Ekonomi AS Melemah

Ekonomi AS Melemah, Rupiah Naik ke Rp14.144 per Dolar

Ekomoni AS melemah. Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.144 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (4/10) pagi. Posisi ini menguat 0,2 persen dibanding penutupan pada Kamis (3/10) yakni Rp14.172 per dolar AS.

Pagi hari ini, mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, bath Thailand menguat 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,04 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,06 persen.

Baca juga: DPR dan Pemerintah Bentuk Tim Percepat Pembahasan RUU Materai

Kemudian, yen Jepang menguat 0,09 persen, peso Filipina menguat 0,4 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,53 persen. Sementara itu, mata uang negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,13 persen, poundsterling Inggris menguat 0,14 persen, dan dolar Australia menguat 0,18 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan penguatan rupiah disebabkan karena investor mulai wanti-wanti dengan tanda-tanda pelemahan ekonomi yang tak henti-henti menghantam AS selama pekan ini.

Pertama, data Institute for Supply Management menunjukkan indeks manufaktur AS berada di angka 47,8 pada September, yang merupakan level terendah dalam 10 tahun terakhir. Kedua, laporan ketenagakerjaan nasional ADP menunjukkan bahwa perusahaan swasta hanya menambah 135 ribu pekerjaan pada September atau lebih rendah dibanding data Agustus yakni 157 ribu pekerjaan.

Nasib kurang mujur kembali terjadi pada Kamis (3/10), dimana Institute for Supply Management juga mencatat indeks jasa AS pada September di angka 52,6 atau turun dibanding bulan sebelumnya yakni 56,4.

“Jika data Indeks sektor jasa AS, di bawah estimasi, dolar AS bisa melemah lagi karena tren turun tingkat imbal hasil obligasi AS berlanjut. Kemarin selama dua hari beruntun data-data ekonomi AS berada di bawah ekspektasi pasar,” jelas Ariston.

Baca juga: Program Sejuta Rumah Terancam Meleset

Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar berujar bahwa pelaku pasar pun sudah menempuh aksi ambil untung (profit taking) menjelang data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll/NFP) yang akan diumumkan akhir pekan ini. Angka ketenagakerjaan AS dianggap penting lantaran menjadi acuan bank sentral AS The Fed untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

“Pasar masih wait and see, mulai mengambil sikap hati-hati karena ada data NFP serta langkah AS yang mempersiapkan tarif baru untuk Uni Eropa. Sehingga range rupiah hari ini di kisaran Rp14.150 per dolar AS hingga Rp14.200 per dolar AS,” tutur Deddy.