Siapkan Bantalan Saat Gaji Tidak Naik

Gaji tidak naik. Gaji memang pendapatan andalan para pekerja untuk memenuhi segala kebutuhan. Namun, bergantung pada gaji dan menaruh harap gaji naik setiap tahun juga tidak dianjurkan. Sebab, permasalahan keuangan bisa datang tanpa diundang.

Perencana Keuangan Zielts Consulting Ahmad Gozali mengatakan masyarakat sbobet harus memahami prinsip perbandingan penghasilan dengan jumlah pengeluaran berjalan beriringan.

Sederhananya, jika penghasilan tidak naik, maka pengeluaran tidak boleh naik. Namun, apabila pengeluaran naik, penghasilan harus didongkrak naik. Persoalannya, jika Anda hanya memiliki satu sumber penghasilan, yaitu dari gaji, tentu sangat berat memenuhi peningkatan pengeluaran.

Baca juga : Ahok Disebut Bakal Urus BUMN Strategis

Makanya, ia menyarankan agar Anda membuka pintu penghasilan lain agar dapat keluar dari ketergantungan terhadap gaji. “Darimana penghasilan itu? Bisa dari bisnis atau pun investasi,” ujarnya.

Namun, patut diingat, investasi di periode awal, bukan lah untuk mengejar imbal hasil, melainkan mengejar pertumbuhan. Soalnya, umumnya investasi baru bisa diandalkan ketika volumenya sudah besar.

Artinya, di periode awal situs judi online, investasi harus disirami dengan modal terus menerus. Hasilnya sendiri baru bisa dinikmati dalam jangka waktu menengah hingga panjang.

Pilihan lain untuk membuka pintu penghasilan selain gaji adalah berbisnis. Keuntungan dari bisnis lebih cepat diperoleh ketimbang investasi. Namun, persoalannya, berbisnis membutuhkan modal awal yang tidak sedikit. Belum lagi, tenaga, waktu, dan pikiran.

“Intinya, agar jangan hanya mengandalkan dari satu sumber penghasilan saja,” imbuh Ahmad.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa dua sumber alternatif penghasilan tersebut di atas diperlukan sebagai bantalan keuangan bila terjadi peningkatan pengeluaran.

Bila Anda memutuskan berinvestasi pun, jangan buru-buru tergiur menikmati hasilnya. “Selama penghasilan sudah jauh di atas pengeluaran konsumtif, biarkan investasi Anda bertumbuh. Kalau pun konsumsi naik, toh persentasenya saja yang berubah,” tuturnya.

Baca juga : Harga Cabai Anjlok Hingga Rp7.100 per Kg

Namun, bila penghasilan sebagian besar digunakan untuk pengeluaran konsumtif, maka Anda perlu berbisnis. “Kalau tidak memiliki waktu lebi, setidaknya cari dan tanamkan modal pada orang atau rekan yang dipercaya. Ini bisa menjadi solusi,” terang Ahmad.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi Andy Nugroho menyebut berhemat juga bisa menjadi salah satu kunci menekan pengeluaran di tengah persoalan gaji yang tidak naik.

Andy juga menyarankan mencari penghasilan kecil-kecilan dengan bekerja sampingan. “Dapat menjadi sopir taksi online sebelum atau setelah pulang kerja di kantor demi penghasilan tambahan. Bisa juga dengan menjadi reseller online, atau content creator di media sosial,” tandasnya.

Toh, di era globalisasi saat ini, banyak cara atau pilihan yang mudah untuk dapat link alternatif sbobet keluar dari ketergantungan terhadap gaji.

Survei Ungkap Gaji dan Karir Penyebab Pindah Kerja di 2018

Survei firma konsultasi Sumber Daya Manusia (SDM) Mercer Indonesia menunjukkan jenjang karier yang mandeg serta kenaikan gaji yang tidak memuaskan menjadi dua alasan utama pegawai kerap berpindah-pindah kerja pada tahun ini.

Career Business Leader Mercer Indonesia Astrid Suryapranata menjelaskan kesimpulan didapat dari hasil survei terhadap 545 perusahaan. Dari hasil survei didapat jawaban, sebanyak 53 persen responden mengisi jenjang karier yang tak jelas sebagai alasan utama pekerja mundur dari perusahannya di dalam kuesionernya.

