ESDM Dukung OPEC Pangkas Produksi Minyak Hingga Maret 2020

Ekonomi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendukung langkah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk memperpanjang kebijakan pemangkas produksi minyak mentah. Pasalnya, kebijakan itu bisa efektif menstabilkan harga.

“Kalau kami ingin harga minyak stabil. Kebijakan OPEC itu untuk menstabilkan harga,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Djoko Siswanto di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (3/7).

Baca juga: RI-Argentina Ingin Gandakan Nilai Perdagangan

Seperti dilansir dari Reuters, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) atau sekitar 1,2 persen permintaan global hingga Maret 2020. Keputusan itu diambil pada pertemuan yang digelar Selasa (2/7) di Wina, Austria.

Sebagai catatan, kelompok yang juga dikenal dengan sebutan OPEC+ itu telah menjalankan kebijakan pemangkasan produksi sejak awal tahun ini demi mengerek harga. Kesepakatan itu sebenarnya hanya berlaku untuk enam bulan atau berakhir pada Juni 2019 lalu.

Djoko mengungkapkan stabilitas harga minyak merupakan hal penting. Jika harga minyak mentah dunia terangkat sehingga harga minyak mentah Indonesia (ICP) melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019, US$70, pemerintah akan mendapatkan kelebihan penerimaan (windfall profit) seperti tahun lalu.

Namun, di sini hilir, kenaikan harga minyak akan mneyebabkan membengkaknya nilai impor BBM yang akan berimbas pada neraca dagang dan beban PT Pertamina (Persero).

Sebaliknya, apabila harga minyak terlalu rendah maka penerimaan negara dari sektor migas dan komoditas akan berkurang.

Baca juga: Trump dan Xi Jinping Akan Bertemu di G20

Keputusan pemangkasan produksi OPEC sempat mendongkrak harga minyak sesaat pada perdagangan Selasa (3/7), waktu Amerika Serikat (AS). Namun, keputusan itu tak cukup untuk menghalau kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi global serta tingginya produksi minyak AS. Akibatnya, harga minyak dunia ditutup melemah di penutupan perdagangan.

Harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$2,66 atau 4,1 persen menjadi US$62,4 per barel. Pelemahan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,48 atau 4,8 persen menjadi US$56,25 per barel.