci benar dengan lautan. Hamparan karpet biru yang bergolak, berbuih itu dalam pikirannya: selalu terlihat lapar. Tapi dia terpaksa, hari ini, bergabung dalam pelayaran menuju Tarafan; menaiki Saint Danings bersama Ross dan Farncis.

“Kau akan baik-baik saja, hermano.”

Tiga kali Alan Traore berusaha menenangkan si pemuda kurus yang belum rela jauh-jauh dari ember berisi muntahan. Tabiat ABK bermata juling itu tidak mencerminkan ucapannya. Dengan santai dia merokok di dalam kamar pengap nan asin.

“Pelayaran pertamaku juga buruk. Kami mengalami badai. Lambung kiri kapal bocor. Kami harus menguras airnya; ember demi ember. Kami tak bisa berhenti. Kami berhenti: kami mati.”

“Huuuok!” Landon membalas ocehan Traore.

“Lagipula, kau bisa tinggal di dermaga saja kan? Kenapa harus ikut? Lady Ross sudah bersama Francis itu. Atau kau mau menjadi kacung saja ya?”

Landon–mendelik sambil menahan godaan untuk muntah–mengusap bibir, berkata lemah, “Aku tak bisa membiarkan Ross sendirian di sini. Francis itu ular yang licik. Tidak. Aku, tidak bisa.”

“Well, kenyataannya adalah saat kau sedang sekarat di sini, Rossmu itu sedang makan malam di kabin atas, dengan Francis dan Kapten Barbarossa. Tidakkah itu menyakitkan, hermano?”

Landon mendorong ember, mengulurkan tangan; bertumpu pada dinding, perlahan bangkit. Dia mengerjapkan mata, mencoba melangkah. Dan jatuh.

“Sini, biar kubantu. Kau mau buang air?” Traore memapah pemuda berwajah layu itu keluar dari pintu, memasuki lambung kapal yang gelap.

“Hei, bukan ke sana jambannya!” teriak Traore melihat Landon melepaskan diri darinya dan mulai berjalan terhuyung menuju tangga kayu yang mengarah ke geladak.

“Aku harus memastikan Ross baik-baik saja,” ucapnya menyemangati diri.

***

“Jadi, kalian bertunangan?” tanya kapten kapal, pria gemuk berjanggut lebat yang pantantya melesak ke dalam kursi kayu. Taring kiri atasnya yang terbuat dari emas berkilau ditempa cahaya lilin meja makan.

“Begitulah, Paman. Dan kami hendak ke Tarafan untuk memulai hidup baru.” Francis yang menjawab. Dia adalah pria tampan dan berperangai sopan. Bukan salah Ross meninggalkan Landon sahabatnya demi profil ideal itu.

“Ah, ya. Tarafan! Itu perairan yang jauh. Kita akan ke sana. Lima hari paling lama.”

Francis dan Ross saling tatap. Tersenyum kemudian.

“Terima kasih, Kapten,” kata Ross.

Kapten Barbarossa menggigit setangkai anggur merah, mengunyah pelan dengan kepala digelengkan.

“Tidak secepat itu, Lady. Kami belum menerima barang yang kau janjikan.”

Dua awak kepercayaan sang kapten, menyeringai dari sudut ruangan. Ross mengerutkan dahi. Francis menundukkan kepala.

“Ah! Kau belum memberitahunya!”

“Beritahu apa?” tuntut Ross, entah tertuju pada siapa.

***

“Ladymu akan baik-baik saja, hermano. Kau, tenanglah saja,” bujuk Traore agar Landon memelankan langkah. Pemuda itu–melihat dari betapa buruk dia muntah–sangat bersemangat menuju kabin kapten. Dengan Traore dan suara melengkingnya mengekor di belakan, para ABK mau tak mau menaruh perhatian pada aksi itu.

“Wow, cari apa, Nak?” Pria gundul, bertelanjang dada, menghadangnya. Landon gagal mengetuk pintu itu.

“Santai, Bruto. Dia hanya sedang mabuk laut.”

Dari balik pintu terdengar jeritan wanita. Landon maju. Bruto menahannya.

“Menyingkirlah, atau kau akan menyesal,” ancam Landon. ABK lain yang menyaksikan tertawa, tak terkecuali Traore.

