G20 Beri Keringanan Bayar Utang Negara Miskin

G20 beri keringanan bayar utang negara miskin. Dalam pertemuan virtual ketiga para Menteri Keuangan beserta Gubernur Bank Sentral dari kelompok G20 pada Sabtu, (18/07) lalu. Forum ini telah menyepakati pemberian keringanan pembayaran data sgp utang luar negeri (Debt Service Suspension Initiative) kepada negara-negara miskin yang terdampak COVID-19 akan terus berlanjut.

Selain itu, mereka juga menyepakati pentingnya perluasan akses ekonomi, pendidikan, dan lapangan kerja bagi perempuan, pemuda, dan UMKM. Serta pemanfaatan teknologi dalam pembangunan infrastruktur (infratech), dan penguatan resiliensi sektor keuangan.

Dalam kesempatan ini, IMF juga menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 diperkirakan akan berdurasi lebih lama dari perkiraan. Hal itu akan menyebabkan perekonomian global terkontraksi pada 2020. Perbaikan indikator ekonomi dan dukungan kebijakan stimulus moneter, serta fiskal di berbagai negara, masih relatif lemah. Dengan perkembangan tersebut, perekonomian global diperkirakan baru akan kembali tumbuh positif pada 2021.

Baca juga : Corona Buat Perusahaan Global Tanggung Utang Baru Rp14.468 T

Negara-negara anggota G-20 telah memutuskan untuk membebaskan pembayaran utang bagi negara-negara termiskin login joker123 di dunia selama satu tahun. Negara-negara tersebut diharapkan bisa lebih fokus dalam menghadapi pandemi Virus Corona. Mereka juga menegaskan kembali, janji untuk mengerahkan semua alat kebijakan yang tersedia. Untuk menangani krisis kesehatan dan ekonomi yang selama pandemi COVID-19 ini.

Dengan lebih dari empat belas juta kasus dan kematian mencapai 600 ribu korban jiwa di seluruh dunia. Banyak dari negara-negara kurang berkembang yang sulit menghadapi beban pandemi ini. Negara tersebut tidak memiliki kekuatan dana belanja untuk menangani pengobatan dan ekonomi yang terpuruk. Akibat langkah lockdown yang mereka berlakukan demi menahan penyebaran virus.

G20 Beri Keringanan Bayar Utang Negara Miskin

Para menteri keuangan live22 dan Gubernur Bank Sentral G20 juga mendukung penghentian pembayaran utang untuk negara-negara termiskin. Disebutkan pula jika semua kreditor resmi bilateral akan berpartisipasi dalam inisiatif ini.

Menteri Keuangan Saudi Mohammed Al-Jadaan yang saat ini memimpin G-20, menyetbutkan. “Negara-negara miskin tidak perlu khawatir tentang pembayaran selama 12 bulan ke depan,” ujarnya pada Kamis (16/4/2020).

“Inisiatif ini akan menyediakan dana hampir USD 20 miliar likuiditas langsung, bagi negara-negara miskin untuk digunakan sebagai dana sistem kesehatan. Dan mendukung mereka menghadapi COVID-19,” kata Mohammed Al-Jadaan dalam konferensi pers.

“G20 menaruh uang kami di tempat yang kami tuju, dan berkomitmen untuk lebih mendukung dunia saat menghadapi pandemi ini,” tambahnya.

Baca Juga : Harga Emas Atam Naik Rp 6.000

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sebelumnya telah menyerukan kepada pemerintah. Untuk memberikan keringanan utang kepada negara-negara yang paling membutuhkan. Para menteri keuangan dari Kelompok G-7 yang berisi negara maju juga sepakat untuk melakukannya joker123.

Pemberi pinjaman yang berbasis di Washington itu. Telah bergegas untuk menggelar pembiayaan darurat dan telah menerima permintaan bantuan dari 100 negara.

IMF memiliki kapasitas pinjaman USD 1 triliun dan telah menggandakan fasilitas pembiayaan daruratnya. Lembaga ini juga fokus pada negara-negara termiskin yang membutuhkan bantuan.

“Target kami adalah melipat tigakan apa yang kami lakukan untuk negara-negara ini,” ujar Kepala IMF Kristalina Georgieva.

