Penerapan Supply Chain Management Pada Perusahaan Adidas

MAKALAH
PENERAPAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
PADA PERUSAHAAN ADIDAS

Dosen Pengampu : Asih Rohmani, M.Kom
Mata Kuliah : Manjemen Rantai Pasok

logo

Disusun Oleh :

                   Serlin Adistin Octaviana

A12.2017.05808

A12.6503

 

SISTEM INFORMASI

FAKULTAS ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

SEMARANG

2019

Daftar Isi

 

Penerapan Supply Chain Management Pada Perusahaan Adidas

 

Daftar Isi…………………………………………………………………….2

Kata Pengantar…………………………………………………………..3

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………….4

1.1 Latar Belakang………………………………………………………4

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………5

1.3 Tujuan Masalah…………………………………………………….5

BAB 2 PEMBAHASAN……………………………………………………6

2.1 Profil Perusahaan Adidas……………………………………………..6

2.1.1 Visi dan Misi Perusahaan Adidas………………………………………..7

2.2 Sejarah Perkembangan Perusahaan Adidas……………………………..8

2.2.1 Strategi Pemasaran Perusahaan Adidas…………………………….9

2.3 Penerapan Supply Chain Management pada Perusahaan Adidas…11

2.4 Decoupling Point pada Perusahaan Adidas…………………….13

BAB 3 PENUTUP……………………………………………………………..15

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………….15

3.2 Saran………………………………………………………………………….15

Daftar Pustaka ………………………………………………………………..16

 

 

    Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Penulisan makalah ini diajukan untuk memenuhi syarat yang diberikan oleh dosen mata kuliah Manajemen Rantai Pasok  yaitu Ibu Asih Rohmani, M.Kom.

            Saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Asih Rohmani, M.Kom. selaku dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Rantai Pasok yang telah membimbing saya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan semaksimal mungkin. Tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.

            saya menyadari bahwa makalah ini memiliki kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu kritik dan saran sangat saya harapkan untuk kesempurnaan tugas-tugas selanjutnya. Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun bagi pembaca

 

Semarang ,   Oktober 2019

Serlin Adistin Octaviana

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

    Proses manajemen rantai pasok atau Supply Chain Management (SCM) telah menjadi komponen utama dari strategi persaingan untuk meningkatkan produktivitas organisasi dan merealisasikan tujuan dari perusahaan yang lebih baik seperti peningkatan daya saing, perbaikan layanan pelanggan dan peningkatan profitabilitas.

   Menurut Sarode supply chain adalah sebuah proses yang terintegrasi di mana aliran material dan informasi terdistribusi di dalam dan diantara beberapa entitas antara lain suppliers, manufacturers, distributor, retailer dan customers seperti ditunjukkan pada gambar 1.1. Tujuan utama dari supply chain management adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan/customer yang lebih efisien.

11

                            Gambar 1.1

   Perusahaan harus memanfaatkan supply chain dan sumber daya yang dimiliki untuk membawa produk dan layanan ke pelanggan secara cepat, dengan biaya serendah mungkin, dengan produk yang sesuai dan nilai terbaik secara keseluruhan

   Ukuran kinerja menjadi hal yang penting dalam menjalanlan supply chain secara efektif dan efisien. Pengukuran kinerja supply chain memiliki peran yang penting dalam mengetahui kondisi perusahaan, apakah mengalami penurunan atau peningkatan serta perbaikan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja supply chain. Mengukur kinerja supply chain dapat memfasilitasi pemahaman yang lebih besar dan meningkatkan kinerjanya secara keseluruhan.

   Di Indonesia sepatu Adidas, umum di gunakan oleh semua kalangan untuk di pakai olah raga dan gaya hidup bersosial, citra merek Adidas yang dikenal kuat, desain menarik dan digunakan oleh model atau bintang dunia juga mempengaruhi konsumen untuk menggunakan produk sepatu Adidas yang sudah di kenal banyak orang. Pada tahun 1996, Adidas menjadi produsen bagi 6.000 atlet di 33 negara dalam Olimpiade. Atlet-atlet yang berhasil meraih 220 medali, termasuk 70 medali emas. Dengan hal tersebut membuat penjualan produk Adidas semakin bertambah sebesar 50%. Gaya hidup jaman sekarang yang lebih mementingkan fashion mempengaruhi setiap konsumen baik itu remaja, orang dewasa atau orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas.

