Hematoma Postpartum: Sederet Masalah di Vagina Setelah Melahirkan

Melahirkan adalah suatu aktivitas yang amat krusial bagi seorang perempuan. Seluruh kemampuan dan batas-batas tubuh seakan terlampaui untuk dapat melahirkan seorang manusia baru ke dunia. Disebut krusial bukan hanya karena seorang wanita berada di titik hidup dan mati, tetapi ada banyak risiko lain yang amat mungkin terjadi sebelum, saat sedang, dan setelah melahirkan. Hematoma postpartum hanya satu di antaranya.

Kelahiran normal maupun melalui operasi caesar sama saja. Namun, tak dapat dimungkiri jika melahirkan secara normal wanita memiliki risiko yang jauh lebih banyak dan lebih besar. Kondisi kandungan, kondisi tubuh, serta kondisi organ-organ yang berkaitan harus dinyatakan siap dan dalam keadaan yang prima untuk dapat melewati masa-masa krusial tersebut.

  • Mengenal Hematoma Postpartum

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, hematoma postpartum merupakan satu dari beberapa risiko bagi seorang wanita yang melahirkan secara normal. Hematoma postpartum disebut pula dengan hematoma pada masa nifas.

Kondisi itu dapat dijelaskan sebagai keadaan di mana terdapat penggumpalan yang timbul dari pendarahan luka yang berhubungan dengan pengiriman operasi ataupun episiotomi. Namun, hematoma juga bisa terjadi akibat cedera pembuluh darah tanpa adanya laserasi atau sayatan dari jaringan sekitarnya.

Perempuan yang memiliki resiko hematoma nifas adalah mereka yang memiliki bayi lebih dari 4000 gram, preeklamsia, persalinan kesekian, kehamilan multifetal, varisesvulva, atau gangguan pembekuan. Seperti hematoma pada umumnya yang bisa terjadi di mana saja, hematoma postpartum ini dapat terjadi di sekitar atau bagian-bagian vagina. Berikut beberapa jenis hematoma postpartum atau saat masa nifas:

  • Hematoma Vulva

Hematoma di vulva ini timbul sesaat setelah persalinan selesai. Perdarahan ke dalam jaringan subkutan vagina disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah. Hematoma vulva juga bisa terjadi karena trauma tekanan atau berhubungan dengan perbaikan robekan perineum atau episiotomi. Vulva sendiri merupakan bagian paling ujung dari vagina, dalam kata lain vulva merupakan mulut vagina.

Hematoma vulva kebanyakan terjadi pada cabang arteri pundenda (rectal rendah, perineum, posterior labial, dan uretra arteri, arteri dari ruang depan, dan arteri dalam dan dorsalclitoris) yang terjadi selama episiotomi atau atau dari laserasi perineum. Hal ini dapat terjadi saat proses pengeluaran bayi atau setelah penjahitan luka robekan yang tidak rapih, atau pecahnya varises yang terdapat di dinding vagina dan vulva.

Hematoma vulva ini memerlukan drainase dan penjahitan kembali yang biasanya dilakukan dengan anastesi umum. Kecuali bila hematoma tersebut kecil dan hanya menunjukkan gejala-gejala ringan, maka cukup dilakukan kompres.

  • Hematoma pada Paravagina

Hematoma ini umumnya terkait dengan persalinan penggunaan ekstraksi forcep, terlebih apabila janin harus diputar. Tetapi juga dapat terjadi pada saat melahirkan spontan. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum.

Hematoma paravaginal mungkin disebabkan oleh cabang desenden arteri uterina. Pada stadium awal, hematoma membentuk pembengkakan bulat yang menonjol ke dalam bagian atas saluran vagina dan mungkin hampir menutupi lumennya. Apabila berlanjut, perdarahan dapat merembes ke arah retroperitoneum dan membentuk suatu tumor yang teraba di atas ligamentum puoparti, atau ke arah atas dan akhirnya mencapai batas bawah diafragma.

  • Hematoma pada Retroperitoneum

Hematoma pada retoperitoneum dapat diketahui ketika ibu yang baru melahirkan merasakan nyeri di sekitar segmen perut bagian bawah. Lama kelamaan, hematoma retoperitoneum akan menyebabkan, anemis, nadi meningkat, dan tensi turun, meski perdarahan pervaginam tidak terlalu banyak. Untuk mengatasinya, dokter mungkin akan melakukan laparatomi untuk mencari dan menghentikan sumber perdarahan.

***

Tiga jenis hematoma yang disebut di atas merupakan kondisi yang paling umum terjadi setelah wanita melahirkan. Kondisi hematoma postpartum atau yang terjadi di sekitar vagina, vulva, atau perineum ini perlu dilakukan evaluasi untuk mencari sumber masalah dan menghentikan perdarahannya, hematoma kecil pada vulva mungkin dapat diabsorbsi.

Penyebab utama hematoma postpartum ini kebanyakan dikarenakan gerakan kepala janin selama persalinan (spontan), akibat pertolongan persalinan, karena tusukan pembuluh darah selama anestesi lokal, atau penjahitan. Dapat juga terjadi karena penjahitan luka episiotomi atau ruptur perineum yang kurang sempurna. Biasanya, sebelum melahirkan dokter akan memberi tahu mengenai risiko-risiko di atas dan menyiapkan prosedur untuk mengurangi kemungkinannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar