OJK dan Pemerintah Siapkan Jurus Baru Untuk Selamatkan Jiwasraya

OJK dan Pemerintah siapkan jurus baru untuk selamatkan Jiwasraya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan upaya penyelamatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) secara jangka menengah dan panjang. Penyelamatan itu merupakan sinergi dengan pemerintah, pemilik, dan BUMN.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah dan Silaturahmi Nasional Bank Wakaf Mikro 2019, Selasa (10/12). Sayangnya, Wimboh enggan memaparkan secara jelas bagaimana upaya penyelamatan maxbet itu.

Ia hanya mengatakan bahwa upaya penyelamatan ini masih digodok bersama pemerintah, pemilik, dan perusahaan pelat merah lain. Namun, jurus baru ini disebutnya akan memperkuat langkah penyelamatan secara jangka pendek melalui anak usaha, PT Jiwasraya Putra.

Baca juga : BI Ingin Trump Lengser Karena Membuat Ekonomi Tidak Kondusif

“Lagi dibicarakan dengan pemerintah, pemilik, dan BUMN bagaimana skenario jangka menengah dan panjangnya, sehingga cashflow jangka pendek teratasi. Jangka menengah-panjang untuk memperkuat bisnis Jiwasraya,” ucap Wimboh.

Sementara jurus jangka pendek untuk memperbaiki arus keuangan perusahaan melalui anak usaha sudah dilakukan. Ia yakin dengan anak usaha situs judi online ini, Jiwasraya bisa menarik investor.

“Jiwasraya Putra ini sudah diberikan konsesi untuk cover asuransi beberapa BUMN. Bisnisnya sudah ada, sehingga dengan hasil itu bisa untuk men-top up cashflow,” tuturnya.

Masalah keuangan Jiwasraya bermula ketika perseroan menunda pembayaran klaim produk saving plan yang dijual melalui tujuh bank mitra (bancassurance) senilai Rp802 miliar per Oktober 2018. Di tengah penyelesaian kasus Jiwasraya, Kementerian BUMN justru melaporkan indikasi kecurangan dalam tubuh Jiwasraya ke Kejaksaan Agung (Kejagung).

Pasalnya, Kementerian BUMN fakta bahwa ada sejumlah aset perusahaan yang diinvestasikan secara tidak hati-hati (prudent). Selain itu, Jiwasraya juga sempat mengeluarkan produk asuransi yang menawarkan imbal hasil (return) cukup tinggi kepada nasabah.

Baca juga : Orang Kaya Pertama Dari Afrika Selatan

Hal inilah yang membuat Jiwasraya mengalami tekanan likuiditas beberapa waktu terakhir sehingga terpaksa menunda pembayaran klaim kepada nasabahnya. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mensinyalir investasi Jiwasraya banyak ditaruh di saham-saham gorengan.

“Tapi, ini (masalah imbal hasil investasi) kan agak sulit karena produk ada persetujuan. Kalau investasi, kami minta kejaksaan untuk teliti apa ada kongkalikong. Saya kan main saham juga, kan tau itu (saham) gorengan,” ujar Arya.

Sebagai solusi, Kementerian BUMN membuka opsi agar anak usaha perusahaan agen sbobet, PT Jiwasraya Putra dijual ke asing untuk menutup kesulitan likuiditas perusahaan.

“Anak perusahaan bisa jadi (dikuasai asing). Tapi kalau induknya tidak mungkin,” katanya.

OJK Optimistis Kredit Tumbuh 11-13 Persen

Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim peluang pertumbuhan kredit di rentang 11 persen – 13 persen pada 2019 semakin terbuka, setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan penurunan suku bunga acuan akan menjadi amunisi yang bagus bagi industri perbankan. Permintaan kredit akan semakin menggeliat dari periode sebelumnya.

“Untuk pertumbuhan kredit kami optimistis masih bisa, apalagi sentimennya ke Indonesia cukup bagus,” papar Wimboh, Rabu (24/7).

Baca juga: Dampak Pemotongan Pajak Rumah Mewah Belum Terlihat

Selain itu, penopang pertumbuhan kredit lain berasal dari keputusan BI yang menurunkan Giro Wajib Minuman (GWM) Rupiah sebesar 0,5 persen. Dengan pelonggaran likuiditas itu, beban biaya (cost of fund) perusahaan semakin rendah sehingga bunga kredit pun ikut murah.

“Kami sempat pesimis tapi dengan pelonggaran GWM, tapi sekarang sudah diturunkan juga,” ujar dia.

Terkait ekonomi global, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan pihaknya akan terus memonitor dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terhadap industri perbankan. Namun, sejauh ini ia mengklaim belum ada pengaruhnya ke bisnis perbankan.

“Belum ada (pengaruhnya). Risiko kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga baik. Perbankan sudah antisipasi,” ucap Heru.

Sebagai informasi, OJK mencatat pertumbuhan kredit sepanjang semester I 2019 sebesar 9,92 persen secara tahunan. Sejumlah sektor yang menopang kenaikan kredit, antara lain sektor listrik, air, gas, konstruksi, dan pertambangan.

Baca juga: The Fed Beri Sinyal Kuat Pangkas Suku Bunga

Kemudian, NPL gross industri perbankan berada di level 2,5. Realisasi itu diklaim OJK yang terendah dalam lima tahun terakhir.

Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), jumlah yang dihimpun naik sebesar 7,42 persen secara tahunan. Capaian itu ditopang oleh pertumbuhan deposito dan perbankan.