“Lihat tubuhmu, Nak. Seperti tulang ikan! Kau cari mati?”

Landon tersenyum.

“Aku sudah mengingatkan.”

Satu sapuan telapak tangan, tak menyentuh kulit Bruto; menghempaskannya ke samping. Tawa terhenti. Ross kembali menjerit.

Landon melompat, merobohkan pintu, menyaksikan Ross yang tengah dipiting. Punggung gadis itu dibuka paksa. Permata ungu di srla belikatnya memancarkan pendar lembut.

“Demi nama Aezna! Terkutuklah kalian semua!”

Teriakan Landon bukan hanya teriakan. Energi astral yang dahsyat mengempaskan meja, kursi, buffet, rak, dan semua di ruangan itu. Kepalan tangan si pemuda mengendur, senyap meliputi jengkal lantai yang senantiasa bergoyang. Lilin dari meja makan–satu yang terakhir–menyulut api saat bertemu jubah Kapten Barbarossa.

“Ross! Kau baik-baik saja?”

Landon menghambur; mengecek nadi gadis berambut emas. Mata lentiknya sedikit membuka.

“Landon?”

“Tenanglah, Ross! Kita segera keluar dari sini!”

Dari luar kabin, puluhan ABK mengacungkan pedang dan bedil; berteriak anarkis. Landon memalingkan muka pada dinding kabin. Papan-papan kayunya rusak, pecah, meninggalkan lubang menganga menuju laut lepas.

“Bertahanlah!”

Landon menarik tubuh lunglai Ross, membopongnya. Mereka melompat ke bawah. Debur ombak menelan mereka.

***

Landon memegang erat pinggul Ross. Kekuatan physicsnya menguap cepat. Kembali dia menjadi Landon yang payah. Dan tak tahu caranya berenang.

Ross pingsan, menenggak air laut tanpa sadar. Begitu juga Landon. Hanya masalah waktu sebelum dinding-dinding air yang gelap dan berat membunuhnya.

Tapi hal itu urung terjadi. Seekor paus biru yang kebetulan lewat membuka mulutnya. Landon dan Ross ikut masuk ke dalam rongga merah yang hangat.

170516

#Ava

Berbagi Cerpen (2)

KEGILAAN DI MALAM HARI
oleh: ava bercerita
—————————————

Malam yang suram di Kota Dies. Hujan lebat turun, angin kejam meraung menumbangkan pohon, gelegar guntur tak habis-habis terdengar. Kilatan listrik dari mendung mencambuk langit kelam, meninggalkan jejak putih menyilaukan; sebentar terang lalu kembali padam. Penerangan di kota itu lumpuh. Lilin-lilin dan lampu minyak menyala bagi kebanyakan rumah, generator kecil mendengung di beberapa toko besar.

Menginjak pukul sepuluh malam, listrik belum pulih. Kegelapan kian padat saat nyala lilin dan lampu minyak dipadamkan, menyusul toko-toko besar yang mengakhiri jam buka. Kota itu kini bagai sekarat, kapan saja bisa mati; entah di mana petugas pelayanan listrik berada.

Namun ada satu pedagang makanan yang bandel. Di emperan sebuah ruko yang kala siang merupakan toko alat elektronik, ia masih menggelar dagangan: nasi kucing, wedang hangat, serta beberapa camilan.

Orang keras kepala ini tampak bosan. Bersandar pada rolling door, beralaskan tikar usang, ia memain-mainkan asap rokoknya. Lentera gantung kecil menerangi meja dagangan dalam lingkaran suram. Satu lagi kilat menyambar, si pedagang memejamkan mata, terdengar letusan memekakkan telinga.

“Gusti Allah!”

Belum juga ia membuka mata, sebuah suara berbicara.

“Bang, wedang jahenya satu.”

Sepersekian detik kelopak mata si pedagang saling menjauh, otot-otot di pelipis menegang kaku. Tanpa ia sadari, seorang pemuda kini duduk di sisi lain meja, memandanginya.

“Eh!”

“Kenapa, Bang? Seperti melihat hantu saja.”

Perlu beberapa saat bagi pria kurus berpeci miring untuk mencerna keadaan. Ia mengamati calon pelanggannya. Mata sehitam malam, rambut lurus nan kaku, hidung bengkok, sampai pipi tirus si pemuda, semua teramati.

