AS-China Sepakati Sebagian Perundingan Perang Dagang

Perundingan perang dagang. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Wakil Presiden China, Liu He, dilaporkan menyepakati sebagian persyaratan dalam perundingan untuk mengakhiri perang dagang. Ada enam prinsip agen sbobet yang disepakati kedua belah pihak.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (12/10), Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyatakan kemungkinan kesepakatan tahap pertama itu bakal diteken bersama dengan perwakilan China di sela-sela pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Chile, pada November mendatang.

“Kami sudah mencapai kesepahaman dalam beberapa masalah mendasar, tetapi tentu saja masih ada hal yang dikerjakan. Kami tidak akan menandatangani perjanjian jika kami tidak bisa mendapatkan dan menyampaikan kepada presiden bahwa semua tercantum di atas kertas,” kata Mnuchin.

Baca juga: Kegiatan Usaha Kuartal III 2019 Tumbuh Melambat

Mnuchin menyatakan Liu dan pemerintah China harus kembali untuk melakukan tugas lain demi memenuhi kesepakatan yang diajukan dalam meja perundingan.

Selain itu, China dilaporkan menaikkan jumlah pembelian hasil pertanian AS hingga US$40 miliar sampai US$50 miliar. Padahal dua tahun lalu, sebelum perang dagang terjadi, China hanya mengimpor hasil pertanian AS sebesar US$19,5 miliar.

Bahkan tahun dewavegas lalu mereka hanya mengimpor hasil agrikultur AS sebesar US$9 miliar.

Terkait persoalan nilai mata uang dan jasa keuangan, Mnuchin menyatakan AS dan China sepakat untuk saling terbuka terhadap pasar mata uang dan kebijakan pasar bebas.

“Kami juga menyetujui soal jasa keuangan dan China membuka pasar mereka untuk jasa keuangan kami. Mata uang menjadi perhatian utama kami, dan kami sepakat untuk saling terbuka terkait pasar valas dan pasar bebas, kami senang akan hal itu,” ujar Mnuchin.

Baca juga: Jokowi Tawarkan Proyek dan Kerjasama Keuangan ke Singapura

Di sisi lain, Trump menyatakan AS dan China sudah sepakat terkait hal hak intelektual.

Sedangkan persoalan terkait syarat transfer teknologi qq338 antara AS dan China sampai saat ini belum mencapai kesepakatan.

Juru Runding dan Perwakilan Kementerian Perdagangan AS, Robert Lighthizer, menyatakan dengan hasil perundingan itu AS memutuskan tidak bakal menaikkan tarif itu pada 15 Desember mendatang.

China Siap Balas Ancaman Tarif Baru AS

Ekonomi – China mengaku bakal merespons tegas jika Amerika Serikat (AS) bersikukuh meningkatkan ketegangan perang dagang antara kedua negara. Hal tersebut disampaikan usai Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman bakal menerapkan tarif tambahan baru kepada produk China senilai US$300 miliar jika tak mencapai kesepakatan akhir bulan ini.

Trump berulang kali mengatakan ia bersiap untuk bertemu Presiden China Xi Jinping di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, Jepang pada akhir Juni. Namun, China belum mengonfirmasi hal itu.

Baca juga: Anggaran Kemensos Sudah Terpakai 47 Persen

Trump mengatakan siap mengenakan tarif baru kepada barang-barang China senilai US$300 miliar setelah pertemuan G20 jika tak ada kesepakatan antara kedua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang lagi tak tertarik untuk mengkonfirmasi pertemuan Xi-Trump di G20. Ia hanya menyebut informasi resmi bakal dirilis.

“China tidak ingin berperang, tetapi kami tidak takut berperang. Jika Amerika Serikat hanya ingin meningkatkan friksi perdagangan, kami akan dengan tegas menanggapi dan berjuang sampai akhir,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/6).

Baca juga: Ekonom Nilai Sentimen Kerusuhan 22 Mei Bersifat Sementara

Ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat tajam pada Mei setelah Pemerintah Trump menuduh China telah mengingkari janji untuk membuat perubahan ekonomi struktural selama berbulan-bulan pembicaraan perdagangan.

AS menginginkan perubahan besar dalam hubungan ekonomi dengan China, termasuk diakhirinya transfer teknologi paksa dan pencurian rahasia dagang AS. Mereka juga ingin China membatasi subsidi untuk perusahaannya dan akses yang lebih baik untuk perusahaan AS di pasar China.

Pada 10 Mei, Trump menaikkan tarif pada produk China senilai US$200 miliar menjadi 25 persen dan mengancam untuk mengenakan tarif tambahan kepada produk China senilai US$300 miliar. China membalas dengan kenaikan tarif pada barang AS senilai US$60 miliar dan membuat daftar hitam perusahaan asal negara AS tersebut.

Baca juga: Sri Mulyani Pastikan Revisi PP THR Terbit Pekan Ini

Pemerintah AS juga membuat marah China dengan memasukkan Huawei Technologies Co Ltd ke dalam daftar hitam yang secara efektif melarang perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan bisnis dengan perusahaan China, pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia itu.

Investor dari China mengkhawatirkan akan membalas dengan menempatkan perusahaan-perusahaan AS dalam daftar hitam atau melarang ekspor logam-logam ke AS, yang digunakan dalam produk-produk seperti chip memori, baterai isi ulang, dan ponsel.