Sri Mulyani Beberkan Alasan RI Tarik Utang, Ketika Ngajar Virtual

Ekonomi – Sri Mulyani Beberkan Alasan RI Tarik Utang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkesempatan mengajar ribuan siswa yang berasal dari 84 sekolah pada seluruh Indonesia. Proses mengajar live22 dilaksanakan secara virtual lantaran masih dalam pandemi Covid-19.

Sri Mulyani menjadi guru merupakan Hari Oean republik Indonesia. Dalam peringatan ini, terdapat program Hari mengajar kementrian keuangan ke-5.

Baca Juga : Kebijakan perlindungan Sosial Untuk Tahun 2021

Sri Mulyani Beberkan Alasan RI Tarik Utang, Ketika Ngajar Virtual

Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani menjelaskan alasan Indonesia harus mengambil utang ke berbagai pihak. Hal itu juga sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan murid-murid yang masuk dalam program hari Mengajar Kementrian Keuangan ke-5 tahun 2020.

Acara yang diikuti oleh 84 sekilah pada seluruh Indonesia ini memberikan kesempatan beberapa siswa-siswi untuk bertanya kepada Sri Mulyani. Ada dua siswa yang bertanya cara Menteri Keuangan mengatur keuangan negara pada saat penerimaan lebih kecil dibandingkan belanja negara.

“Bagaimana cara mengatur keuangan negara dan kalau negata kekurangan uang apa yang akan dilakukan negara, bu?” tanya Kaisa, siswa SD berkata Teker Al Biruni.

Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah joker388 harus mengambil utang dari berbagai pihak untuk menutupi selisih antara pendapatan dengan belanja negara.

Pada APBN 2020, anggaran belanja negara sebesar Rp 2.738,4 triliun sementara pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp 1.699,1 triliun.

Baca Juga : Upaya Menhub Budi Karya Pulihkan Ekonomi Terdampak Covid-19

Sejatinya, pendapatan negara akan digunakan memenuhi kebutuhan anggaran belanja, namun jika kondisinya tidak mencukupi maka pemerintah akan mengambil utang atau pembiayaan prediksi togel.

“Kalau kekurangan uang cari pembiayaan, atau bahasa populer utang, bahasa APBN pembiayaan,” kata Sri Mulyani.

Sri mulyani menjelaskan, untuk mengambil pembiayaan atau utang tidak dilakukan begitu saja. Menurut dia, harus ada persetujuan dari Presiden hingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Adapun, pengelolaan utang pun harus dilakukan secara hati-hati.

“Pilihannya, Menkeu bilang presiden, kabinet, dpr, apbn nggak dibikin sendiri, tapi dibikin rencana, disampaikan ke kabinet, dibahas presiden, menteri, wapres, dan seluruh menteri, nanti menteri bilang kebutuhannya masing-masing,” kata Sri Mulyani.

Sumber utama penerimaan negara adalah pajak, bea dan cukai, PNBP, dan juga hibah. Pada tengah pandemi Covid-19, belanja negara meningkat drastis sehingga untuk menutupi atau memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah harus mencari sumber pembiayaan lainnya.

Corona Buat Perusahaan Global Tanggung Utang Baru Rp14.468 T

Ekonomi – Pandemi virus corona belakangan ini telah meningkatkan utang perusahaan di dunia. Berdasarkan hasil penelitian 918kiss yang dilakukan terhadap sekitar 900 perusahaan global, wabah tersebut telah membuat perusahaan global menghadapi utang baru sampai dengan US$1 triliun.

Jika dirupiahkan, utang tersebut mencapai Rp14.468 triliun (kurs Rp14.468 per dolar AS). Dikutip dari Antara, peningkatan itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga : Posting Anti Masker di Facebook, Meninggal Status Positif Corona

“Covid telah mengubah segalanya,” kata Seth Meyer, Manajer Portofolio Janus Henderson, perusahaan yang menyusun analisis damacai untuk indeks utang baru perusahaan.

Ia menyatakan perusahaan yang masuk terperangkap utang baru tersebut sebelumnya sudah berutang 40 persen lebih banyak daripada yang mereka lakukan pada 2014.

Kalau dihitung, pertumbuhan utang gd lotto telah melampaui pertumbuhan laba mereka.

Hasil penelitian juga mengungkap dari perusahaan itu, korporasi AS menanggung setengah dari utang perusahaan global yang saat ini totalnya mencapai US$3,9 triliun. Pertumbuhan utang tersebut merupakan yang tercepat dalam lima tahun terakhir.

Jerman berada di nomor dua dengan US$762 miliar. Jerman juga memiliki tiga perusahaan live22 yang paling berutang di dunia.

Baca juga : Di Ibu Kota Belum Reda Kasus Covid-19

Mereka adalah Volkswagen dengan utang US$192 miliar, tidak jauh di belakang negara-negara login joker123 seperti Afrika Selatan atau Hongaria.

Meskipun demikian utang itu meningkat oleh unit pembiayaan mobilnya. Sebaliknya, seperempat perusahaan dalam indeks baru tidak memiliki utang sama sekali.

