Yuk Intip Penyebab dan Rincian Harga Batu Bata

Semenjak 2 bulan akhir keinginan batu bata di Pidie Jaya cendrung bertambah.

Hal tersebut berkaitan dengan gencarnya pembangunan baik rumah kontribusi serta semacamnya atau bangunan individu masyarakat.

Untuk rekontruksi rumah kontribusi gempa bumi, rumah dhuafa, rumah kontribusi memakai dana yang di plot pemerintahan ke gampong-gampong atau umum disebutkan alokasi dana gampong (ADG), biasanya batu bata disuplai di luar Pijay.

Suplai di luar Pijay telah berjalan semenjak rehab-rekon tahun awal 2018 kemarin. Seperti dari Aceh Utara serta Bireuen.

Artikel Terkait : harga bata ringan per biji

Ada pula sebagiannya berawal dari Pijay tersebut. Diantaranya dari Kemukiman Pangwa Kecamatan Trienggadeng dan dari Ulim serta sekelilingnya.

Tetapi banyaknya amat sedikit. Sekarang ini harga batu bata sekitar di antara Rp 600-660 per-biji. Harga itu naik rerata Rp 150-200/biji dibanding beberapa waktu kemarin.

Fazli serta Ikhsan, 2 pebisnis bata bata dari Aceh Utara serta Bireuen yang ditanyakan Serambi lewat hpnya akui, jika terakhir harga batu bata naik.

Bila awalnya mereka jual (terima di tempat) Rp 550 sampai Rp 600 per-biji, tetapi sekarang ini jadi Rp 660 per-biji.
Itu juga, harus diminta atau diorder jauh hari. Naiknya batu bata sebab ongkos operasional terhitung hal yang lain bertambah.

“Hitung-hitung sama juga, kami juga bisa sedikit karena seluruhnya ongkos mahal saat ini,” kata Fazli.

Beberapa pebisnis batu bata di Kuta Pangwa, menjawab Serambinews,com terpisah, Selasa (8/10) mengatakan hal sama. Mereka akui kerepotan terima pesanan. Kabarnya kembali, sejauh ini pembangunan rumah gantuan terus-menerus di seluruhnya kecamatan.

Teritori Pangwa awalnya mempunyai lebih 20 dapur bata, tetapi saat gempa Pijay akhir Desember 2016 lalu, sekarang sisa beberapa atau seputar 12 dapur.

Sesaat yang lain, mau tak mau stop sesudah bangunan dapur remuk porak poranda.

Baca Juga : ukuran bata merah

Untuk meneruskan kembali lagi, kata salah seorang sumber di Kuta Pangwa terhalang bermodalkan. Salah seorang pebisnis batu bata di Nangroue Ulim Kecamatan Ulim menomentari hal yang sama.

Beberapa pebisnis batu bata mau tak mau “istirahat” panjang.

Selain minimnya modal juga bergantung dengan pengadaan air.

Tiada air, pemrosesan tanah untuk bahan baku bata susah, kata seorang ibu rumah-tangga disitu.