“Bang? Halo? Kok bengong?”

Ia menelan ludah. “Ah, maaf, Mas. Pesan apa tadi?”

Pemuda berambut sebahu tampak tersinggung, memalingkan wajah, menekuri meja. “Wedang jahenya satu.”

“Si-siap!”

Sembari membersihkan gelas, ia melirik takut pada si pelanggan. Sejauh yang ia ingat, baru kali ini pemuda ini datang ke lapaknya. Dahinya berkerut saat mengambil dua ruas jahe dari atas bara api.

‘Wajahnya, pucat banget! Ih, serem!’ batinnya saat memukil jahe dengan ulek kecil. Setelah menambahkan gula dan menyiram isi gelas dengan air panas dari ceret, ia buru-buru menghantarkan minuman tersebut ke meja pelanggan.

“Ini, Mas, wedang jahenya. Masih panas!”

“Trims.”

Masih menekuri meja, si pemuda tak menoleh barang sekejap. Hal ini semakin membuat si pedagang tak nyaman. Terlihat sekali pria kurus itu seperti ingin ditelan tanah.

“Bang?”

“I-iya?”

“Sudah menikah?”

“Menikah? Sudah. Ada apa?”

“Istri Abang cantik?”

Tertegun si pedagang dengan pembuka obrolan ini.

“Ca-cantik.”

“Abang beruntung.”

“Maksudnya?”

Si pemuda meraih gelas berisi wedang jahe, menyesap permukaan yang keruh.

“Pernah terpikirkan oleh Abang tidak? Suatu ketika, istri Abang direnggut dari Abang.”

Pria berpeci miring menggaruk dagu yang ditumbuhi jenggot tipis. Ia benar-benar heran dengan obrolan ini. ‘Bocah ini gila ya?’

Bunyi pantat gelas yang dihempaskan pada meja tak ayal hampir mendorong jantung si Abang melompat keluar.

“Tapi itu bukan bagian terburuknya! Mereka mengambil Ayala, merusaknya, kemudian saat sudah bosan, dibuangnya Ayala bagai sekantong sampah!”

Si pedagang hampir terjengkang. “Si-siapa Ayala?”

“Hahahaha!”

Pria kurus pemilik lapak beringsut, yakin bahwa pelanggannya benar-benar gila.

“Lucu kan betapa Tuhan menetapkan takdir pada ciptaan-Nya?!”

Tidak ada yang tertawa. Hujan masih deras. Nyala lampu meredup.

“Jika Dia adalah Maha Pelawak, maka hidup ini adalah lelucon!”

Tepat pada saat itu, kilat memecut udara di depan teras ruko. Secepat kilat itu pergi, si pemuda menoleh. Sorot mata penuh kebencian menusuk si pedagang.

“Joker tidak diciptakan tanpa sebab. Tanpanya, setumpuk kartu remi tidak komplit. Malam ini, tidak ada joker dalam tumpukan itu. Malam ini ia di sini! Malam ini,” kata si pemuda, “akulah Sang Joker!”

Menyeringai bak serigala licik, pemuda itu menaikkan sebelah sepatunya ke atas meja, membuat barang dagangan berjumpalitan.

“Ingatlah wajah ini! Tanamkan dalam benakmu, akulah Mimpi Terburukmu!”

Si pedagang mengerut, mengigil dan gemetar.

Si Joker tampak puas. Kedua kakinya di atas tikar sekarang. Berlagak merapikan jaket parka hitam yang dikenakan, pemuda itu terkikik senang.

“Malam ini Tuhan akan tewas, jatuh dalam kubangan darah yang sama dengan para bedebah itu.”

Dari saku celana jins, keluar sepucuk pistol. Lubang pelurunya diarahkan pada dahi lelaki satunya. Telunjuk putih ada di pelatuk senjata api itu.

“Ada pesan terakhir?”

Pria berpecu hitam tak berani bernapas. Ia mencium bau kematian bersama aroma hujan. Ia melihat seringai Izrail dalam kegilaan pelanggannya.

“Hm?”
.
.
.

Dor!

