Jangan Salah, Anak-anak Ternyata juga Mengalami Zoom Fatigue

Zoom fatigue merupakan kondisi kelelahan akibat melakukan serangkaian video conference. Ternyata tak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami zoom fatigue karena saat ini semua kegiatan sekolah dialihkan secara online. Efeknya pun lebih besar karena pada dasarnya anak-anak lebih membutuhkan interaksi tatap muka langsung saat belajar dibandingkan orang dewasa. 

Tanda-tanda zoom fatigue pada anak-anak

Perasaan lesu secara fisik dan emosional setelah melakukan banyak video conference mungkin mudah dijelaskan jika terjadi pada orang dewasa, namun tidak begitu bagi anak-anak. Berikut ini beberapa perilaku kelelahan yang terjadi pada anak akibat zoom fatigue:

  • Keengganan atau menangis saat tiba waktunya melakukan video conference atau bahkan saat melakukan video online dengan teman-temannya
  • Cepat marah dan mudah tersinggung
  • Gelisah, sulit duduk diam, dan susah fokus
  • Frustasi dan sering bertengkar dengan teman-temannya saat berdiskusi
  • Sakit kepala dan mata tegang

Orang tua sebaiknya lebih peka terhadap perilaku anak. Jika Anda menemukan tanda-tanda tersebut pada anak, tawarakan bantuan dan bicarakan dengan baik-baik mengenai apa yang dia rasakan.  

Cara mengatasinya

Berikut ini merupakan cara untuk mengatasi zoom fatigue yang terjadi pada anak-anak:

  1. Lakukan aktivitas fisik

Kegiatan sedentari selama pandemi membuat aktivitas fisik anak sangat berkurang. Hal ini justru bisa menguras energi, menurunkan mood, serta membuat anak semakin kesulitan fokus. Gunakan waktu istirahat makan siang selama 20 menit untuk berjalan-jalan di sekitar rumah atau memperagakan gerakan yoga di Youtube. Begitu pula di setiap jeda kelas, ajak anak untuk melakukan latihan olahraga ringan.  

  1. Atur ruangan belajar senyaman mungkin

Salah satu kemudahan belajar online yaitu, ruang belajar dapat diatur sesuai keinginan. Kenyamanan belajar juga harus sejalan dengan kebiasaan sehat, seperti mengatur posisi komputer atau laptop sejajar dengan mata, menyediakan komputer atau laptop dengan layar besar untuk mengindari kelelahan mata, serta menghindari faktor lain yang mengganggu fokus anak. Saat anak melakukan video conference, pastikan anak tidak melakukan aktivitas lain seperti bermain handphone atau bermain dengan mainannya.  

  1. Atur jadwal sebaik mungkin

Beberapa sekolah memberikan video pembelajaran untuk bisa dipelajari kapan saja tanpa harus mengikuti jam sekolah pada umumnya. Anda bisa menyesuaikan dengan waktu dimana anak sedang semangat atau fokus belajar. Misalnya, jika anak merupakan tipe yang susah dibangunkan di pagi hari, maka atur jadwal di siang atau sore hari. Pastikan terdapat waktu di akhir minggu untuk bermain dan bersantai bersama keluarga. Lakukan jadwal tersebut secara rutin dan konsisten. 

  1. Batasi jumlah video conference anak

Prioritaskan video conference yang penting terlebih dahulu dan hindari pertemuan online yang dirasa kurang bermanfaat untuk menghindari kelelahan. Pada dasarnya, kelas online dengan jumlah peserta besar lebih melelahkan dibandingkan dengan jumlah peserta yang lebih kecil. Anak-anak akan lebih mudah berinteraksi dan terasa menyenangkan jika jumlah peserta sedikit.  

Kebutuhan anak akan interaksi sosial

Sebuah studi menunjukkan bahwa kepercayaan diri anak-anak meningkat seiring dengan komunikasi dan interaksi yang terdapat dalam berbagai aktivitas dan rutinitasnya. Terutama bagi anak-anak yang baru masuk sekolah. 

Interaksi sosial merupakan faktor penting yang berdampak bagi kesehatan pada setiap orang, baik anak kecil maupun orang dewasa. Interaksi tersebut meliputi interaksi mental maupun fisiki. Dengan adanya rutinitas online setiap hari, maka interaksi sosial secara fisik berkurang drastis. Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat diperlukan. 

Skip to toolbar