Orang Kaya Pertama Dari Afrika Selatan

Orang kaya pertama Afrika Selatan. Forbes merilis nama orang kaya baru dari Afrika Selatan, yakni Patrice Motsepe. Ia sekaligus menjadi orang Afrika pertama yang masuk daftar konglomerat dunia dengan kekayaan bersih mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp30,8 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS).

Mengutip Forbes, pundi-pundi Motsepe gemuk dari bisnis pertambangan miliknya. Ia menjadi pendiri sekaligus CEO Rainbow Minerals, perusahaan tambang emas, logam besi, dan platina.

Baca juga : Rupiah Naik Terdorong Data Ekonomi AS

Pria kelahiran 28 Januari 1962 tersebut juga duduk di sejumlah kursi dewan perusahaan, termasuk ketua non eksekutif Harmony Gold, perusahaan tambang emas terbesar ke-12 di dunia.

Tidak hanya pertambangan, Motsepe turut melebarkan sayap bisnisnya ke perusahaan jasa keuangan melalui kepemilikan saham di Sanlam, termasuk memiliki klub sepakbola Mamelodi Sundowns.

Sebelum menjadi pengusaha seperti sekarang, pada 1994 silam, ayah dari tiga orang anak itu sempat menjadi mitra kulit hitam pertama di firma hukum Bowman Gilfillan di kota kelahirannya di Johannesburg.

Baca juga : AS Ancam Kenakan Tarif Impor Baja Asal Brasil dan Argentina

Darisana, ia mulai mencicipi bisnis kontraktor pertambangan. Tiga tahun setelahnya, ia memutuskan untuk membeli poros tambang emas berproduksi rendah. Lalu, mengubahnya menjadi bisnis yang menguntungkan seperti sekarang.

Karena jerih payahnya tersebut, Motsepe dinobatkan sebagai orang kaya dunia nomor 962 dan nomor 8 di daftar taipan Afrika.

Jumlah Orang Kaya China Kalahkan Amerika

Jumlah orang kaya China yang masuk dalam kelompok 10 persen orang terkaya di dunia berhasil menyalip Amerika Serikat (AS). Ini merupakan pertama kalinya jumlah orang kaya China lebih banyak ketimbang orang kaya AS.

Laporan Credit Suisse (CS) menyebutkan China menyumbang 100 juta orang pada jajaran 10 persen orang terkaya agen sbobet di dunia.

Sedangkan, Negeri Paman Sam terpaut tipis di bawah China dengan jumlah orang kaya sebanyak 99 juta orang. Kondisi ini dikarenakan ‘ledakan’ kekayaan orang China.

Baca juga: RI Terima Pinjaman Sejumlah US$500 Juta Dari ADB

Kendati demikian, berdasarkan laporan Credit Suisse, rata-rata kekayaan orang AS lebih tinggi dibandingkan orang China. Yakni, sebesar US$432.365 untuk orang kaya AS, dan US$58.544 untuk rata-rata orang kaya China.

Dengan pertumbuhan orang kaya di China, Credit Suisse menyebut China mampu menggantikan Eropa sebagai mesin utama pertumbuhan kekayaan global. Kekayaan China berhasil tumbuh di tengah perang dagang yang membebani perekonomian negara.

“Kondisi perdagangan dan tingkat utang (China) memang menimbulkan kekhawatiran, tetapi tanda untuk tahun-tahun mendatang cukup positif,” tulis Credit Suisse dalam laporannya.

Laporan ini menyoroti sejauh mana kekayaan global terkonsentrasi di bagian atas. Tercatat 50 persen penduduk dewasa di dunia memiliki kurang dari 1 persen kekayaan global. Di sisi lain, 10 persen orang terkaya menggenggam 82 persen kekayaan. Lalu, 1 persen orang terkaya menguasai hampir setengah dari aset global.

Baca juga: Dana Desa Masih Jadi Tantangan Menurut Ekonom

Untuk berada dalam kategori 1 persen orang terkaya di dunia, membutuhkan aset bersih senilai US$936.400. Sebaran persentase itu menggambarkan ketimpangan kekayaan sejak krisis keuangan 2008.

Sementara, suku bunga rendah dan program pembelian obligasi bank sentral membuat lonjakan aset dari 1 persen pemegang kekayaan dunia. Akan tetapi, sejak 2016, porsi kekayaan yang dimiliki oleh 1 persen orang terkaya tersebut menurun.

“Meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa ketimpangan kekayaan menurun, bukti yang ada menunjukkan bahwa 2016 mungkin merupakan gambaran untuk masa mendatang,” terang Credit Suisse.