Ekonom Indonesia Mengatakan Virus Corona Memperlambat Bisnis Pariwisata

Ekonomi – PT Bank  Mandiri (PERSERO) menyatakan bahwa virus corona yang tak kunjung selesai membuat dampak negatif bagi bisnis pariwisata. Secara global khususnya negara yang sangat berdekatan dengan China menjadi salah satunya, akibat dari hal tersebut akan menunda perjalanan ke dari dan ke China.

Pada akhirnya masyarakat dunia terutama wilayah yang terdekat dengan negara China, akan mulai tidak percaya diri untuk melakukan traveling. Hal ini akan sangat berdampak sekali bagi bisnis pariwisata tertuma pada bidang travel, seperti pesawat, hotel dan lain lain. Ungkap Chief Economist Bank SCR888 Mandiri Andry Asmoro.

Baca Juga : Tarif Tol Dalam Kota Akan Segera Naik

Diketahui beberapa negara seperti Inggris telah mengeluarkan peringatan, kementerian Inggris membuat travel warning kepada seluruh penduduknya yang ingin berpergian. Sementara itu pemerintah China juga mengisolasi para penduduk Wuhan akibat virus corona.

Andry mengaku belum bisa membuat ramalan secara spesifik, seberapa parah dampak yang ditimbulkan dari penyebaran virus tersebut. Perekonomian cina juga mendapatkan sentimen negatif, hal ini harus diperhatikan dan juga mendapatkan penanganan selama 1 sampai 2 bulan kedepan.

Jika tidak ada penangan yang menyeluruh bisa berdampak negatif juga bagi Indonesia sendiri, harapan dari ekonom Bank Mandiri tersebut agar hal ini bisa lebih cepat diatasai secara menyeluruh. Agar orang dapat berpergian lagi sehingga bisnis di tanah air pun dapat lancar.

Secara keseluruhan saat ini ekonomi Indonesia dapat diperkirakan tumbah 5,1 persen selama 1 tahun kedepan. Namun jika hal ini ‘virus corona’ tidak ditangani secara cepat dan juga signifikan kemungkinan terjadi akan menurun sampai pada angka 4,75 persen pada pertumbuhan ekonomi kita sendiri.

Baca Juga : BRI Telah Siapkan Rp.5 Triliun Untuk Modali Anak Usaha

Saat ini Bank Mandiri telah meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik mencapai angka 5,06 persen pada tahun 2019. Hal tersebut karena adanya dukungan dari kenaikan sejumlah harga pada konsumsi rumah tangga dan juga komoditas.

Harapan terbaik dari bangsa Indonesia pastinya virus tersebut dapat diatasi sebaik mungkin dalam kurung waktu yang di minimalisir juga, sehingga aktifias antar negara seperti perdagangan internasional dapat berjalan lancar. Kebutuhan pendapatan daerah juga terjadi penurunan sangat drastis, saat ini beberapa tempat wisata yang biasanya mendapat kunjungan seperti Bali mencapai di angka sekitar 1,8 juta orang sekarang hanya 400 orang saja perbulannya.

Dana Desa Masih Jadi Tantangan Menurut Ekonom

Dana desa jadi tantangan. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal melihat penetapan sejumlah menteri dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai bagian dari kompromi politik. Ia pun menegaskan agar penempatan menteri dari partai politik yang juga memiliki kompetensi dan merupakan profesional di bidangnya.

Diketahui, tiga politikus asal PKB menempati pos menteri dalam susunan Kabinet Indonesia Maju. Tiga politikus itu, yakni Agus Suparmanto sebagai Menteri Perdagangan, Ida Fauziyah sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Abdul Halim Iskandar sebagai Menteri Desa dan PDTT.

“Ini kan kalau kita lihat dari kemarin, ini kan jatahnya PKB memang ya,” kata Fithra.

Baca juga: Pengumuman Kabinet Indonesia Maju Kerek Nilai Tukar Rupiah

Menurutnya, penempatan Abdul Halim yang merupakan kakak kandung dari Ketua Umum PKB kental dengan nuansa nepotisme. Selain itu, kementerian Desa dan PDTT juga dinilai sebagai kementerian yang strategis bagi PKB sehingga dipertahankan.

Ia menilai penempatan politisi PKB di pos kementerian tersebut dapat strategi jangka panjang untuk meningkatkan konsituennya yang sebagian besar berada di desa maxbet.

“Saya rasa kemudian bisa dimaklumi pak Muhaimin menaruh orang terdekatnya. Karena ini bisa dibilang sebagai mesinnya PKB,” jelas dia.

“Tapi saya rasa untuk kementerian ini, ya selama ini menjadi motor penggeraknya PKB di daerah,” tambahnya.

Ia pun melihat, ke depannya Abdul harus memperhatikan penggunaan Dana Desa karena sejauh ini gelontoran dana yang dikerahkan kerap kali tidak efisien dan efektif dalam penggunaannya.