IMF Sebut ASEAN Menjadi Titik Terang Ekonomi Global

ASEAN menjadi titik terang ekonomi global. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Geogieva menyebut bahwa ASEAN menjadi titik terang dalam ekonomi global. Hal itu disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pertemuan keduanya dilakukan di sela-sela KTT ASEAN ke-35 di Impact Arena live22, Nonthaburi, Thailand, Minggu (3/11).

Baca juga: Kunjungan Turis Turun 10 Persen Pada September 2019

“Presiden dan Direktur Pelaksana IMF melakukan tukar pikiran mengenai situasi ekonomi global dan kawasan,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang mendampingi Jokowi dalam pertemuan.

Kepada Jokowi, Georgieva mengatakan ekonomi global tengah mengalami perlambatan dengan pertumbuhan ekonomi berada di level terendah dalam satu dekade terakhir.

Ekonomi asal Bulgaria itu juga menyoroti banyaknya ketidakpastian yang diciptakan akibat tensi ekonomi dan politik.

Menurut dia, perlambatan ekonomi tidak hanya terjadi pada sektor perdagangan, tetapi juga pada investasi dan manufaktur yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan.

“Di sisi lain, Direktur Pelaksana IMF melihat bahwa kondisi ASEAN lebih baik dan ia bilang ekonomi ASEAN masih berada di bright spot in the world economy,” tutur Retno.

Baca juga: Menko Luhut Pegang Komando Kebijakan Tiket Pesawat

Sementara itu, Presiden Jokowi menyampaikan prioritas pemerintah Indonesia dalam lima tahun ke depan, yakni pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), melanjutkan pembangunan infrastruktur, reformasi struktural, dan penyerderhanaan peraturan-peraturan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku program prioritas sbobet yang telah disampaikan Presiden Jokowi mendapat sambungan baik dari bos baru IMF itu.

“IMF sangat mendukung dan mengatakan (prioritas) ini sudah tepat, terutama diusulkan untuk menjaga kestabilan moneter, melakukan reformasi peraturan-peraturan, dan mengambil kebijakan yang terkait instrumen fiskal,” imbuh dia.

Alasan IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global 2019

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2019 menjadi 3,3 persen dari semula 3,5 persen. Revisi proyeksi ekonomi itu tentu disertai berbagai pertimbangan.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) 2019 yang diterbitkan 9 April 2019 disebutkan, IMF memandang ekonomi dunia menghadapi risiko-risiko penurunan karena ketidakpastian potensial. Hal itu terutama terkait ketegangan perdagangan global yang sedang berlangsung, serta faktor-faktor spesifik negara dan sektor lain.

Baca juga: MRT dan LRT Bisa Kerek Harga Properti

Kepala ekonom IMF Gita Gopinath menulis dalam sebuah unggahan di blog bahwa proyeksi perlambatan pada 2019 telah semakin meluas.

“Ini mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama termasuk kawasan Euro, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia,” kata Gopinath seperti dikutip Antara, Rabu (10/4).

Hilangnya momentum pertumbuhan, kata Gopinath, berasal dari paruh kedua tahuan 2018, ketika ekonomi dunia dilanda ekspansi global yang melemah secara signifikan. Laporan WEO mengatakan pertumbuhan global tetap kuat di 3,8 persen pada paruh pertama 2018, tetapi turun 3,2 persen pada semester kedua.

Baca juga: Surat Berharga RI Dikuasai Asing

Gopinath mengungkapkan pelemahan ekonomi sebagian besar disebabkan situasi ketegangan perdagangan global, tekanan ekonomi makro di Argentina dan Turki. Selain itu, dipengaruhi pula oleh gangguan pada sektor otomotif di Jerman, dan pengetatan keuangan bersamaan dengan normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju yang lebih besar.

Dalam laporan tersebut disebutkan, IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan global untuk 2019 menjadi 3,3 persen, turun 03, persen dari estimasi Januari 2019.

Proyeksi itu juga lebih rendah di bawah angka 2018 sebanyak 0,3 persen. Dalam skala regional, proyeksi laju pertumbuhan negara-negara maju adalah 1,8 persen pada 2019 dan 1,7 persen tahun depan. Keduanya di bawah tingkat proyeksi dua tahun terakhir yang tercatat di atas level 2 persen.

Baca juga: Moody's Turunkan Peringkat Utang Oman Jadi 'Sampah'

Lembaga moneter independen itu juga memperkirakan laju ekonomi di negara berkembang pada 2019 hanya 4,4 persen atau menyusul 0,1 persen dari pada 2018.