Bahkan, beberapa di antara mereka memiliki cadangan uang tunai joker123 yang besar. Cadangan tunai yang terbesar dimiliki Alphabet, pemilik Google, dengan total US$104 miliar.

Awal 2019, Utang Pemerintah Nyaris Tembus Rp4.500 Triliun

Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per akhir Januari mencapai sebesar Rp4.498,56 triliun. Angka ini meningkat 13,64 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp3.958,66 triliun.

Berdasarkan data Kemenkeu, utang pemerintah sebagaian besar dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp3.702,77 triliun atau 82,31 persen dari total utang pemerintah. Utang pemerintah dalam bentuk SBN tersebut mencatat kenaikan 15,48 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp3.206,28 triliun.

Kemudian, sisa utang sebesar Rp759,97 triliun berasa dari pinjaman biasa seperti pinjaman luar negeri dan dalam negeri.

Baca juga; Freeport Buka Suara Soal Eks Pekerja Menginap di Jakarta

Salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan posisi utang pemerintah adalah penarikan pembiayaan yang signifikan di awal tahun. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penarikan pada awal tahun sempat melonjak lantaran pemerintah menerapkan strategi penarikan utang di awal tahun (front loading) karena memanfaatkan situasi pasar modal yang cukup kondusif.

Kendati demikian, rasio utang pemerintah terhadap PDB mencapai 30,1 persen.

Data yang dimilikinya, menunjukkan bahwa penarikan pembiayaan yang dilakukan sepanjang tahun ini mencapai Rp122,5 triliun atau lebih tinggi 353,7 persen dibanding Januari tahun sebelumnya yakni Rp27 triliun.

Baca juga: Vale Indonesia Masih Tunggu Arahan ESDM Soal Divestasi Saham

Kemudian, pembiayaan dilakukan karena defisit APBN per Januari sudah mencatat 0,28 persen dari PDB, atau sedekit lebih tinggi dibanding Januari tahun lalu 0,25 persen dari PDB.

“Jadi memang di awal tahun kami sudah lakukan front loading dalam rangka antisipasi kondisi pasar dan kesempatan yang cukup preferable di awal tahun ini,” terang Sri Mulyani, Rabu (20/2).

Menkeu SBY Sebut Berita Utang Digoreng Untuk Pilpres

Mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri menilai isu menumpuknya utang yang saat ini terus digulirkan untuk menghantam pemerintah murni bergulir karena alasan politik. Isu utang diangkat demi menjatuhkan kredibilitas calon presiden yang kebetulan saat ini masih menjadi petahana pada Pilpres 2019 mendatang.

Padahal secara ekonomi kata Chatib, utang Indonesia masih relatif baik dan terjaga. Ia mengatakan melihat utang negara tidak bisa secara nominal.

Namun, utang harus dibandingkan dengan pendapatannya. Semakin kecil rasionya, maka risikonya akan semakin kecil.

Baca juga: Kubu Prabowo-Sandi Tuding Pajak Bocor Puluhan Triliun Rupiah

“Anda punya utang Rp100 tetapi pendapatan Anda Rp1.000. Saya punya utang Rp50 tetapi pendapatan saya Rp100 lebih berbahaya mana,” ujar Chatib di sela gelaran Mandiri Investment Forum 2019 di Hotel Fairmont Jakarta (30/1).

Hingga akhir tahun lalu, Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah pusat mencapai Rp4.418,3 triliun dengan rasio utang pemerintah Indonesia berkisar 29,9 persen. Rasio itu meningkat dari 2017 di mana utang tercatat Rp3.938 triliun dengan rasio 29,2 persen.

Tahun ini, pemerintah menargetkan rasio utang akan naik ke kisaran 30,4 persen terhadap PDB. Selain itu, pemanfaatan utang juga perlu dicermati.

Utang boleh jadi ditarik karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi tapi tidak bisa menunggu terlalu lalu. Layaknya perusahaan, utang harus digunakan untuk hal produktif yang akan menghasilkan manfaat di masa depan.

Misalnya, untuk pembangunan infrastruktur yang akan membantu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. “Kalau Anda tidak berutang dari mana Anda membuat usaha?” ujarnya.

Baca juga: 248 Pelaku Usaha Melanggar Aturan

Menurut Chatib, di negara lain, isu utang tidak menjadi perhatian utama. Tak heran, negara maju seperti AS dan Jepang berani memiliki nominal utang di atas PDB.

Isu utang baru menjadi perhatian jika terekspose oleh risiko gagal bayar seperti yang terjadi di Yunani beberapa tahun lalu. Calon Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengkritik keras pemerintah karena utang yang ia sebut menumpuk.

Bahkan, dia menyebut Menteri Keuangan lebih pantas sebagai menteri pencetak utang. “Kalau menurut saya, jangan disebut lagi lah ada menteri keuangan. Mungkin menteri pencetak utang,” kata Prabowo saat menyampaikan pidato di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (26/1) lalu.

Baca juga: Negosiasi Dagang AS-China Dongkrak Harga Minyak Dunia