Perbedaan DBD dan Corona, Pengobatan dan Cara Menghindarinya

Oatbreak kasus infeksi pandemi yang menyerang hampir seluruh negara di dunia ini menyebabkan kecemasan global dan kekhawatiran bahwa virus dapat menyebar dan menular dengan lebih luas dan cepat. Para petinggi negara khawatir bahwa coronavirus dapat menyebabkan kematian dalam jumlah yang lebih tinggi sebelum para peneliti dan petugas medis menemukan cara untuk menghentikannya. Namun, selain virus corona, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) juga harus diwaspadai, khususnya pada musim hujan saat ini, mengingat penyakit berbahaya ini menular lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue. Namun, apa yang menjadi perbedaan DBD dan corona dari segi pengobatan dan cara pencegahannya? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan tentang perbedaan DBD dan corona.

Diagnosa dan pengobatan DBD dan corona

Perbedaan DBD dan corona yang paling mencolok adalah ada pada proses diagnosanya. Dalam kasus DBD, diagnosa dilakukan lewat pemeriksaan darah untuk melihat adanya keberadaan infeksi atau antibodi virus. Apabila Anda merasakan adanya gejala DBD seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, ruam di kulit, dan gusi dan hidung berdarah setelah bepergian ke luar negeri, segera hubungi dokter untuk memastikan apakah Anda terinfeksi penyakit DBD atau tidak.

Dalam kasus DBD, pengobatan atau perawatan yang ditujukan secara spesifik untuk kasus DBD belum tersedia. Apabila Anda merasa terinfeksi demam berdarah, penggunaan obat OTC pereda rasa sakit dapat mengurangi demam, sakit kepala, dan sakit persedian. Akan tetapi, obat seperti aspirin dan ibuprofen dapat menyebabkan pendarahan berlebih dan harus dihindari. Dokter harus melakukan pemeriksaan medis dan Anda disarankan untuk banyak istirahat dan minum banyak air. Apabila sakit terasa lebih parah setelah 24 jam, Anda harus dibawa ke rumah sakit untuk memeriksa adanya komplikasi penyakit tertentu.

Dalam kasus corona, diagnosa dilakukan dengan cara mengambil sampel virus dengan cara menyeka hidung dan bagian belakang tenggorok, aspirasi cairan dari bagian bawah saluran pernapasan, dan mengambil air liur serta sampel kotoran. Para peneliti kemudian akan mengekstraksi asam nukleik dari sammpel virus dan memperkuat bagian dari genome virus tersebut menggunakan teknik RT-PCR. 2 gen dapat ditemukan dari genome SARS-CoV-2. Hasil tes tersebut di antaranya adalah positif apabila kedua gen ditemukan, negative apabila kedua gen tidak ditemukan, dan tidak dapat disimpulkan apabila hanya satu gen ditemukan.

Sayangnya, sama seperti DBD, pengobatan belum ditemukan. Meskipun demikian, perawatan dan vaksin sedang dicoba untuk dibuat dan ditemukan. Perawatan penderita corona lebih berfokus dalam mengendalikan gejala-gejala yang ditimbulkan saat infeksi terjadi. Gejala tersebut seperti sesak napas, batuk, demam, muka dan bibir yang membiru, bingung, dan rasa sakit di dada yang tidak kunjung hilang.

Perbedaan DBD dan corona juga terlihat dari cara pencegahan penularn penyakit tersebut. Dalam kasus DBD, cobalah untuk melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dan bersihkan daerah-daerah yang menjadi tempat sarang atau tempat berkembang biak nyamuk (air yang tenang). Anda juga bisa menggunakan jarring nyamuk ketika tidur di daerah yang rawan terjadi infeksi. Untuk penyakit corona, pencegahan bisa dilakukan dengan tinggal di rumah dan menjauhi tempat-tempat yang ramai. Anda juga disarankan untuk rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun dan atau hand sanitizer terutama setelah bepergian. Selain itu, hindari menyentuh hidung, mulut, dan mata apabila Anda belum mencuci tangan atau membersihkannya menggunakan hand sanitizer.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar