Pasokan AS Meningkat Membuat Harga Minyak Dunia Melorot

Harga minyak dunia melorot. Harga minya mentah terkoreksi pada perdagangan Rabu (28/11). Peningkatan pasokan di Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama pelemahan harga komoditas tersebut.

Mengutip Antara, harga minyak mentah berjangka Brent turun 21 sen ke level US$64,06 per barel. Kemudian, harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 30 sen menjadi US$58,11 per barel.

Badan informasi agen maxbet Energi AS melaporkan stok minyak di Negeri Paman Sam meningkat 1,6 juta barel pekan lalu. Ini terjadi lantaran jumlah produksinya mencapai 12,9 juta barel per hari.

Baca juga : BUMN Buka Kemungkinan Anak Usaha Jiwasraya Dikuasai Asing

Realisasi itu berbanding terbalik dengan prediksi sejumlah analis. Dalam hal ini, banyak pihak yang memproyeksi pasokan minyak AS justru turun 418 ribu barel.

Ditambah, EIA juga mencatat situs judi online stok bensin AS melonjak 5,1 juta barel. Angkanya lagi-lagi tidak seperti perkiraan analis yang hanya meningkat 1,2 juta barel.

“Perkiraan EIA tentang peningkatan lebih lanjut produksi minyak mentah ke rekor kecepatan 12,9 juta barel per hari tampaknya memberikan sentimen signifikan pada perdagangan ini,” ucap Presiden Perusahaan Penasihat Perdagangan Ritterbusch and Associates, Jum Ritterbusch, dikutip Kamis (28/11).

Sebelumnya, harga minyak berhasil menetap di teritori positif selama dua hari berturut-turut, yakni Senin (25/11) dan Selasa (26/11). Sentimen kelanjutan perundingan perdagangan AS dan China memberikan dampak positif pada harga komoditas itu.

Baca juga : Jokowi Temui CEO 10 Perusahaan Besar Korsel

Tercatat, pada perdagangan kemarin, harga minyak mentah berjangka Brent menguat 0,4 persen ke level US$63,65 per barel dan WTI naik 0,4 persen menjadi US$58,01 per barel.

Kemudian, harga minyak sbobetuk kembali merangkak keesokan harinya. Harga minyak berjangka Brent meningkat 62 sen ke level US$64,27 per barel dan WTI meningkat 40 sen menjadi US$58,41 per barel.

“Optimisme kesepakatan perdagangan positif berlanjut,” pungkas Broker Minyak PVM Tamas Varga.

ESDM Dukung OPEC Pangkas Produksi Minyak Hingga Maret 2020

Ekonomi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendukung langkah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk memperpanjang kebijakan pemangkas produksi minyak mentah. Pasalnya, kebijakan itu bisa efektif menstabilkan harga.

“Kalau kami ingin harga minyak stabil. Kebijakan OPEC itu untuk menstabilkan harga,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Djoko Siswanto di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (3/7).

Baca juga: RI-Argentina Ingin Gandakan Nilai Perdagangan

Seperti dilansir dari Reuters, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) atau sekitar 1,2 persen permintaan global hingga Maret 2020. Keputusan itu diambil pada pertemuan yang digelar Selasa (2/7) di Wina, Austria.

Sebagai catatan, kelompok yang juga dikenal dengan sebutan OPEC+ itu telah menjalankan kebijakan pemangkasan produksi sejak awal tahun ini demi mengerek harga. Kesepakatan itu sebenarnya hanya berlaku untuk enam bulan atau berakhir pada Juni 2019 lalu.

Djoko mengungkapkan stabilitas harga minyak merupakan hal penting. Jika harga minyak mentah dunia terangkat sehingga harga minyak mentah Indonesia (ICP) melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019, US$70, pemerintah akan mendapatkan kelebihan penerimaan (windfall profit) seperti tahun lalu.

Namun, di sini hilir, kenaikan harga minyak akan mneyebabkan membengkaknya nilai impor BBM yang akan berimbas pada neraca dagang dan beban PT Pertamina (Persero).

Sebaliknya, apabila harga minyak terlalu rendah maka penerimaan negara dari sektor migas dan komoditas akan berkurang.

