Surat Berharga RI Dikuasai Asing

Rasio kepemilikan investor asing atas Surat Berharga Negara (SBN) yang dikeluarkan RI tercatat yang tertinggi di dunia. Ekonom Faisal Basri menilai kondisi ini membuat RI rentan dengan aksi arus modal keluar (capital outflow) jika terjadi gejolak ekonomi dunia.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kemenkeu per Februari 2019, posisi SBN pemerintah mencapai Rp3.775,79 triliun, di mana 72,12 persen atau sebesar Rp2.723,13 triliun berdenominasi rupiah.

Baca juga: Moody's Turunkan Peringkat Utang Oman Jadi 'Sampah'

Sementara, di antaranya 38,03 persen kepemilikan SBN rupiah dimiliki oleh asing. Angka ini lebih tinggi dari negara-negara lain, seperti China dan India di angka 4 persen, Thailand 15,7 persen, Brazil 16 persen, Turki 18 persen, dan Malaysia 24,6 persen.

“Tidak ada satu negara lain pun yang surat utang pemerintahnya dalam local currency setinggi Indonesia. Jangan di-underestimate (meremehkan) hal ini. Indonesia ini lebih rentan kalau ada gejolak, asingnya bisa menjual, dan ini perlu digarisbawahi,” jelas Faisal, Selasa (26/3).

Memang, ia melanjutkan kondisi ini sejatinya konsekuensi dari perubahan pola utang pemerintah pasca krisis moneter 1998. Pada zaman orde baru, pengelolaan utang jauh lebih sederhana. Sebab, pinjaman dilakukan secara bilateral dan multilateral, sehingga sentimen eksternal tak mempengaruhi risiko utang Indonesia.

Kemudian, bunganya pun terbilang kecil. Bahkan, negosiasi bunga pinjaman masih bisa dilakukan di Paris Club. Yakni, grup informal dari pejabat finansial kakap dari seluruh dunia.

Baca juga: Awal 2019, Utang Pemerintah Nyaris Tembus Rp4.500 Triliun

Meskipun, memang utang zaman orde baru ini tak selamanya lebih nikmat. Faisal menyebut utang zaman dulu juga punya dampak negatif. Misalnya, Indonesia selalu didikte ini-itu acap kali menarik utang. Tetapi saat ini, Indonesia bisa lebih bebas dari tekanan dan konflik kepentingan luar karena lebih banyak berutang dari SBN.

“Bebas merdeka ini tentu ada harganya. Dulu (Indonesia) didikte, tapi dengan bunga rendah. Jika menghadapi kesulitan cicilan dan bunga utang, ada forumnya. Tapi kalau SBN sulit bayar, Indonesia akan dihukum pasar dengan Surat Utang Negara (SUN) dijual besar-besaran,” terang dia.

Kini, porsi SBN di dalam komposisi utang pemerintah meningkat signifikan. Berdasarkan data Kemenkeu per Februari kemarin, total SBN yang diterbitkan pemerintah mencapai Rp3.775,79 triliun, atau 82,69 persen dari utang outstanding pemerintah Rp4.566,26 triliun. Angka ini melambung dari tahun 2010 yang hanya 63 persen saja.

Tetapi, ia memahami bahwa penggunaan SBN punya kelebihan tersendiri, yakni bisa digunakan untuk anggaran apapun. Ini berbeda dengan pembiayaan bilateral atau multilateral, di mana pinjaman harus digunakan untuk kegiatan yang spesifik. Namun, kenaikan porsi SBN tentu bikin potensi risiko ke depan makin kentara.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi Menteri Keuangan Sri Mulyani karena bisa mengelola utang dengan baik. Salah satu bukti pengelolaan yang baik, lanjut dia, adalah tren pertumbuhan ekonomi yang terus membaik di tengah risiko global yang bisa mempengaruhi perekonomian Indonesia, termasuk sisi fiskal.

Baca juga: Freeport Buka Suara Soal Eks Pekerja Menginap di Depan Istana

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,07 persen pada 2017. Kemudian, trennya naik ke angka 2018 menjadi 5,17 persen.

“Jelas pemerintah makin hati-hati, pengelolaan utang makin baik. Kami harus salut dengan Kemenkeu karena bisa menjaga pertumbuhan ekonomi, meski naiknya merangkak. Mereka (Kemenkeu) tentu akan mencari cara paling efektif mengurangi turbulensi akibat potensi risiko struktur utang yang meningkat,” imbuh dia.

Moody’s Turunkan Peringkat Utang Oman Jadi ‘Sampah’

Lembaga pemerintah Moody’s Investors Service menurunkan peringkat utang Oman di level rendah hingga menjadi pada status junk (sampah), yakni Ba1 dari semula Baaa3, dengan prospek peringkat negatif.