   Teknologi informasi menjadi salah satu pendorong bagi terciptanya integrasi rantai pasokan termasuk juga makin kompleksnya permintaan konsumen, makin kompetitifnya kompetisi global dan peningkatan keinginan perusahaan untuk menjadi perusahaan yang inovatif dan mampu menjadi yang pertama dalam mengenalkan produk baru sesuai kebutuhan pasar. Untuk meningkatkan keinginan perusahaan ini penulis akan  membahas penerapan Supply Chain Management pada perusahaan Adidas.

1.2 Rumusan Masalah
  1. Bagaimana profil mengenai visi dan misi pada perusahaan Adidas?
  2. Bagaimana sejarah perkembangan dari perusahaan Adidas?
  3. Bagaimana penerapan Supply Chain Management pada Perusahaan Adidas?
  4. Bagaimana Decoupling Point pada perusahaan Adidas?
1.3 Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui profil dan visi misi perusahaan Adidas.
  2. Untuk mengenal bagaimana sejarah perkembangan perusahaan Adidas.
  3. Untuk mengetahui bagaimana penerapan Supply Chain Management pada perusahaan Adidas.
  4. Untuk mengetahui Decoupling Point pada perusahaan Adidas.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Profil Perusahaan Adidas

   Adidas-Salomon AG. atau yang lebih dikenal dengan Adidas merupakan merupakan perusahaan yang memproduksi sepatu dan beberapa perlengkapan olahraga lain yang berpusat di Herzogenaurach, Jerman. Perusahaan ini pertama kali didirikan oleh Adolf (Adi) Dassler pada tanggal 18 Agustus 1949. Nama Adidas sendiri datang dari nama pendirinya. Produk Adidas pertama kali diluncurkan pada tahun 1950.

   Adidas mempunyai komitmen untuk memproduksi peralatan olahraga untuk beberapa atlet dalam olahraga “pinggiran”, seperti lompat jauh yang atletnya bernama Dick Fosbury melompat dengan memakai sepatu buatan Adidas. Dalam Final Piala Dunia tahun 1970-an, pada saat Jerman mengalahkan Belanda pada partai akhir dengan kedudukan 2-1, pemain Jerman Franz Beckenbauer memakai Adidas pada saat acara penobatan.

   Sepeninggal Adi Dassler pada tahun 1980-an, istrinya Kathe dan anaknya kemudian mengambil alih perusahaan. Pada tahun 1990-an, di bawah kepemimpinan CEO Robert Louis-Dreyfus, Adidas semakin berkembang menjadi sebuah perusahaan manufaktur yang berbasis penjualan perusahaan. Seiring dengan hal tersebut, pada tahun 1995 Adidas mulai “go public” dengan mencatatkan sahamnya untuk pertama kali di Bursa Efek Frankfurt dan Paris.

Pada tahun 1996, Adidas menjadi produsen bagi 6.000 atlet di 33 negara dalam Olimpiade. Atlet-atlet tersebut kemudian berhasil meraih 220 medali, termasuk 70 medali emas. Dengan hal tersebut membuat penjualan produk Adidas semakin bertambah sebesar 50%.

   Pada bulan Desember 1997, perusahaan ini mengakuisisi Salomon Group dengan merek TaylorMade, Mavic dan Bonfire. Dengan hal tersebut, perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi adidas-Salomon AG. Pada tahun 2000 dengan manajemen baru, perusahaan semakin berusaha untuk terus mengembangkan perusahaan dengan program Pertumbuhan dan Efisiensi.

   Salomon Grup yang terdiri dari Salomon, Mavic, Bonfire, Cliché dan Arc’Teryx kemudian dijual ke Amer Sport pada bulan Oktober 2005. Sehingga Adidas Grup terfokus untuk produksi sepatu atletik dan pakaian olahraga serta kategori golf yang semakin tumbuh. Dengan hal tersebut, nama perusahaan kemudian berganti kembali menjadi adidas AG pada bulan Mei 2006.

    Dengan penutupan transaksi Reebok yang terjadi pada tanggal 31 Januari 2006 menandai babak baru dalam bisnis adidas Grup. Adidas Grup kemudian mengakuisisi merek sepatu terkemuka di dunia tersebut. Dengan penggabungan dua merek sepatu terkenal di dunia yang sudah teruji kualitasnya tersebut semakin memberi keuntungan bagi perusahaan sendiri.