#ava

Di bawah genteng bocor, 291216

Guyonan Gus Dur dan Masyarakat Kita yang Sok Keminggris

Fenomena-fenomena di bawah ini menyadarkan kita, seberapa parah tingkat ‘keminggris’ masyarakat kita:

1) Stop Humanity

Bukan editan lho itu :D

Bukan editan lho itu 😀

2) Turn Back Quran

Sablonannya itu lho :O

Sablonannya itu lho :O

Pinginnya biar keren, pakai Bahasa Inggris nulisnya. Eh, lha jebul malah salah kaprah. Makna tulisannya ke timur, yang mbuat tulisan pinginnya ke barat.(Gitu aja ada yang belajar di Jurusan Sastra Inggris dicibir: “Cuma Bahasa Inggris aja, ngapain harus kuliah?” *ketawa dalam hati)

Jadi teringat guyonan dari negarawan sekaligus kiai eksentrik yang sudah berpulang, mantan presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid. Gus Dur pernah guyon begini:

Dalam sebuah seminar beberapa tahun yang lalu Gus Dur mengungkapkan bahwa Belanda bukan sebuah negara yang besar, tidak punya modal, tidak punya pemikir-pemikir ulung, jadi mereka tidak memberikan apa-apa kepada kita, malah merampok kita habis-habisan.

Lain dengan India yang dijajah Inggris, atau Filipina yang dijajah Amerika. Negara-negara penjajah yang itu punya sesuatu yang diberikan kepada negara-negara yang dijajah, misalnya saja tentang sistim hukum yang lebih teratur, dsb.

Nah, lalu ada pemikiran gila, supaya Inggris dan Amerika memberikan sesuatu kepada kita.

Ditanya: “Bagaimana caranya?”

Dijawab: “Kita nyatakan perang melawan Inggris dan Amerika!”

Ditanya: “Lho, kenapa begitu?”

Dijawab: “Logikanya kita kan pasti kalah, jadi kita akan dijajah lagi oleh Amerikan dan Inggris.”

Diteruskan: “Masalahnya sekarang, bukannya kalau kita kalah.
Masalahnya adalah, bagaimana kalau Indonesia yang menang?”

Sumber berita:

Level Keminggris Orang Indonesia: Dari Stop Humanity Sampai Turn Back Quran

http://www.gusdur.net/id/humor/indonesia-minta-di-jajah

Rekreasi: Berbagi Cerita Pendek (1)

