BRI Telah Siapkan Rp.5 Triliun Untuk Modali Anak Usaha

Ekonomi – PT Bank Rakyat Indonesia atau PERSERO telah menyiapkan suntikan dana sebesar Rp. 5 Triliun yang akan di gunakan sebagai modal awal usaha memperkuat anak cabang mereka yang sbobetasia baru nantinya.

Direktur Utama BRI yaitu Sunarso menyampaikan bahwa perseroan akan secara rutin menyiapkan suntikan dana kepada anak usaha mereka, dimana saat ini telah memiliki beberapa anak usaha yang tercatat di bank plat merah tersebut seperti PT BRI Syariah, PT Bank BRI Agroniaga, PT Bank Multifinance, PT BRI Ventura Investama, dan PT Asuransi BRI Life.

Baca Juga : BI Ramalkan Rupiah Akan Perkasa Tahun Ini

Dengan persiapan sokongan dana yang cukup besar tersebut, BRI tidak akan melakukan ekpansi anorganik di tahun 2020 ini. pada tahun 2019 yang lalu PERSERO membeli 90 persen saham PT Asuransi BRingin Sejahtera Artamakmur (BRINS). Demi memperkuat dan menyehatkan anak perusahaannya, PT BRI tersebut akan menyiapkan setiap tahun nya dengan cadangan dana yang besar.

Saham yang sebelum nya di beli oleh PT Bank Rakyat Indonesia tersebut, ternyata mengusurkan dana sebesar Rp. 1,04 triliun. Direktur keuangan BRI yaitu Haru Koesmahargyo mengatakan bahwa badan usaha mereka telah memiliki unit usaha pada jasa keuangan hampir semuanya, mulai dari perbankan, asuransi umum, hingga asuransi jiwa.

Dalam kesempatan yang sama juga terdapat isu sama terhadap Traveloka atas berita mengenai suntikan dana, hal ini masih pada tahap penajajakan belum pada finalisasi. Sunfintri mengklaim juga bahwa selain BRI memang ada beberapa perusahaan yang sedang di tahap penjajakan untuk penyuntikan dana tersebut.

Baca Juga : Sektor Industri Dasar Angkat IHSG ke Level 6.249

Menurut Public Relations Director Traveloka yaitu Sunfintri Rahayu bahwa BRI dan Traveloka memiliki sejarah yang cukup panjang juga, pada saat menjadi sebuah perusahaan rintisan kala itu BRI telah bekerja sama dengan Traveloka.

Mungkin saja hal ini dapat membuat orang berpikir bahwa Traveloka juga akan menjadi salah satu anak perusahaan dari pada PT Persero tersebut, dana yang di isukan akan meluncur untuk menyokong aplikasi jual beli barang online tersebut cukup joker388 besar pula.

China Bakal Guyur Dana ke Bank Untuk Kerek Penyaluran Kredit

China bakal guyur dana ke bank untuk kerek penyaluran kredit. Perdana Menteri China Li Keqiang memberikan sinyal akan menyuntikkan lebih banyak uang ke sistem perbankan. Hal itu dilakukan untuk mengerek penyaluran kredit usaha kecil, sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat laju ekonomi.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Xinhua yang dilansir dari AFP, Selasa (24/12), suntikan dana maxbet itu akan diberikan melalui pemangkasan giro wajib minimum perbankan. Dengan pemangkasan tersebut bank akan memiliki lebih banyak dana untuk disalurkan sebagai pinjaman.

Baca juga : Jokowi Resmikan Program B30 Ditemani Ahok

Pernyataan itu disampaikan Li Saat mengunjungi sebuah bank di Chengdu, provinsi Sichuan, China.

Li mengaku menaruh perhatian pada pembiayaan usaha mikro dan kecil. Karenanya, pemerintah akan mencari cara untuk mendukung bank berskala kecil dan medium.

China, sambung Li, akan mengkaji pemangkasan giro wajib minimum dan pemangkasan suku bunga untuk mengurangi kesulitan dan tingginya biaya secara signifikan.