   Pada bulan November 2010, adidas Grup meluncurkan rencana bisnis strategis 2015 yang bernama “Route 2015”. Rencana ini merupakan rencana yang paling komprehensif yang pernah dibuat yakni menggabungkan semua merek, cabang penjualan, dan fungsi Grup secara global. Tak berhenti sampai di sana, pada tanggal 3 November 2011, perusahaan kembali mengakuisisi Five Ten yang merupakan pelopor merek dalam pasaran luar untuk olahraga luar ruangan. Adidas tidak pernah berhenti memberikan terobosan terbaru untuk produknya. Pada tahun 2013 adidas mengeluarkan produk terbarunya yang revolusioner. Produk tersebut kemudian diberi nama Energy Boost yang menggunakan teknologi bantalan yang menyediakan pengembalian energi tertinggi dalam berlari. Produk ini sangat inovatif khusus buatan adidas untuk  memanjakan konsumennya.

2.1.1 Visi dan Misi Perusahaan Adidas
  2.1.1.1 Visi Perusahaan Adidas

Menjadi pemimpin global dalam industri barang olahraga dengan merek yang dibangun di atas hasrat untuk olahraga dan gaya hidup olahraga.

   2.1.1.2 Misi Perusahaan Adidas
  1. Kami adalah pemimpin inovasi dan desain yang berupaya membantu atlet dari semua tingkat keterampilan mencapai kinerja puncak dengan setiap produk yang kami bawa ke pasar.
  2. Kami berfokus pada konsumen dan oleh karena itu kami terus meningkatkan kualitas, tampilan, rasa, dan citra produk kami dan struktur organisasi kami untuk mencocokkan dan melampaui harapan pelanggan dan memberikan mereka nilai tertinggi
  3. Kami adalah organisasi global yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan, yang merangkul kreativitas dan keragaman, dan secara finansial memberikan penghargaan bagi karyawan dan pemegang saham kami.
  4. Kami berdedikasi untuk secara konsisten memberikan hasil keuangan yang luar biasa.

    2.2 Sejarah Perkembangan Perusahaan Adidas

    Logo Adidas yaitu gambar visual tiga balok miring yang menanjak. Gambar tanjakan diartikan sebagai rintangan yang akan selalu ada dan akan selalu semakin tinggi, sehingga harus pantang menyerah untuk mengatasinya.

    adidas   Perusahaan Adidas Didirikan di Kota Herzogenaurach, Jerman di tahun 1920 oleh dua bersaudara Adolf (Adi) Dassler dan Rudolph Dasslerdi ruang cuci milik Ibunya. Waktu itu Adi Dassler membuat proyek kecil-kecilan dengan membuat sepatu olahraga. Karena tingginya kualitas sepatu yang dihasilkannya, akhirnya bisnis kecil-kecilan tersebut mulai membuahkan hasil. Pada tahun 1924, Adi Dassler dan saudaranya Rudolf Dassler mendirikan ‘Dassler Brothers OGH’ yang nantinya menjadi cikal bakal Adidas sekarang.
    Komitmen Adi Dassler pada kualitas, membawa Dassler Brothers sebagai produsen sepatu berkualitas tinggi, sehingga sering dipakai oleh atlit-atlit legendaris masa itu untuk Olimpiade. Puncak keterkenalan sepatu Dassler Brother adalah ketika
    Jesse Owen menjadi atlit paling sukses pada Olimpiade Berlin pada tahun 1936 dengan mengenakan sepatu buatan Dassler.

    Walaupun berbagai kemajuan yang diraih, pada 1948 konflik antara Dassler bersaudara berakibat pada pecahnya perusahaan mereka. Adi Dassler menjalankan sendiri perusahaan, mengambil nama kecilnya “Adi” dan mengkombinasikannya dengan potongan nama belakangnya sehingga menjadi “adidas”, ia pun mendaftarkan logo 3 strip sebagai trademark dari adidas. Sedangkan saudaranya Rudolph berpindah ke bagian lain dari kota itu dan mendirikan perusahaan olahrga miliknya sendiri.