Cahaya Cahaya
Oleh: Rory
.
Adib berjalan tak tentu arah. Sepatu yang membungkus kakinya itu sudah sekarat; sobek, lusuh dan membuat iba. Perhentiannya mengambil tempat di bawah pohon, di emperan toko, atau di manapun itu yang bisa dipakai duduk. Sebatang, dua batang rokok kretek dinyalakannya. Berjalan, rokok, dan minum air mineral.
.
Kakinya baru benar-benar menyerah saat hampir tengah malam. Setelah kemarin tidur di SPBU–harus bernegosiasi alot dengan petugas jaganya–malam ini ia berniat bermalam di mushalla. Rumah-rumah ibadah orang muslim itu tampak hangat. Ia melihat satu, datang ke sana, menatap serambinya dan menelanjangi kaki.
.
Dari ukurannya yang kecil, ia yakin ini bukan masjid. Letaknya di tepi jalan raya, hanya dipisahkan pagar rendah. Lampu-lampu sudah dimatikan. Ia tidak melihat ada orang lain. Di bawah pandangan seekor kucing belang, ia menyandarkan tas ke sudut tembok dan ambruk ke lantai.
.
Ia tidak ingat kapan tertidur. Terbangun oleh tepukan di kakinya, ia membuka mata. Seorang pria menjulang di sisinya. Sulit meneliti wajahnya dengan penerangan yang ada. Samar-samar ia mengenali rambut panjang di bawah dagu pria itu. Kupingnya menangkap kata-kata berikut:
.
“….dipikir ini penginapan apa? Ini bukan tempat buat tidur! Ayo, bangun! Bangun! Pergi! Pergi!”
.
Adib berusaha menjelaskan. Bahwa ia dicopet, dompetnya hilang, lowongan kerja di kota, tes tertulis di salah satu hotel tadi siang, tidak tahu jalan pulang, uang tinggal sepuluh ribu, luntang-lantung seharian, lelah, mohon kebaikannya, bermalam sekali ini saja. Ia berusaha tampak memelas, suaranya bergetar.
.
Saat ia berjalan di bawah malam yang dingin, kembali memakai sepatu buruk rupanya, pemuda itu tidak tahu apa yang dirasakannya. Apakah itu marah, jengkel, atau sedih. Mungkin campuran ketiganya. Seperti gado-gado basi. Ah, ia teringat makanan terakhir yang masuk ke perutnya adalah sarapan pagi. Sekarang sudah pagi lagi.
.
Jam satu, ia menimbang-nimbang. Berdiri di bawah tiang listrik, lampu penerangan jalan lima langkah darinya, gereja dan SPBU di depan matanya. Ia bisa saja mencoba peruntungan, mencoba ke SPBU, berdebat dengan penjaganya, dan mungkin bisa dibiarkan tidur. Dianggap gelandangan pun tidak masalah.
.
Tapi kakinya justru membawa ia ke tempat lain. Ia memasuki halaman gereja. Gerimis menghambur dari langit. Dengan buku jari ia mengetuk.
.
Merapatkan jaket tipisnya, ia kembali mengetuk tergesa. Ia hanya ingin dibiarkan masuk, tidak kebasahan, dan tidur beberapa jam. Ketika ia mulai ragu, apakah ada yang mendengar ketukannya yang tak tahu waktu, pintu itu membuka ke dalam. Sepasang mata berkacamata memandanginya. Bukan dengan pandangan curiga seperti penjaga SPBU, atau menusuk seperti lelaki di mushalla, tetapi seperti seorang ayah memandang anaknya. Tenggorokannya kering.
.
Belum juga ia berkata apa-apa, orang itu sudah membuka pintu. Adib mendapati dirinya digiring masuk, dihadiahi senyum tulus dan selamat dari gerimis yang kini menjelma hujan lebat. Tuan rumahnya berjalan di depan, ia mengekor, dan sampai di sebuah kamar berdinding putih. Sebuab lampu redup menggantung di langit-langit. Ada sebuah ranjang, meja dan kursi, serta lemari sederhana.
.
“Duduklah! Ijinkan saya ke belakang sebentar,” kata tuan rumah.
.
Adib duduk di tepi ranjang, kaki menggantung lemas. Tasnya sudah lepas dari punggung, melorot ke lantai. Ia menghela napas, merasa berterima kasih. Rasa kantuk yang datang, ia coba tahan.
.
Sedang asyik menebak usia orang yang membiarkannya duduk di ranjang berseprai putih, Adib dikejutkan dengan hadirnya kembali orang itu dengan sepiring nasi, lauk ikan dan tempe, serta segelas susu. Matanya melebar, bertanya-tanya dari mana makanan ini datangnya. Dan untuk… apa?
.
“Makanlah! Mukamu pucat sekali. Pasti lapar kan?”
.
Ia hendak menolak. Namun melihat senyum bersahaja pria beruban di depannya, ia malu sendiri. Mungkin lebih baik tidur di SPBU saja.
.
“Ayo, silakan! Adanya hanya ini.”
.
Maka, ia bertindak patuh. Duduk di kursi, memegang garpu dan sendok, menyuapi diri sendiri. Air mata mengaliri pipi, panas. Ia bersyukur orang itu membiarkannya sendiri. Menelan malu dan menekan perasaan bersalah, ia menandaskan hidangan yang disediakan.
.
Belum pernah butiran nasi terasa semanis itu.
.
*Kota Atlas, 02 Oktober, di Awal Pagi.

Pahitnya Hidup

Kualifikasi Piala Dunia 2018 menyuguhkan cerita beraneka rasa. Mulai dari haru dan bangga yang meliputi tim-tim yang berhasil lolos, sampai rasa kecewa dan sedih dari tim-tim yang tersingkir.

Untuk kategori pertama, euforia akan berlaga di Rusia terutama dirasakan oleh Islandia dan Panama. Keduanya menjadi tim debutan di turnamen internasional paling bergensi tahun depan itu. Sampai-sampai Presiden Panama, menetapkan hari Rabu menjadi Hari Libur Nasional gara-gara hasil yang diraih timnasnya pada hari yang sama. Ada juga cerita mengenai penghormatan yang Mesir berikan pada Mohammed Salah dengan menamai salah satu madrasah di Negeri Fir’aun itu dengan namanya.