Ekonomi China menghadapi tantangan berat tahun ini di mana lajunya merupakan yang terendah selama tiga dekade yang terakhir situs judi online.

Perlambatan itu tidak lepas dari berlarutnya perang dagang dengan AS dan melemahnya permintaan global.

Bulan ini, China-AS telah menyetujui kesepakatan perdagangan mini yang meredakan tensi perdagangan kedua negara. Kesepakatan tersebut diharapkan bisa membantu mengurangi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu.

Baca juga : Saham Sektor Energi Paling Anjlok di AS Sepanjang 2019

Pada awal pekan ini, pemerintah China menyatakan bakal memangkas tarif impor untuk 850 produk mulai Januari 2020, beberapa di antaranya babi, keju, farmasi, dan komponen telepon pintar.

Sejumlah analis memperkirakan pemerintah China akan berupaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi agen sbobet tahun depan. Hal itu salah satunya dilakukan dengan relaksasi moneter secara moderat.

Pada Oktober lalu, bank sentral China telah memangkas giro wajib minimum perbankan. Kebijakan itu menyuntikkan dana sebesar US$126 miliar ke perbankan untuk mendorong kredit usaha kecil dan menengah.

BI Sosialisasi Transaksi Menggunakan Mata Uang Lokal ASEAN

Bank Indonesia (BI) melakukan sosialisasi perdagangan lintas negara menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) di kawasan Asia Tenggara.

Pelaksanaan sosialisasi LCS dilakukan Bank Indonesia kepada bank yang memfasilitasi kebijakan LCS atau Appointed Cross Currency Dealer Bank (Bank ACCD).

Baca juga: Alasan IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global 2019

Selain itu, sosialisasi juga dilakukan terhadap para importir dan eksportir potensial bank-bank ACCD yang selama ini bertransaksi dagang dengan Malaysia dan Thailand.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko implementasi LCS memiliki peran strategis dalam mendukung efisiensi transaksi, dan pengembangan pasar mata uang lokal. Pada akhirnya, hal itu dapat mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

Secara umum, dia mengklaim penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dengan Thailand dan Malaysia yang difasilitasi oleh bank ACCD di Indonesia menunjukkan progres yang positif.

“Hal ini tercermin dari tren peningkatan transaksi penyelesaian perdagangan dalam mata uang lokal yang difasilitasi bank ACCD dan fitur operasionalisasi yang telah dijalankan bank ACCD,” papar Onny dalam keterangan tertulis, Selasa (16/4).

Baca juga: MRT dan LRT Bisa Kerek Harga Properti

Pada kuartal I 2019, total transaksi perdagangan melalui LCS menggunakan Baht mencapai US$13 juta atau setara Rp185 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$7 juta atau setara Rp96 miliar.

Sementara itu, untuk transaksi LCS menggunakan Ringgit Malaysia mencapai US$70 juta setara Rp1 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar US$6 juta atau setara Rp83 miliar.

Implementasi penggunaan LCS merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia (BNM) dan Bank of Thailand (BOT) pada 23 Desember 2016 dalam rangka mendorong penggunaan LCS.

Hal ini merupakan bagian dari upaya ketiga bank sentral untuk mengurangi ketergantungan dolar AS, meningkatkan pengembangan pasar mata uang lokal, dan pelaksanaan transaksi langsung antar pelaku pasar.

Baca juga: Surat Berharga RI Dikuasai Asing

Dengan demikian, diharapkan dapat berkontribusi positif dalam efisiensi pasar dan menjaga kestabilan nilai tukar.

Penggunaan LCS di kawasan semakin diperkuat dengan penandatanganan komitmen antara BI, BNM, BOT dan Bangko Sentral Pilipinas (BSP) dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral se-ASEAN (ASEAN Finance Minister & Central Bank Governors’ Meeting/AFMGM) pada 5 April 2019 di Chiang Rai, Thailand.