Komedi Gus Dur Paling Lucu, Masih Diingat sampai Saat ini

KH Abdurrahman Top atau yang dekat dipanggil Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-4. Walau periode kedudukannya sebagai presiden termasuk singkat, Gus Dur selalu diingat beberapa orang.

Di kelompok masyarakat Indonesia, Gus Dur dikenali mempunyai karakter humoris. Gus Dur dipandang seperti figure yang tidak kaku dan sering meluangkan bergurau di antara kegiatannya.

Saat hidupnya, Gus Dur kerap melemparkan kalimat lucu yang mengundang gelak tawa orang yang dengarnya.

Tidak itu saja, Gus Dur banyak juga mempunyai komedi lucu yang dapat membuat seorang ketawa terbahak. Bukan lantaran lucu saja, tapi karena mengajari beberapa hal mengenai kehidupan.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 dalam umur 69 tahun. Tetapi, semua lelucon dan guyonan Gus Dur akan diingat, seperti jasa besarnya pada Bangsa Indonesia.

Ingin tahu dengan narasi lucu Gus Dur? Berikut koleksi komedi Gus Dur paling lucu,yang termuat dalam biografi Gus Dur.

Doa saat sebelum Makan


Gus Dur bergurau dengan beberapa pastor di Semarang. “Ada seorang pastor yang memiliki hoby aneh, yaitu memburu binatang buas,” kata Gus Dur. Tiap hari Minggu, sesudah usai misa dia ke rimba.

Saat menyaksikan satu ekor harimau, dia langsung menarik pelatuk senapan dan menembakanya. “Dor, dor, dor!”

Rupanya shooting pastor itu melenceng. Dan….. Harimau itu malah balik memburu. Mengatahui hal itu, si pastor juga langsung lari terbirit-birit.

Tetapi, apesnya, di muka si pastor bertemu dengan jurang yang paling dalam. Dia juga pilih stop. Dia pasrah dan berlutut. Harimau dekatinya perlahan-lahan, siap menangkap.

Jantung si pastor berdegap semakin kuat. Dia mengusung ke-2  tangannya sekalian berdoa dan tutup mata.

Pastor itu berdoa lama sekali. Si pastor juga bingung karena rupanya dia masih hidup. Dia melihat ke samping. Dilihatnya harimau itu termenung di sebelahnya sekalian mengusung ke-2  kaki depannya, seolah tengah berdoa.

Si pastor menanyakan ke harimau, “Mengapa, kamu kok tidak menangkap aku, justru ikutan berdoa?”

Saat Gus Dur Dikelabui

“Ya aku sedang berdoa. Berdoa saat sebelum makan!” kata harimau.
Gus Dur dijumpai teratur tidur malam jam 01.00 WIB. Di waktu malam hari, Gus Dur kerap menanyakan pada keluarga atau ajudannya, “Jam berapakah saat ini?”. Bila jawabnya belum sampai saat yang ditetapkan itu, dia tidak tidur.

Nach, untuk mempertahankan kesehatan Gus Dur supaya tidak tidur terlampau malam, faksi keluarga juga bersekongkol . Maka, jika Gus Dur bertanya jam berapakah, semua agar ngomong telah jam satu supaya Gus Dur bergerak tidur.

Hal tersebut berjalan seringkali. Gus Dur juga pada akhirnya sadar. “Wah sejauh ini aku dikibulin.”

Tanpa setahu keluarga, Gus Dur beli arloji yang saat dipencet dapat mengeluarkan bunyi.

Satu malam, jam 23.00, Gus Dur menanyakan, “Telah jam berapakah saat ini?” Solid semua ngomong. “Jam satu Gus!”

Sekalian tersenyum, Gus Dur langsung menekan arloji dan dapat didengarkan semua: “Saat ini jam 11 malam,” kata arloji itu dengan bahasa Inggris.

Gus Dur Halalkan Ikan Curian


Saat Gus Dur masih berumur belasan tahun, dia mengangsu pengetahuan agama di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam atau Pesantren API, Tegalrejo, Magelang pada1957-1959.

Gus Dur bersama beberapa temannya membuat skenario perampokan ikan di kolam punya si guru, Kiai Chudlori.

Di saat itu, Gus Dur memerintah beberapa temannya untuk mengambil ikan di kolam, sementara Gus Dur memantau di tepi kolam.

Gus Dur tidak ikut masuk kolam, dia cuman di pinggirnya saja, dengan alasan untuk memantau bila setiap saat kiai Chudlori keluar dan melalui kolam.