Negara di kawasan Timur Tengah yang berbatasan dengan Uni Emirat Arab itu disebut-disebut mengalami tantangan fiskal di tengah kondisi harga minyak yang moderat.

Baca juga: Awal 2019, Utang Pemerintah Nyaris Tembus Rp4.500 Triliun

Moody’s menurunkan peringkat penerbit surat utang jangka panjang dan obligasi senior tanpa jaminan Oman dari Baa3 menjadi Ba1. Level Baa3 sendiri merupakan peringkat tingkat investasi terendah Moody’s.

“Pendorong utama penurunan peringkat adalah perkiraan Moody’s bahwa ruang lingkup konsolidasi fiskal akan lebih terbatas secara signifikan oleh tujuan stabilitas ekonomi dan sosial pemerintah daripada yang seharusnya,” kata Moody’s seperti dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, dua lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dan S&P juga telah menurunkan peringkat Oman menjadi di level terendah dan tak bernilai.

Kas negara produsen minyak itu terpukul oleh kemerosotan harga minyak dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhirnya, defisit anggaran negara meningkat signifikan.

Baca juga: Freeport Buka Suara Soal Eks Pekerja Menginap di Depan Istana

Moody’s mengatakan Oman dapat menghadapi kerentanan ekonomi eksternal karena defisit fiskal yang luas berkontribusi pada defisit neraca berjalan. Hal itu meningkatkan ketergantungan Oman pada aliran modal masuk yang stabil dari pembiayaan luar negeri.

Prospek negatif mencerminkan risiko bahwa kesediaan investor asing untuk membiayai defisit Oman yang besar dengan biaya rendah semakin melemah. Hal itu memperburuk kondisi eksternal dan meningkatkan tekanan likuiditas pemerintah.

Oman menaikkan US$8 miliar dalam penjualan obligasi internasional tahun lalu, menutupi defisit 3 miliar rial (US$7,79 miliar) yang diproyeksikan terjadi pada anggaran negara 2018.

Baca juga: Vale Indonesia Masih Tunggu Arahan ESDM Soal Divestasi Saham

Pemulihan harga minyak tahun lalu mempersempit defisit anggaran sebesar 43 persen menjadi 1,87 miliar rial selama Januari hingga November.

Jeli Ambil Peluang Investasi Sukuk dan Produk Syariah

Layar video via internet menjadi sumber inspirasi bagi pegiat usaha rintisan (start up) Muhammad Hafizh untuk mulai berinvestasi pada instrumen sukuk tabungan.

Pria kelahiran Jakarta itu mengaku menginvestasikan sejumlah dananya pada sukuk tabungan 002 karena mendapat informasi via sosial platform video, Youtube. Saat menonton pertama kali, ia mengaku terpikat pada imbal hasil yang tinggi dan risiko yang minim karena memperoleh jaminan pemerintah.

“Awal mula tahu investasi sukuk 002 itu dari Youtube, ada video yang kasih informasi dasar soal sukuk, lalu jadi tertarik karena melihatnya aman,” ujarnya, Jumat (16/11).

Lihat juga: Pemerintah Yakin Kuasa Modal Asing Tak Tekan UMKM

Hafizh mengaku tak terlalu peduli dengan jenis instrumen yang dipilih, baik konvensional atau berbasis syariah yang identik dengan investasi halal, karena tak terpengaruh apa-apa pada dirinya.

Menurut dia, hal terpenting yang lebih dipertimbangkan adalah instrumen investasinya minim risiko. Selain itu, ia juga memilih instrumen investasi berdasarkan tujuan penggunaan dananya. Hafizh merasa perlu memperhatikan tujuan penggunaan dana karena ingin berkontribusi pada hal-hal positif.

“Bunganya lumayan 8 persen lebih, nilainya juga terjangkau minimal Rp1 juta. Lagipula dana sukuk tabungan katanya mau dipakai untuk membangun infrastruktur, produktif. Jadi saya merasa perlu berkontribusi dengan berinvestasi,” sambungnya.

Pemerintah sudah resmi menawarkan Sukuk Tabungan seri ST 002 dengan imbal hasil yang menggiurkan hingga 8,3 persen per tahun. Bisa dikatakan, imbal hasil ini merupakan yang tertinggi dari surat berharga ritel terbitan pemerintah sepanjang 2018.

Lihat juga: Tahapan dan Syarat Merpati Jika Ingin Beroperasi Kembali

Sebelumnya, surat berharga ritel dengan imbal hasil tertinggi dicatat oleh Savings Bond Ritel (SBR) 004 dengan imbal hasil 8,05 persen. Hanya saja, tak semua orang mengenal instrumen investasi tersebut.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Sukuk Tabungan seri ST 002 merupakan instrumen investasi dengan suku bunga mengambang (floating rate) tergantung pergerakan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR). Dalam perhitungannya, ST 002 memiliki formulasi BI 7 Days RRR sebesar 5,75 persen ditambah spread sebesar 2,55 persen.

