Pelaksanaan Pemijahan Ikan Koi

Seperti pada tulisan saya di pembukaan blog ini, koi adalah ikan yang mudah mati. Tanpa bermaksud memojokan pelaku bisnis ikan ini, memang begitulah adanya. Tujuan saya mengungkap hal ini adalah agar para hobiis, terutama pemula seperti saya siap-siap dengan segala resikonya.

Pelaksanaan Pemijahan Ikan Koi

Saya sangat sering menyaksikan sendiri, tiba-tiba pembeli datang dan mengeluh pada penjual, “Ah… ikan saya mati semua! Ko, bisa gitu?” Baru penjual mengungkap segala alasan mengapa koi mati dengan berbagai kemungkinan.

Saya sendiri tidak begitu banyak mengeluh pada pedagang, karena sudah tau dan mengambil resiko tentang kerapuhan ikan koi, dibanding ikan hias yang lain yang pernah saya pelihara. Bisa jadi karena kecanduan ikan hias ini, yang begitu banyak variasinya. Tetapi ada juga motivasi lain, yaitu semangat untuk belajar menaklukan ikan yang baru serius saya pelihara sekitar satu tahun ini.

Dari pengalaman dan akhirnya tersisa yang hidup dengan perbandingan 1 hidup : 3 mati, maka saya coba menarik pelajaran dari berbagai hal tentang penyebab kematian koi, di antaranya:

1. Koi sudah sakit sejak dibeli

Saya sering lupa dan keasyikan memilih koi yang pola warnanya bagus. Namun, seringkali faktor kesehatan koi diabaikan! Itulah awal mula bencana dan kesia-saiaan sebetulnya. Sebab koi yang sakit sangat sulit diobati, yang ujung-ujungnya sebagus apa pun koi yang dibeli, sehari-dua hari di kolam akhirnya mati!

Dari koi sakit yang paling sulit diatasi adalah akibat virus dengan gejala mata agak cekung, gerakan cepat tak tentu arah, dan sekujur badan memerah dan akhirnya melepuh seperti disiram air panas. Koi sakit seperti itu, yang pernah saya beli, semuanya berujung kematian! Catat, koi seperti itu tak selalu tanda-tandanya tampak semua di awal, tapi setidaknya bisa dilihat satu dua tanda.

Disusul dengan borok pada sirip dan insang, terutama sirip dada yang pecah-pecah dan merah. Borok yang sudah menghabiskan banyak tulang sirip dan insang yang luas sulit diatasi. Kecuali yang masih sedikit, dengan olesan PK saja, asal ikannya tidak komplikasi dengan penyakit lain dan tetap lahap makan, biasanya berangsur-angsur pulih. Begitu juga borok pada badan biasanya akan mudah sembuh asal sedikit dan tidak dalam.

Di samping koi yang sakit terlihat dari ciri-ciri fisik, ada pula dari cara koi bergerak. Koi yang sudah sakit biasanya akan bergerak pelan saat diambil, cenderung megap-megap, dan gerakannya lemas, mengapung ke atas, atau nungging di tengah kolam. Walaupun badannya utuh, koi seperti itu jangan dibeli, karena sulit beradaptasi dan mudah mati.

2. Kualitas air buruk

Koi umumnya tidak tahan dengan air baru, baik air hujan, apalagi air tanah yang baru dipompa. Tak heran, pedagang langsung menutup lapak kolam koi dengan terpal saat hujan tiba. Sedangkan bila kita memberi langsung air pompa langsung dari krannya, jangankan koi, ikan apa pun biasanya akan mengalami stress dan mati mendadak.

Untuk mengatasi hal tersebut, hobiis koi sebaiknya mempunyai kolam transit yang ternaungi dari air hujan, sebelum koi digabung dengan koi yang sudah adaptasi dengan kolam taman yang terkena hujan. Air yang ada dalam kolam transit itu pun harus sudah disirkulasi beberapa hari. Memakai filter lebih baik, tapi jangan memakai zeolit atau arang dahulu, karena koi baru biasanya perlu perawatan yang menggunakan garam atau obat-obatan, sehingga tak perlu ada bahan penetralisasi di filter, yang akan membuat pengobatan sia-sia, bahkan memperburuk kulitas air karena adanya reaksi kimia dengan obat atau garam.

Koi juga tak tahan air yang teralu banyak amoniak, bisa karena kolam terlalu padat, pemberian makanan terlalu banyak, atau filter yang sudah terlalu menumpuk bahan organik sisa pakan, daun-daunan, dan bangkai. Sebaiknya semuanya dicek dan diatur sehingga ikan tetap nyaman. Bila ikan baru masuk tak nyaman dan mojok, bisa jadi karena air kolam terlalu banyak amoniak yang membuatnya sakit atau kekurangan oksigen.

3. Kadar oksigen dalam air kurang

Sirkulasi yang sesuai dengan jumlah ikan, ukuran ikan, dan luas kolam perlu diperhatikan, karena koi sangat perlu oksigen yang banyak. Pancuran air juga sebaiknya gemerincik dan agak tinggi agar air dapat menyerap oksigen lebih baik. Pemakaian airator juga perlu untuk menambah kadar oksigen dalam kolam.

Kadar oksigen akan berkurang bila ikan terlalu banyak, banyak sisa pakan, daun-daunan, atau bahkan bangkai di dalam kolam. Oleh karena itu kenali ikan yang dimasukan ke kolam, bila ada yang hilang kemungkinan bisa saja sudah jadi bangkai dan membuat kolam jadi kurang oksigen. Apalagi kolam ada di taman, perawatan dari daun-daunan yang jatuh harus dilakukan tiap hari. Agar tak repot memang sebaiknya menanam tanaman yang daunnya tak mudah jatuh ke kolam.

Hobiis yang kurang sabaran biasanya keasyikan memberi makan terus. Padahal, sisa pakan yang kebanyakan akan membuat oksigen berkurang, karena dipakai untuk menguraikan kotoran ikan. Bila hal ini terus di lakukan, ikan akan mudah terserang penyakit, dari mulai jamur, borok, sampai mati mendadak.