Baca juga: Trump dan Xi Jinping Akan Bertemu di G20

Keputusan pemangkasan produksi OPEC sempat mendongkrak harga minyak sesaat pada perdagangan Selasa (3/7), waktu Amerika Serikat (AS). Namun, keputusan itu tak cukup untuk menghalau kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi global serta tingginya produksi minyak AS. Akibatnya, harga minyak dunia ditutup melemah di penutupan perdagangan.

Harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$2,66 atau 4,1 persen menjadi US$62,4 per barel. Pelemahan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,48 atau 4,8 persen menjadi US$56,25 per barel.

Negosiasi Dagang AS-China Dongkrak Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah dunia menanjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa (8/1), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan ditopang oleh ekspektasi percepatan kenaikan permintaan minyak mentah jika pembicaraan antara AS dan China dapat mengakhiri sengketa dagang.

Dilansir dari Reuters, Rabu (9/1), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$1,39 atau 2,4 persen menjadi US$58,72 per barel.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,26 atau 2,6 persen menjadi US$49,78 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga WTI sempat menyentuh level US$49,95 per barel, tertinggi sejak 17 Desember 2018.

“Kondisi perdagangan (antara AS-China) pastinya bersifat mendongkrak harga (bullish), Anda akan mendapatkan peningkatan permintaan yang baik jika kesepakatan masalah perdagangan dapat diselesaikan,” ujar Direktur Perdagangan Berjangka Mizuho Bob Yawger di New York.

Baca juga: Tips Menyusun Resolusi Keuangan di Awal Tahun

Anggota delegasi AS Steven Winberg menyatakan sejauh ini pembicaraan perdagangan antara AS dan China berjalan baik dan akan dilanjutkan besok, Rabu (9/1).

Momentum tersebut merupakan pertemuan tatap muka pertama antar perwakilan kedua negara sejak Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk memasuki periode damai selama 90 hari pada Desember lalu.

Sebagai catatan, perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia ini telah menahan pasar keuangan global.

Pada Senin (7/9) lalu, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ros dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengaku optimistis bisa mengakhir sengketa dagang antara kedua negara.

Baca juga: Liga Ekonomi Dunia 2019: Pertumbuhan China dan India Melambat

Kendati demikian, sejumlah analis memperingkatkan tensi perdagangan bisa muncul kembali. Pelaku pasar minyak juga khawatir terhadap potensi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi dunia yang dapat menahan permintaan bahan bakar.

Manajer investasi dan keuangan telah memangkas posisi harga bakal naik (bullish) pada perdagangan minyak mentah berjangka.

Lembaga Pemeringkat Internasional S&P Global Rating menyatakan telah menurunkan proyeksi rata-rata harga minyak untuk 2019 sebesar US$10 per barel sehingga rata-rata harga Brent menjadi US$55 dan WTI US$50 per barel.

“Asumsi harga minyak yang lebih rendah mencerminkan perlambatan permintaan dan kenaikan pasokan global,” ujar Analis S&P Global Rating Danny Huang.

Baca juga: Ditekan AS, RI 'Pikir-Pikir' Ubah Ketentuan GPN

Sementara itu, harga minyak telah mendapatkan topangan dari kesepakatan pemangkasan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.

Perusahaan investasi dari Arab Saudi Petroleum Investments Corp yang kerap mendanai proyek perminyakan memperkirakan harga minyak diperkirakan akan bergerak ke kisaran US$60 hingga US$70 per barel pada pertengahan 2019.

Di sisi lain, pasokan minyak AS terus menanjak. Peningkatan tajak pada pengeboran minyak shale di darat telah menjadikan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia. Tahun lalu, produksi minyak AS naik 2 juta barel per hari (bph) ke level rekor dunia 11,7 juta bph.

Baca juga: OJK Tutup Lapak 404 Fintech Ilegal, Kebanyakan Dari China

Tak ayal, pasar sangat memperhatikan pasokan AS yang sejumlah analis memperkirakan bakal turun 3,3 juta barel pada pekan terakhir.

Menurut Partner Again Capital Management John Kidulff jika data pemerintah AS mengonfirmasi proyeksi tersebut pasar akan mendapatkan sinyal kenaikan harga yang kuat. Sebagai catatan, pemerintah AS baru akan merilis data pasokan minyak mentah pada Rabu (9/1), waktu setempat.