Menurutnya, perlu ada pendampingan teknis dari pemerintah provinsi ataupun pusat. Sehingga, penggunaan dana desa dapat efektif dan tidak hanya sekedar terserap.

“Selama ini banyak memang gelontoran anggaran desa yang tidak efisien, bahkan beberapa harus berurusan dengan KPK. Karena secara kapasitas untuk mengelola anggaran sebesar itu, di desa memang masih terbatas,” imbuh dia.

Untuk diketahui, Dana desa pertama kali disalurkan tahun 2015 sebesar Rp20,67 triliun atau Rp280,3 juta per desa. Tingkat penyerapannya sebesar 82,72 persen.

Baca juga: Pelantikan Jokowi Beri Berkah Terhadap Saham Sektor Konstruksi

Lalu, jumlahnya bertambah dua kali lipat pada 2016 menjadi Rp46,98 triliun atau Rp643,6 juta perdesa. Tingkat penyerapannya pun tumbuh menjadi 97,65 persen.

Pemerintah kembali mengerek dana desa menjadi Rp60 triliun atau Rp800,4 juta per desa pada 2017. Tingkat penyerapannya sebesar 98,41 persen.

Untuk tahun 2018, dana desa tetap di posisi Rp60 triliun atau Rp800,4 juta per desa. Namun, tingkat penyerapannya meningkat menjadi 99,03 persen.

Tahun ini, pemerintah kembali meningkatkan dana desa menjadi Rp70 triliun atau Rp933,9 juta tiap desa.

Ekonom Nilai Sentimen Kerusuhan 22 Mei Bersifat Sementara

Ekonomi – Ekonom menilai sentimen negatif kerusuhan demonstrasi 22 Mei kepada kepercayaan investor hanya bersifat temporer.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat larinya modal asing tidak akan berlangsung lama. Ia bilang kondisi ini tidak sepenuhnya dipicu sentimen negatif dari domestik. Sebab beberapa mata uang dan indeks global juga terpantau melemah.

Baca juga: Sri Mulyani Pastikan Revisi PP THR Terbit Pekan Ini

“Saya kira ini temporer saja. Hal yang seperti ini sudah beberapa kali terjadi di kita (Indonesia). Kalau ini tidak berlarut-larut investor masih bisa melihat ini hal yang wajar,” katanya.

Meski bersifat sementara, ia menilai pemerintah dan aparatur keamanan harus mengambil sikap tegas untuk menyelesaikan aksi demonstrasi. Pasalnya, jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut pastinya akan mempengaruhi kepercayaan investor terhadap investasi di Indonesia.

“Mereka pastinya agak was-was, kejadian begini lagi tentu mereka pasti agak enggan juga datang ke Indonesia. Jadi sebaiknya pemerintah dan keamanan segera menyelesaikan,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menyebut hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah sesuai dengan ekspektasi investor. KPU sendiri telah mengumumkan hasil Pilpres pada Selasa (21/5) dini hari yang menyebut bahwa pasangan calon Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin sebagai pemenang.

Dengan demikian, seharusnya hasil Pilpres 2019 menjadi sentimen positif bagi investasi di Indonesia.

Baca juga: Harga Emas Antam Cuma Naik Rp500 per Gram

“Jadi ini tinggal menunggu bagaimana ketegasan Pak Jokowi dalam posisinya sebagai pemerintahan sekarang. Pemerintah harus tegas supaya ini tidak berlarut-larut,” tuturnya.

Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menyampaikan pendapat yang sama. Ia menuturkan pemerintah dan aparatur keamanan harus segera mengembalikan stabilitas keamanan dan politik. Dengan demikian, investasi yang saat ini meninggalkan pasar Indonesia (capital outflow) bisa segera kembali.

“Situasi yang kembali kondusif dan stabil tentunya akan mempercepat peningkatan kepercayaan investor baik untuk menanamkan modalnya di portofolio maupun investasi langsung,” ucapnya.

Ia mengamini pernyataan Lana jika hasil Pilpres 2019 memberikan sentimen positif bagi investasi khususnya investasi langsung. Pasalnya, dengan terpilihnya Jokowi sebagai calon petahana maka dapat dipastikan bahwa kebijakan ekonomi akan berlanjut bahkan diharapkan dapat diakselerasi.

“Misalnya, deregulasi dan reformasi ekonomi akan berlanjut dan diharapkan dapat lebih cepat, karena sudah lebih berpengalaman dan mempunyai dukungan politik yang lebih kuat,” imbuhnya.

Baca juga: Pekerja Ajukan Tujuh Tuntutan ke Pemerintah

Seperti diketahui, massa pendukung pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melakukan aksi demonstrasi dari Selasa (21/5) malam dan masih berlanjut pada hari ini, Rabu (22/5). Aksi demonstrasi itu diwarnai insiden antara demonstran dengan aparatur keamanan.

Demonstran yang datang menyuarakan penolakan terhadap hasil penghitungan KPU serta menyuarakan dugaan kecurangan pada Pilpres 2019.