    Pada tahun 1971 Muhammad Ali dan Joe Frazier yang menjadi icon olahraga tinju pada saat itu, sudah menggunakan produk adidas. Pada Olimpiade Munich 1972 1.164 dari 1.490 atlet internasional menggunakan adidas. Sehingga pada tahun 70-an adidas mencapai masa jayanya. Setelah krisis pada awal 80-an, terutama karena berjayanya Nike dipasar internasional, adidas berhasil mengembalikan pamornya pada tahun 1986 ketika Run D.M.C, sebuah grup rap dari New York, membuat lagu yang berjudul “My Adidas”, dan sekaligus mempopulerkan sepatu adidas yang mereka pakai tanpa menggunakan tali. Hal tersebut menjadi gaya tersendiri yang banyak ditiru oleh fans-fans mereka.

    Pada decade 90-an terutama di AS dan Eropa berkembang pikiran bahwa generasi muda cenderung menghindari apapun yang orang tua mereka pakai, termasuk dalam urusan sepatu. Mereka menghindari pemakaian nike dan reebok, yang dulu dipakai oleh orang tua mereka. Sehingga barang-barang produksi adidas (sepatu, jaket, dll) yang sudah berumur 20 tahun-pun tiba-tiba menjadi barang koleksi yang mahal harganya dan dicari-cari oleh banyak orang (coba deh liat-liat barang adidas vintage di ebay). Hal ini pun dimanfaatkan oleh adidas untuk memproduksi dan mengeluarkan kembali (re-issue) beberapa model sepatu populernya (seperti adidas rom, rekord, athen, dublin, dll). Hal ini mengangkat status adidas itu sendiri, dari sekedar produk olahraga menjadi semacam lambang gaya hidup yang baru. Saat ini, Adidas memiliki tiga brand anak :

    1. The Originals Adidas yang dikenal sebagai Heritage Line
    2. Adidas Performance
    3. Produk untuk atlit kelas atas, dan Adidas Y-3-yang merupakan kolaborasi dari olahraga dan fashion dengan desainer Yohji Yamamoto.

      2.2.1 Strategi Pemasaran Perusahaan Adidas

      Marketing mix merupakan suatu  strategi pemasaran yang banyak digunakan oleh perusahaan. Dengan menerapkan marketing mix pada sebuah perusahaan bertujuan mendapatkan profit yang maksimum. Salah satu strategi pemasaran dalam marketing mix ialah 4P, yaitu Product, Price, Place, Promotion.

      Berikut analisis strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan Adidas menggunakan teori marketing mix 4P :

      1. Product

      Produk utama Adidas tetaplah sepatu olahraga. Disamping itu Adidas juga hadir dalam bentuk aksesoris dan perlengkapan olahraga seperti t-shirt, jaket, sweatshirts, dan lainnya. Sedangkan anak perusahaan Adidas juga memiliki produk utama mereka. Reebok berfokus pada sepatu olahraga mereka. Rockpot lebih spesialis pada outdoor footwear, produsen baju olahraga beserta aksesorisnya dan Taylor Made berfokus pada baju untuk pemain golf dan perlengkapannya. Adidas selalu memberikan inovasi – inovasi terbaru pada setiap produknya. Produk – produk Adidas sendiri memiliki kualitas yang bagus dan berkelas, sehingga membuat para pelanggannya merasa bangga dapat membeli dan menggunakannya.

      1. Price

      Harga yang ditawarkan Adidas cukup merogoh kocek karena segmentasi pasar mereka adalah untuk kalangan menengah keatas. Adidas membandrol harga yang cukup stabil. Jarang sepatu dengan logo tiga garis ini menurunkan harga mereka. Apalagi untuk produk yang baru diperkenalkan kepada pasar yang memiliki desain yang unik dan jumlah yang terbatas, Adidas menggunakan strategi skimming price, dimana Adidas mematok harga setinggi-tingginya. Perusahaan ini juga meyakini bahwa dengan harga yang tinggi, berarti kualitas yang diberikan pun juga mumpuni.

      1. Place

      Penjualan produk – produk Adidas tidak selalu bisa ditemui disetiap toko. Adidas memiliki outlet eksklusif sendiri yang hanya menjual produk Adidas dan Reebok. Selain di outlet Adidas sendiri, produk-produknya juga terdapat pada multi-brand outlet, seperti Sportstation. Penjualan secara online pun dilakukan oleh perusahaan asal Jerman ini melalui website resmi Adidas. Hal tersebut dilakukan agar harga dan segmentasi produk tetap terjaga sebagai barang prestige dan branded.