Sementara itu, di dalam kuesioner surveinya, 51 persen perusahaan mengisi gaji yang tak kompetitif sebagai alasan utama pegawainya tak betah bekerja. “Ini adalah dua alasan tertinggi yang disampaikan pegawai ketika keluar dari perusahaannya. Sehingga yang menjadi top of mind bagi mereka untuk resign adalah my career dan my income,” jelas Astid, Kamis (6/12).

Lihat juga: Jeli Ambil Peluang Investasi Sukuk dan Produk Syariah

Untuk masalah jenjang karier, sebagian besar dipermasalahkan oleh pegawai yang benar-benar berbakat dan berkontribusi besar bagi perusahaan. Sebanyak 50 persen responden mengatakan, setiap satu dari empat pegawai yang mengundurkan diri merupakan orang yang cukup berjasa bagi perusahaan mereka.

Bahkan, 26 persen responden juga menyebut, setiap dua dari empat orang yang keluar merupakan pegawai yang cukup produktif. Mereka semua merasa bahwa kariernya akan menemui jalan buntu jika terus bekerja di perusahaannya saat ini lantaran tidak adanya promosi.

Kondisi ini tentu harus diantisipasi segera oleh perusahaan. Sebab, pegawai yang memiliki kontribusi tinggi bagi perusahaan tentu berimbas baik ke kinerja perusahaan secara keseluruhan. “Jadi ini harus diperhatikan dari sisi jenjang karier dan kesempatan untuk bertumbuh bagi talent-talent tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, sebagian besar pegawai yang keluar karena masalah gaji merasa bahwa kompensasi yang tidak diterimanya tidak adil. Utamanya, ini dirasakan oleh pegawai yang sudah lama mengabdi di perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, terdapat pegawai bernama A dan B. Diketahui, A dan B memiliki jabatan serupa di sebuah perusahaan. Hanya saja, A sudah berkarier sejak dulu, sementara B baru saja keluar dari pekerjaannya yang lama dan telah direkrut oleh perusahaannya saat ini.

Lihat juga: Pemerintah Yakin Kuasa Modal Asing Tak Tekan UMKM

Ternyata, menurut hasil survei, gaji yang diterima oleh A bisa lebih kecil dari B meski memiliki tingkatan pekerjaan yang sama. Tak berhenti sampai situ, kenaikan gaji yang diterima A ternyata juga bisa lebih kecil dari B. Jika B bisa mendapatkan kenaikan gaji 20 persen per tahun, maka A hanya mendapatkan kenaikan gaji 15 persen saja.

“Ini membuat pegawai merasa bahwa pendapatannya tidak akan maju jika mereka tetap bekerja di perusahaannya sekarang. Pekerja itu kemudian berpikir, lebih baik pindah kerja saja sesegera mungkin. Ini pun perlu diperhatikan perusahaan, bagaimana ketika melakukan promosi, apakah ada policy tertentu yang diberikan,” papar Astrid.

Setelah mengundurkan diri, biasanya pegawai akan kembali melamar kerja di sektor yang sama dengan perusahaan sebelumnya. Jarang sekali ada pegawai yang melamar pekerjaan di sektor yang berbanding terbalik dengan perusahaan sebelumnya.

Ia kemudian menjabarkan, sektor yang paling banyak mengalami keluar-masuk pegawai adalah sektor informasi dan teknologi (IT). Presentase keluar masuk karyawan di perusahaan IT mencapai 10,6 persen di tahun 2018. Angka ini lebih tinggi dari rerata industri yang rata-rata angka keluar masuk karyawan mereka hanya 7,4 persen saja. Nilai ini, lanjut Astrid, diperoleh dengan membandingkan jumlah orang yang keluar per tahun dengan total pegawai yang bekerja di perusahaan tersebut.

Lihat juga: Tahapan dan Syarat Merpati Jika Ingin Beroperasi Kembali

Di sisi lain, sektor industri kimia ternyata malah memiliki nilai keluar masuk karyawan yang cukup kecil, 4,4 persen saja. Menurut dia, angka di perusahaan ini seharusnya menjadi evaluasi bagi perusahaan.

“Zaman sekarang, perusahaan seharusnya tidak hanya bicara keluar masuk, tetapi bicara bahwa orang yang keluar ternyata adalah orang yang dibutuhkan oleh company. Ini yang perlu dijaga,” pungkas Astrid.