Kategori kedua tak urung juga menjadi perhatian dunia. Tim-tim besar semacam Wales, Belanda dan Chile, terpaksa harus mengakhiri impian berlaga di Rusia. Dari Wales, performa mega bintang Real Madrid, Gareth Bale yang sering dirundung cedera dijadikan kambing hitam oleh banyak kalangan atas kegagalan timnasnya menembus kualifikasi. Negeri Kincir Angin juga harus menelan pil pahit meski di laga pamungkas menumbangkan Swedia dua gol tanpa balas. Margin gol mereka kurang banyak untuk memenuhi syarat hitung-hitungan bisa lolos ke play-off, walhasil Arjen Robben–yang mencetak brace–memutuskan pensiun tak lama setelah laga itu berakhir. Dan cerita paling mengenaskan datang dari timnas Chile.

Adalah bintang Chil–yang juga pemain Arsenal–,Alexis Sanchez, yang harus menanggung beban kesedihan paling berat. Dimulai dari tidak berlaganya Meriam London di UEFA Champions League, gagalnya transfer sang pemain di bursa transfer musim panas, tidak masuknya dirinya ke dalam nominee Ballon d’Or 2017, lalu yang terakhir tersingkirnya Chile lebih awal dari gelaran Piala Dunia 2018. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bukan, sudah tertimpa tangga tidak ada yang menolong pula! Orang-orang malah sibuk mengambil potret dirinya yang tertunduk lesu di lapangan hijau. Alexis, oh, Alexis. Malang benar nasibmu.

Yang sabar, Bang!

Yang sabar, Bang!

Tapi Alexis Sanchez adalah laki-laki sejati. Rentetan kegagalan ini tidak akan membuatnya pensiun dini tentunya, kan? Apalagi rumor yang beredar, pada bursa transfer Januari dia akan hengkang dari Ibu Kota Inggris. Banyak klub besar yang akan senang menampungnya. Benar kan, Bang Alexis?

Jadi, jika kamu menganggap hidupmu penuh masalah dan rasanya ingin menyerah saja, tengoklah Alexis Sanchez!

Haus Pengakuan?

Butuh pengakuan. Semua orang begitu. Benarkah? Hmm… mungkin? Tapi apa harus dengan menghalalkan segala cara?

Ngisin-ngisini!

Ngisin-ngisini!

Astaga

Astaga

Kalau sudah seperti itu, integritasmu mana? Malu-maluin aja.

*sumber berita:

http://www.thejakartapost.com/life/2017/10/10/what-you-need-to-know-about-now-infamous-scientist-dwi-hartanto.html?utm_campaign=Echobox&utm_medium=Social&utm_source=Facebook

Dwi Hartanto, Kebohongan, dan Kebutuhan Akan Pengakuan

Enak mana, baca novel terjemahan atau aslinya? (2)

Legendaris

Legendaris

Beli di Book Fair. Murah :D

Beli di Book Fair. Murah 😀

Umumnya, kita merasa perlu waspada terhadap sesuatu yang asing. Kewaspadaan ini bahkan kadang menjelma ketakutan. Rasa takut yang lahir dari sebuah ketidak mengertian.

Lalu, begitu jugakah yang terjadi pada novel-novel impor? Bagi saya, ya! Membaca novel dalam bahasa asing atau dalam pengalaman saya dalam bahasa Inggris, awalnya saya takut! Berbagai tanya mencuat; Kemampuan bahasa Inggris saya kan memprihatinkan, apa bisa mengerti nanti kalau baca novel bahasa Inggris? Bisa nggak ya? Perlu kamus saat membaca dong? Nanti kalau malah bingung sendiri gimana? Aduh! Aduh! Emaaak!

Saran saya: jangan lebay seperti saya. Kita sederhanakan saja masalahnya. Tarik solusi yang paling simpel: baca saja! Soal paham tak paham, perbendaharaan kosa kata bahasa asing, jangan dibahas dulu!

Dan itu yang saya lakukan pada akhirnya saat membaca kumpulan cerita pendek Edgar Allan Poe. Bagaimana hasilnya? Bingung! Hahaha, tapi itu sepadan dengan pengalaman mencoba!