      1. Promotion

      Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan Adidas dalam mempromosikan produk-produknya. Dimulai dari penggunaan sepatu olahraga oleh atlet sepakbola ternama seperti Lionel Messi, Ronaldinho, dan beberapa atlet ternama lainnya. Selain itu dengan menjadi sponsorship tim sepakbola terkenal, mengontrak atlet – atlet olahraga terkenal untuk menjadi brand ambassador. Oleh karena itu, Adidas banyak disebut sebagai “Sepatu-sepatu para Pemain Bola”. Promosi menggunakan media massa tidak luput dari strategi pemasaran mereka. Menggelar potongan diskon pada momen-momen khusus pun menjadi daya tarik konsumen pula.

      2.3 Penerapan Supply Chain Management pada Perusahaan Adidas

      Supply Chain Management bertujuan untuk penyerahan produk secara tepat waktu demi memuaskan pelanggan, mengurangi biaya, dan memuaskan kegiatan perencanaan distribusi. Secara Keseluruhan, komponen rantai pasokan ini adalah fungsi pembelian, inbound logistic, produksi, distribusi yang meliputi outbound logistic dan pemasaran, dan reserve logistic. Perusahaan Adidas melakukan penerapan Supply Chain Manajemen dengan tujuan supaya produk yang dihasilkan terdistribusi dengan baik.

      Saluran distribusi disesuaikan dengan target pasar adidas. Target pasar yang difokuskan adidas dari kalangan atlet dan artis. Target audience sneakers adidas adalah kaum milenial umur 18-25 tahun pencinta streetwear.Desain adidas yang tidak habis dimakan zaman. Adidas mendesain produk produk mereka dengan desain klasik sehingga cocok dipakai oleh siapapun dan kapan saja.

      Adidas original dikirim langsung dari Jerman sehingga mempengaruhi harga jual adidas yang cukup tinggi. Selain itu harga produk adidas yang tinggi dipengaruhi oleh biaya distribusi pembelian dari pemasok (asia), distribusi kepada retail di berbagai negara serta pemasaran dari jasa atlet dan artis dunia. Untuk pendapatan adidas sendiri hanya sebesar 4,1 persen lebih kecil dibandingkan kompetitornya, Nike sebesar 10,7 persen.

      Untuk menciptakan produk yang dihasilkan terdistribusi dengan baik perusahaan ini menerapkan Supply Chain Management pada perusahaan adidas. Supply Chain Management iru sendiri adalah  pengelolaan semua proses untuk merancang, manufaktur operasi, koordinasi, dan pengendalian, layanan, dan sistem distribusi. Jadi dapat disimpulkan bahwa Supply Chain Management adalah proses alur data dari supplier hingga ke konsumen. Berikut adalah Supply Chain Mangement perusahaan Adidas.

      scm

      Gambar 2.2  Supply Chain Managemen pada Perusahaan Adidas

      Gambar diatas merupakan struktur rangkaian supply chain dari Perusahaan Adidas mulai dari hulu (upstream) hingga hilir (downstream). Proses untuk membuat sepatu, sebuah pabrik sepatu memerlukan bahan bahan yang di perlukan dari para pemasok. Untuk memenuhi kebutuhan dalam memproduksi sepatu adidas hanya ada 4 pemasok diantaranya yaitu:

      1. Pemasok benang
      2. Pemasok karet
      3. Pemasok kain
      4. Pemasok busa

       

      Pemasok benang mendapat benang dari penghasil benang yaitu perkebunan kapas. Pemasok karet mendapat karet dari penghasil karet yaitu perkebunan karet. Pemasok kain mendapat kain dari penghasil benang, dimana penghasil benang mendapat benang dari perkebunan kapas. Pemasok busa mendapat busa dari penghasil busa.

      Sedangkan, Industri kardus dan kertas mendapat kardus dan kertas dari penghasil kardus dan kertas yaitu hutan. Di SCM ini terdapat 4 pemasok, yaitu pemasok benang, pemasok karet, pemasok kain dan pemasok busa. Kemudian 4 pemasok tersebut memberikan pasokanntya ke gudang bahan baku yang selanjutnya akan dikirim ke pabrik pembuatan sepatu untuk membuat sepatu. Setelah sepatu sudah selesai maka sepatu yang sudah jadi dikirim ke bagian pengujian sepatu untuk diuji apakah sepatu yang dibuat sudah sesuai standar atau belum.

