Pemandangan Yang Menakjubkan di batas Vegetasi

Pemandangan Yang Menakjubkan di batas Vegetasi – Semakin tinggi, semakin rendah pohon yang ada. Anginpun semakin kencang menerpa, tidak ada lagi jalur yang berdinding lumut hijau basah. Pasir dan kerikil yang menjadi alas pijakan di tengah jalan.

Setelah sarapan, tenda kuning dengan brand cukup terkenal di Indonesia kembali di packing ke dalam kerril

Kembali melanjutkan perjalan menuju titik akhir tempat camp, Shelter 3 yang juga sekaligus menjadi batas Vegetasi.

Dari tempat ngecamp semalam, kami masih harus melewati satu shelter lagi untuk sampai ke shelter 3 yang kemudian menjadi titik awal summit attack.

Dari shelter 1 ke shelter 2 jalur nya sedikit berbeda, jika tadi masih banyak pohon besar yang menjulang tinggi, sebagai sumber penghidupan Dunia, kini sudah mulai berganti dengan tumbuhan jenis panjang umur.

Jika tadinya banyak lumut hijau basah, sekarang sudah harus menikmati jalaran akar yang jauh lebih banyak beserta kerikil dan pasir yang mulai menampakkan di jalur.

Klimaks Cerita Pendakian Di Batas Vegetasi

Dari shelter 1 ke shelter 2 ini juga di sebut-sebut sebagai jalur yang cukup menguras tenaga, dimana di sepanjang jalur ini setiap pendaki harus benar-benar bekerja extra.

Yang juga paling terkenal di sepanjang jalur ini adalah terowongan-terowongan yang terbuat alami dari pohon yang saling menyatu, hanya ada sedikit celah dan jalur yang extreme.

Shelter 2 Alternatif untuk titik awal summit Attack Gunung Kerinci ini. Di shelter ini juga kerap menjadi titik awal pendaki yang mau melakukan Summit Attack.

Tapi tak sedikit juga yang lebih memilih di Shelter 3 yang memiliki view pemandangan yang sangat luar biasa. Indah.

Kami hanya istirahat makan siang di Shelter 2, tidak ngecamp, karena tujuan camp terakhir kami adalah shelter 3,  sebuah batas Vegetasi yang memiliki Keindahan luar biasa dari Tiang Sumatera.

Akak imas yang sudah siap menikah, menunjukkan kepiawaianya dalam memasak, sementara aku yang di anggap memiliki tenaga lebih, dapat bagian mengambil air di shelter 2. Hemm

Karena saat ke Gunung ini masih dalam musim kemarau, jadi mau tidak mau, harua sedia mengambil air  cukup jauh dari lokasi shelter.

Setelah sampai kembali ke shelter, masakan akak imas sudah menanti, piring plastik sudah terisi nasi, dan lauk juga sudah tersusun rapih. Benar-benar calon istri yang baik.

batas Vegetasi

Makan selesai, semabari kembali berkemas, tak sengaja kami bertemu pendaki asal jerman, yaa orang desa seperti saya, menganggap ini sebuah hal yang menarik, bisa bertatapan langsung denga  bule.

Dia ramah, dengan bodypack di punggungnya, meregangkan kaki, duduk di tanah, akak imas meminta waktu si bule, agar mau foto bareng, ternyata dia juga mahir bahasa asing.

Setelah beswa foto dengan bule tadi, kami juga bersiap melanjutkan perjalanan. Dari shelter 2 menuju shelter 3 ini merupakan sebuah perjalanan yang sangat mengagumkan.

Sudah benar-benar tidak ada pohon tinggi, mata memandang lebih luas, hamparan hijua lereng gunung membuat mata berkaca-kaca, sungguh indah ciptaan yang maha kuasa.

Berasa sedang berjalan di atas awan, sama rata dengan awan putih yang bergumpal layaknya gelombang. 

Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dari shelter 2 menuju shelter 3, semakin dekat dengan plakat shelter 3 semakin cantik pemandangannya.

Dimana bunga-bunga kuning yang mekar indah, edelwis yang menjadi simbol tentang sebuah keindahan yang abadi.

Dari sini semua pemandangan kota sungai penuh, bahkah pantai mukomuko bisa di nikmati dari ketinggian.

Shelter 3 yang menjadi batas vegetasi ini merupakan sebuab area camping yang sangat indah. Melihat kebawah dengan keindahan hamparan hijau yang nenawan. Melihat ke atas, bagaimana gagahnya puncak tertinggi Sumatera dan Api tertinggi Indonesia.

Batas Vegetasi merupakan sebuah batas dimana tumbuhan bisa hidup, setelah batas Vegetasi ini, tidak ada lagi tumbuhan yang hidup, hanya ada batu dan pasir Vulkanik Gunung yang hitam dan panas.

Sunset dan Sunrice dari shelter 3 ini merupakan yang terbaik yang pernah ku nikmati, Golden Hours yang menawan, buliran awan yang lembut, hingga bayangan Gunung yang gagah menyelimuti lereng membentuk segitiga yang besar.

Saat matahari perlahan naik dari ufuk timur warna jingga menghiasi langit pagi. Desusan angin kecil dengan suhu yang cukup dingin, menggelitik leher.  Suasana Sunrice seakan mengalahkan semua lelah, menyatu dengan pendaki, memberikan ketengan dari setiap yang menikmati. Memberi kehangatan dalam dingin yang menusuk tulang.

batas Vegetasi

Ada juga beberapa yang menikmati ini dengan kopi hangat dan sebatang kretek di celah jari bersarung. Ada yang mengabadikan sebuah moment dengan kameranya ber swa foto sana sini dengan latar dan spot yang beragam.

Secangkir Kopi hangat pagidi Gunung

Selanjutnya >> Summit Attack Atap Sumatera

Skip to toolbar