Selanjutnya saat ada diskon besar-besaran di Gramedia Pandanaran, saya menjumpai dua rak penuh buku-buku impor. Saya beritahu: tidak ada buku di situ yang tipis! Karena ya, memang itu rak novel.

Liur saya menetes saat memeriksa novel-novel di sana. Ada banyak nama-nama penulis besar yang saya jumpai di sampul-sampulnya. Melihat harga, saya semakin geregetan. Murah! (Namanya juga diskon! :D)

Saat itu yang saya takuti terutama adalah ini: apakah saya bisa menyelesaikan membaca novel setebal ini? Dengan niat menantang diri sendiri, akhirnya saya jatuh hati pada buku tebal karya Stieg Larsson. Buku berjudul The Girl Who Kicked the Hornet Nest ini adalah seri ketiga dari Millenium Trilogy. Kebetulan saya sudah selesai membaca dua seri pertama (dalam bahasa kita tercinta, Indonesia 🙂 ). *Meski bahasa asli novel ini adalah bahasa Swedia, esensi dari maksud saya jelas dan tak berubah

Lima hari, waktu yang saya butuhkan. Benar! Saya selesai membacanya dalam kurun waktu itu. Pertanyaannya: paham ngga? Dengan sedikit jumawa saya jawab, “Paham!” Yah, memang paham sih. Garis besarnya! Hahaha

Jadi tidak ada ruginya membaca novel dalam bahasa Inggris, meski vocabulary kita masih minim. Karena sembari membaca, kita bisa juga belajar lho! Penggunaan grammar, idiom, dan tentunya tambah vocab!

Selain bisa membantu diri tidak menangisi status ‘single’, membaca novel dalam bahasa Inggris ini juga terbukti menjadi rekreasi tersendiri. Ibaratnya, kita memasuki bagian dunia yang baru dan terasa asing bagi kita. Singkat kata, membaca itu seperti berpetualang. Kalian akan terkesima dengan apa yang mungkin kalian temukan!

Kesimpulan akhir dari saya, membaca novel terjemahan ataupun dalam bahasa aslinya itu sangat menyenangkan! Mari membaca! 😀

Enak mana, baca novel terjemahan atau versi aslinya?

Beli di Book Fair. Murah :D

Beli di Book Fair. Murah 😀

Legendaris

Legendaris

Membaca novel menjadi salah satu aktivitas yang menyenangkan. Selain dapat dilakukan guna membunuh waktu, banyak informasi dan pengalaman yang mengaliri pembacanya. Meski tidak semua orang suka membaca novel, populasi pembaca novel yang ada di masyarakat sendiri cukup tinggi.

Banyak genre novel yang beredar di pasaran. Mulai dari teenlit, romansa, sejarah, fantasi hingga fiksi ilmiah. Setiap novel memiliki pembacanya masing-masing. Dan sebagai salah satu karya sastra, novel mutlak menjadi bagian dari Dunia Literasi.

Sebagai pembaca, masing-masing dari kita akan memiliki penilaian subjektif terhadap apa yang dibaca. Satu novel bisa dianggap bagus oleh satu kalangan, namun akan dipandang kurang layak oleh kalangan lain. Hal ini menjadikan Dunia Literasi kian bermakna dan kaya rasa.

Terlepas dari iklim literasi tanah air tercinta yang sempat ‘geger’ beberapa saat lalu–terima kasih kepada Tere Liye dan kisah pembelaannya perihal royalti penulis novel–banyak novel tanah air yang berkualitas bagus. Novel-novel ini sering kita jumpai di rak-rak buku khusus di book store. Biasanya berlabel ‘best seller’.

Lalu di samping itu, ada pula novel-novel karya penuli asing yang masuk ke dalam negeri. Novel-novel ini ada yang datang dalam versi aslinya–kebanyakan berbahasa Inggris–maupun dalam bentuk sudah diterjemahkan. Karena saya menyukai genre fantasi dan thriller, karya-karya dari luar ini tak pernah kehilangan pesonanya. Godaan dari sampul mengkilap nan atraktif sangat sulit ditahan. Apalagi saat penulisnya merupakan idola.