Jika nantinya BI 7DRRR meningkat, sudah tentu imbal hasil ST 002 meningkat. Namun, jika suku bunga BI 7DRRR mengempis, maka imbal hasil ST 002 tidak akan jatuh ke bawah 8,30 persen, karena menganut sistem suku bunga mengambang.

Lihat juga: Merpati Pernah Ajukan Proposal Damai Tak Kredibel ke Kemenkeu

Perencana Keuangan dari Zelts Consulting Ahmad Gozali menjelaskan suku bunga yang mengambang ini merupakan kelebihan dari ST 002 dibanding instrumen lain. Terlebih, instrumen dengan suku bunga tetap (fixed income) seperti sukuk fixed income dan Reksa Dana Penyertaan Tetap (RDPT) dianggap sedang turun nilainya.

“Dengan ST 002, investor jadi punya alternatif investasi syariah fixed income yang menarik dengan imbal hasil 8,3 persen dibandingkan sukuk sebelumnya yang di bawah itu. Di tengah tren kenaikan suku bunga saat ini, kehadiran ST 002 tentu sangat menarik,” jelas Ahmad.

Di samping itu, sistem bunga mengambang membuat imbal hasil yang diterima bisa mengikuti suku bunga acuan yang terus meningkat. Instrumen investasi ini cocok bagi masyarakat dengan modal minim, karena masyarakat bisa berinvestasi dengan minimum pemesanan Rp1 juta hingga Rp3 miliar.

Lihat juga: Buruh Jateng Protes UMP, Menteri Hanif Sebut Skema Sudah Baik

Dengan mengikuti skema seperti ini, jangan pernah takut ST 002 tidak mengikuti konsep syariah sama sekali. Sukuk seri kedua ini dicap tidak mengandung unsur judi (maysir), ketidakjelasan (gharar), dan riba serta dinyatakan sesuai syariah oleh Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

“ST ini floating rate sehingga bisa mengikuti tren kenaikan suku bunga yang dikhawatirkan terjadi jika rupiah melemah kembali terhadap dolar AS,” paparnya.

Imbal hasil sukuk tabungan ST 002 memang terlihat menggiurkan. Namun, bukan berarti seluruh instrumen investasi syariah adalah instrumen paling menguntungkan di antara instrumen investasi lainnya. Sebab, kadang yang terjadi adalah sebaliknya.

Lihat juga: Jokowi Minta Bupati Lancarkan Investasi di Daerah

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan ada kalanya imbal hasil investasi syariah lebih kecil. Reksa dana syariah, misalnya, punya nilai imbal hasil 5 persen hingga 10 persen lebih kecil dibanding reksa dana konvensional. Apalagi, pilihan produknya pun cukup terbatas dan belum begitu berkembang di Indonesia.

Meski demikian, ia menganggap risiko investasi syariah ini lebih kecil dibanding konvensional seiring syarat yang ketat. Menurut dia, himpunan dana masyarakat ini tidak akan lari ke perusahaan abal-abal karena investasi syariah memberlakukan syarat-syarat keuangan tertentu.

Sebagai contoh, perusahaan penerbit saham syariah harus memiliki total utang yang berbasis bunga tidak boleh lebih dari 82 persen dari total ekuitas. Selain itu, total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya tidak boleh lebih dari 10 persen ketimbang total pendapatan. Dan khusus untuk sukuk yang diterbitkan pemerintah, tentu proyek-proyek pemerintah harus dijadikan sebagai underlying asset.

Lihat juga: OJK 'Lepas Tangan' Soal Bunga Investasi Tinggi Fintech

“Risiko syariah ini memang lebih rendah, karena keharusan utangnya juga lebih rendah. Selain itu, bisnisnya kan juga harus halal, ya memang risikonya lebih rendah. Tapi kadang kenyataannya, kalau nilai saham syariah lagi turun, turunnya tinggi banget,” ujarnya.

Meski masih terbatas, ia meyakini tren investasi syariah ke depan akan semakin diserbu bak kacang goreng. Sebab, semakin banyak orang menyadari bahwa dibutuhkan keseimbangan antara dunia dan akhirat dan lebih menekankan sisi keamanan investasi.

Bahkan, investasi syariah ini disebutnya mulai digandrungi negara maju seperti Inggris seiring meningkatnya kesadaran akan investasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Muslim sadar, walau pun return lebih kecil tapi ya tidak masalah. Sekarang juga di sekuritas banyak pilihannya, dan perbankan juga banyak yang menawarkan produk syariah,” pungkas dia.