      Setelah itu, terdapat industri kardus dan kertas yang diperlukan untuk membuat kemasan (kardus) pada sepatu. Industri kardus dan kertas tersebut menyerahkan bahan baku mereka berupa kardus dan kertas ke bagian pengepakan sepatu untuk selanjutnya di buat sebuah kardus untuk mengepak sepatu yang sudah dibuat.

      Setelah sepatu sudah selesai diuji di bagian pengujian sepatu, dan pengepakan sudah selesai dilakukan oleh bagian pengepakan kardus, maka sepatu dan pack (kardus sepatu) dikirim ke pabrik pengemasan sepatu untuk dikemas dan diberi label merk dan ukuran. Setelah selesai sepatu yang sudah siap dijual disimpan di gudang sepatu. Gudang sepatu berfungsi untuk menyimpan sepatu yang sudah siap jual.

      Setelah itu sepatu yang sudah siap jual dikirim ke distributor sepatu untuk selanjutnya dikirim ke toko sepatu, toko online shop, dan  pasar internasional yang pada akhirnya sepatu tersebut sampai ke tangan konsumen.

    2.4 Decoupling Point pada Perusahaan Adidas

    Pada analisis Strategi Supply Chain telah disimpulkan, bahwa strategi yang tepat untuk perusahaan Adidas adalah kombinasi antara strategi efisiensi dan responsif. Untuk mengetahui dimana perusahaan harus menerapkan strategi efisiensi dan strategi responsif, maka dibutuhkan analisis decoupling point berdasarkan karakteristik produk. Melihat karakteristik produk Adidas yang cenderung fungsional, sedikit variasi, dan ketidakpastian permintaan konsumen , maka Adidas termasuk ke dalam klasifikasi MTS, dengan posisi decoupling point berada pada proses terakhir, yaitu pengiriman ke konsumen.

    dp                       Gambar 2.4 Decoupling Point pada Perusahaan Adidas

    Pada gambar diatas, posisi decoupling point MTS ada pada bagian pengiriman, sehingga fokus utama pengelolaannya adalah efisiensi fisik pada bagian kiri sebelum titik decoupling point MTS (kegiatan yang bisa dilakukan atas dasar ramalan) dan fokus responsif pada bagian kanan setelah titik decoupling point MTS (kegiatan tidak bisa dilakukan atas dasar ramalan). Aspek kunci dalam mengelola supply chain yang beroperasi pada lingkungan MTS adalah penentuan berapa dan dimana persediaan produk akhir yang harus disimpan dan bagaimana mekanisme pengiriman produk jadi ke suatu lokasi pemasaran. Oleh karena itu, Perusahaan adidas harus berfokus efisiensi fisik pada bagian hulu sebelum titik decoupling point MTS (lokasi, pengadaan, pengembangan produk, produksi) dan lebih berfokus responsif pada bagian hilir setelah titik decoupling point MTS (persediaan, pengiriman, informasi.

    BAB 3
    PENUTUP
    3.1 Kesimpulan

    Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut :

    • Strategi yang dilakukan Perusahaan Adidas dalam memperoleh bahan baku untuk pembuatan produk Adidas yaitu dari :
    1. Perkebunan Kapas
    2. Perkebunan Karet
    3. Penghasil Busa
    4. Penghasil Kertas dan Kardus
    • Strategi yang dilakukan Perusahaan Adidas dalam  pendistribusian produk adidas dari Supplier => Manufaktur => Distributor => Ritel => Konsumen

    Dimana Supplier yang memasok bahan baku mentah seperti karet,benang,busa,kain , kertas dan kardus yang akan diberikan ke bagian gudang lalu dikirim ke pabrik untuk diproduksi menjadi barang jadi dan akan dilakukan pengujian apakah barang sudah sesuai standart, kemudian akan diberikan kebagian pengepackkan kemudian diberikan kepada distributor untuk dikirim ke toko-toko atau ritel dan akan berakhir ke and user atau konsumen.

     

    3.2 Saran

    Perusahaan Adidas ini memiliki inovasi produk yang berpengaruh kuat  terhadap minat pembelian produk adidas. Diharapkan perusahaan Adidas meningkatkan desain dan inovasinya sehingga Adidas terus berkembang kedepannya dan selalu mengeluarkan produk yang diinginkan pelanggan dan terupdate. Dan mempertahankan dan meningkatkan strategi supply chain managementnya untuk menjadikan perusahaan Adidas menjadi lebih baik.