Selang beberapa saat, Kiai Chudlori yang selalu keluar dari rumah tiap jam 01.00 WIB untuk menuaikan sholat malam di mushola, lewat di dekat kolam.

Waktu itu , rekan-rekan Gus Dur yang malah sedang asyik ambil ikan, langsung diminta kabur. Sementara Gus Dur masih tetap berdiri di tepi kolam dengan menggenggam ikan hasil curian.

“Barusan ikan punya Pak Kiai sudah diculik oleh santri-santri bengal dan aku sukses menyingkirkan beberapa maling itu. Ikan hasil curiannya sukses aku menyelamatkan,” kata Gus Dur ke Kiai Chudlori.

Atas jerih-payah itu, pada akhirnya Kiai Chudlori menghadiahi ikan itu ke Gus Dur, untuk diolah bersama beberapa temannya. Ikan itu juga langsung diolah dan dicicipi Gus Dur bersama rekan-rekan bengalnya.

Rekan-rekan bengal yang diminta mengambil barusan ajukan protes ke Gus Dur. Tetapi, bukan Gus Dur namanya bila tidak dapat berkelit yang lebih bernilai ialah hasilnya.

“Ah kamu ikut juga makan ikannya. Kembali juga, ikan ini kan telah halal,” kata Gus Dur.

Becak Tidak Bisa Masuk


Presiden Gus Dur pernah menceritakan ke salah seorang menterinya, Mahfud MD, mengenai orang Madura yang banyak akal dan cerdas.

Maka ceritanya berawal ketika berada seorang tukang becak asal Madura yang ketahuan seorang polisi saat masuk teritori tertulis ‘becak dilarang masuk’.

Akhirnya, polisi juga langsung tiba menyemprit tukang becak yang menyalahi ketentuan itu.

“Apa kamu tidak menyaksikan gambar itu? Becak jangan masuk jalan ini,” kata polisi itu memarahi.

“Oh aku saksikan Pak, tetapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada orangnya. Becak aku kan ada orangnya, memiliki arti bisa masuk,” jawab sang tukang becak.

“Bodoh, apa kamu tidak dapat baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan becak dilarang masuk!” gertak Pak polisi kembali.

“Tidak pak, aku tidak dapat baca. Jika aku dapat baca ya aku tentu menjadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak ini,” sangkal sang tukang becak sekalian cengengesan.

Gus Dur Sakit Gigi


Telah sekian hari ini Gus Dur sakit gigi, cenat cenut. Dibikin duduk sakit, bicara sakit, dengarkan musik masih tetap sakit.

“Siapa ngomong sakit hati lebih berat daripada sakit gigi,” kata Gus Dur ke seorang staff-nya, mencuplik lirik lagu dangdut.

“Lha kan iya lebih bagus sakit gigi daripada sakit hati Gus?” jawab seorang staff-nya.

“Lebih bagus sakit hati saja,” kata Gus Dur.

“Lha mengapa Gus?”

“Aku ini kembali sakit gigi…!” kata Gus Dur cukup berteriak.

Staff Gus Dur tidak berani menanyakan kembali.

NU Lama dan Baru

Satu hari di Bulan Ramadan, Gus Dur mengunjungi tempat tinggal Presiden Soeharto untuk buka puasa bersama. Dianya datang didampingi Kiai Asrowi.

Selesai buka dan sholat maghrib, Gus Dur akan pergi ke arah tempat lain dan melewati waktu sholat tarawih bersama. Pak Harto juga minta ke Gus Dur supaya Kiai Asrowi masih tetap tinggal untuk pimpin sholat tarawih bersama.

Gus Dur juga menyetujui keinginan Pak Harto itu. Tetapi, menurut Gus Dur, si Kiai harus dikasih keterangan dahulu apa sholat tarawih akan dikerjakan dengan NU Lama atau NU Baru.

Pak Harto juga kebingungan karena dianya tidak ketahui ketidaksamaan di antara NU Lama dan NU Baru.

Soeharto selanjutnya menanyakan ke Gus Dur, “Memang jika NU Lama bagaimana?” Gus Dur menjawab, “Jika NU Lama, tarawih dan witirnya itu 23 rakaat.”

Pak Harto kembali menanyakan, “Jika NU Baru?” Dengan rileksnya Gus Dur menjawab, “Jika NU Baru potongan harga 60 %, jadi tarawih sama witirnya hanya tinggal 11 rakaat.” Gus Dur memang paling dapat dech.

Skip to toolbar