Omzet UMKM Turun 30% Di Masa Pandemi Covid-19

Omzet UMKM Turun 30% Di Masa Pandemi Covid-19, Sedih ya

Ekonomi – Omzet UMKM Turun 30% Di Masa Pandemi Covid-19. Pademi Covid ini membuat pelaku usaha harus bertransformasi bisnisnya terus berjalan. Menko perekonomian Airlangga live22 Hartarto menceritakan bagaimana dampak UMKM akibat pandemi ini.

Airlangga menjelaskan, pandemi Covid-19 telah membuat pendapatan atau omzet turun hingga 30%. Masalah utama UMKM pada pandemi saat ini, dari kacamata Airlangga adalah sulitnya mendapatkan bahan baku.

“Sulitnya permodalan, produksi terhambat, penjualan atau permintaan turun. Covid-19 berdampak besar ke UMKM,” jelas Airlangga dalam sebuah webinar Selasa (15/12/2020).

Baca Juga : Sri Mulyani Beberkan Alasan RI Tarik Utang, Ketika Ngajar Virtual

Omzet UMKM Turun 30% Di Masa Pandemi Covid-19

Dari catatan yang dimiliki, sebanyak 64 juta UMKM pada Indonesia hanya 16% saja yang mampu memasarkan produknya secara digital melalui e-commerce.

Oleh karena itu, menurut Airlangga joker388 pelaku bisnis UMKM perlu melakukan diversifikasi produk yang fleksibel, dan mampu bertransformasi mengikuti gaya hidup masyarakat saat ini.

“Digitalisasi UMKM harus perlu didorong, dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kesehatan,” ujarnya.

Berdasarkan Survei Badan Pusat Statistik yang terlaksanakan pada 16 – 20 Juli 2020. Menunjukkan pemanfaatan internet dan teknologi (TI) menjadi salah satu cara bagi pelaku usaha untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan pendapatan.

Pembatasan sosial mengakibatkan cara pemasaran secara konvensional menjadi terbatas. Sarana online menjadi solusi yang menjanjikan.

Baca Juga : Kebijakan perlindungan Sosial Untuk Tahun 2021

“4 dari setiap 5 pelaku usaha yang menggunakan internet dan TI untuk pemasaran via online mengaku bahwa cara online berpengaruh dalam penjualann produk mereka,” tulis BPS dalam laporan bertajuk Analisis Hasil Survei Dampak Covid-19 Terhadap Pelaku Usaha.

Survei prediksi togel dari BPS juga menunjukkan 7 dari setiap 10 pelaku UMK (USaha Menengah Kecil) membutuhkan bantuan modal usaha sebagai yang paling terperlukan pada masa pandemi.

Sebanyak 69,02% pelaku UMK mengaku membutuhkan bantuan modal usaha. Kemudian 41,18% pelaku UMK mengaku membutuhkan keringanan tagihan listrik untuk usaha. Serta sebanyak 29,98% pelaku UMK membutuhkan relaksasi/penundaan pembayaran pinjaman.

Sementara, bagi Usaha Menengah Besar (UMB) mengakui keringanan tagihan listrik, relaksasi pembayaran pinjaman dan penundaan pembayaran pajak adalah tiga bantuan yang paling terbutuhkan selama pandemi.

Sebanyak 43,53% pelaku UMB membutuhkan keringanan tagihan listrik untuk usaha, 40,32% pelaku UMB membutuhkan relaksasi atau penundaan pembayaran pinjaman pajak.