    Daftar Pustaka

    A Gatot Kurnia.2016.” ANALISIS KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DENGAN METODE SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) STUDI KASUS PT PERTAMINA EP”.Makalah.Yogyakata : Universitas Gadjah Mada (Diakses pada tanggal 14 oktober 2019)

    https://adidastrifoils.blogspot.com/p/produklayanan.html.2017.produklayanan   (Diakses pada 12oktober 2019)

    https://www.academia.edu/6532774/ADIDAS. 2014. ADIDAS. (Diakses  pada 12 oktober 2019)

    https://devifitriani21.blogspot.com/2014/11/perusahaan-adidas.html (Diakses pada 14 oktober 2019)

    https://glassestwin.blogspot.com/2018/02/stratejik-fit-perusahaan-sepatu-adidas.html?m=1 (Diakses 15 oktober 2019)

    https://rizmarizmi.blogspot.com/2016/11/contoh-scm-supply-chain-management-pada.html (Diakses pada 14 oktober 2019)

    T Kelvin Leonardo  dan Ratih Indriyani.2015.” ANALISIS SUPPLY CHAIN PADA PT. ZANGRANDI PRIMA DI SURABAYA”.Jurnal.Surabaya : Universitas Kristen Petra (Diakses pada 15 oktober 2019)

    Putri Diva Nacita,Radea Kartika, Mikail Maarif Lubis,dkk.2015.”Imposibble is Nothing – Strategi Jitu Pemasaran Adidas”.Universitas Telkom (Diakses pada 17 oktober 2017)

VIRTUAL KEYBOARD

Apa itu Virtual Keyboard ?

796246p_alt6

Virtual Keyboard adalah inovasi dalam produk perangkat lunak yang memungkinkan alternatif untuk penggunaan komputer konvensional Keyboard .

Contoh Virtual Keyboard

796246p-1aa

Manfaat virtual keyboard

žManfaatnya adalah untuk menggantikan fungsi keyboard sebenarnya dan berguna mencegah dari blackhacker,keylongger,spyware,dan trojan mendeteksi dan mencuri password atau no credit card yang diketikan langsung ke keyboard sungguhan.

Cara Kerja Virtual Keyboard

Keyboard bekerja sebagai input device. Keycaps atau yang lebih dikenal dengan tombol berada dibarisan terdepan fungsional keyboard, melalui keykaps ini pengguna memasukan input-an–biasa dikenal dengan keystroke.

Keyboard memiliki beragam manufaktur, dan maka dari itu ia juga memiliki beragam metode penyampaian input. Umumnya pada saat tombol diketikkan–input, tombol yang terketik telah terselaraskan dengan papan key matrix–beberapa manufaktur menggunakan karet, dan beragam bahan lainnya, dimana key matrix tersebut terdiri atas character map. Untuk selanjutnya informasi tersebut dibawa untuk dikenali oleh processor. Processor memutuskan apakah itu sebuah ketikan karakter alphabeth, karakter unicode-dari beragam bahasa seperti, Thai, Chinese, Korean, ataupun Japanese, atau bisa jadi berupa shortcuts yang berlaku pada aplikasi tertentu.

Kelebihan dan Kelemahan Virtual Keyboard :

žKelebihan : Keyboard mudah digunakan,praktis,portable.

žKekurangan : Harga masih mahal,jarang digunakan,mungkin karena menggunakan teknologi laser yang memanfaatkan cahaya sehingga keyboard ini susah digunakan ditempat yang terlalu terang/outdoor.

Referensi

žhttp://gudangmakalahkuliah.blogspot.co.id/2013/12/keyboard-virtual.html

žhttp://tanyanotebook.blogspot.co.id/2014/02/cara-kerja-virtual-keyboard_26.html

žhttp://akbarnuralamsyah.blogspot.co.id/2016/07/pengertian-keyboard-keyboard-adalah.html

žhttps://www.google.co.id/search?q=CONTOH+VIRTUAL+KEYBOARD+DIGUNAKAN+DI+IPHONE,TABLET,KOMPUTER&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwjJx_mAudjWAhVJLo8KHfqBCUgQsAQIJA&biw=1366&bih=629