Dari sekian banyak novel fantasi dan thriller yang membanjiri tanah air, sebuah pertanyaan meluap ke permukaan. Lebih pilih mana, baca novel terjemahan atau aslinya? Pertanyaan yang… agak sulit.

Awalnya, karena kemampuan bahasa Inggris yang masih ‘cethek’, saya takut untuk menjawab. Kalau saya menjawab, “Enak yang terjemahan dong! Mudah dimengerti!”, rasanya kok seperti membohongi diri sendiri.

Karena apa? Karena tidak semua novel terjemahan itu mudah dimengerti. Benar, bahasanya sudah bahasa Indonesia. Namun fakta bahwa pemahaman dan informasi yang seharusnya dapat kita serap, menjadi terganggu gara-gara terjemahan yang–maaf–kurang membumi Indonesia, ya payah sekali.

Beda halnya kalau pengalih bahasa yang mengerjakan novel terjemahan ini mengerti apa tugasnya. Hasilnya bisa ciamik. Serasa bukan novel terjemahan! Ambillah contoh dari serial The Maze Runner, lalu dibandingkan dengan Bartimaeus Trilogy. Beda pengalih bahasa, beda kualitas.

(Jadi, tips untuk yang suka membaca novel terjemahan: harap bersiap merasakan taste yang ‘mungkin beda’ atay bahkan dibuat pusing oleh karya terjemahan yang ‘kurang ramah di lidah baca’ Anda sekalian. Atau berdoalah, novel terjemahan yang Anda baca tidak memusingkan kepala.)

Lalu, bagaimana dengan novel orisinil a.k.a dalam bahasa asli atau bahasa Inggris? Nantikan di episode selanjutnya! 😉

Mau yang Unik?

Coba, di mana kalian bisa menemukan sebuah event yang di dalamnya ada pengajian, pertunjukkan kesenian dan hiburan kaum muda? Jawabannya ada di Pondok Pesantren Nurul Huda, yang beralamat di Plosorejo, Gondang, Sragen. Kemarin Sabtu (7/0/2017) merupakan peringatan hari jadi pondok pesantren ini yang ke-32.

Upacara Pembukaan & Pertunjukkan Kesenian Lokal

Upacara Pembukaan & Pertunjukkan Kesenian Lokal

Pagelaran Wayang Kulit

Pagelaran Wayang Kulit

Tari Sufi

Tari Sufi

Pagelaran Wayanf Kulit di Panggung Pati Geni

Pagelaran Wayanf Kulit di Panggung Pati Geni

*catatan: untuk panggung orkes melayu dan rock-reggae, saya tidak punya dokumentasi karena memang tidak berkesempatan ke sana

Masyarakat dipersilakan hadir. Bebas, tanpa biaya. Di area pondok pesantren dan desa sekitarnya didirikan panggung-panggung hiburan dan pasar malam. Tak ayal, ribuan manusia menyemut sejak pagi saat acra dimulai hingga dini hari saat penutupan.

Dipimpin oleh beliau Abah Syarif Hidayatullah, pondok pesantren ini mengusung misi: mewujudkan islam yang rahmatan lil ‘alamin, islam yang laku utomo nguntungake wong liyo.

“Indonesia kapan ya?”

Pagi ini, beranda sosial media saya dipenuhi berita hasil pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018. Tim-tim yang akan berangkat ke Rusia semakin banyak seiring kualifikasi yang hampir tiba di akhir perjalanan. Dan salah satu yang menarik adalah lolosnya Islandia ke perhelatan Piala Dunia 2018. Mereka mengamankan satu slot di Rusia. Asal tahu saja, ini kali pertama mereka akan berlaga di ajang empat tahunan tersebut.

Wih

Wih

Pertama kalinya!

Pertama kalinya!

Negara kecil...

Negara kecil…

Negara berpenduduk kurang dari 1 juta jiwa ini akan mentas di hadapan mata penonton seluruh dunia. Indonesia kapan ya? Jadi lesu kalau ingat berita korupsi, melihat polah pecicilan anggota DPR, demo berjilid-jilid yang massanya jutaan, dan kekalahan timnas di ajang-ajang resmi. Yah semoga saya belum mati saja saat Timnas Indonesia menembus Piala Dunia nanti. Entah tahun 20xx berapa, patut ditunggu!