Praktikum Spektrofotometri

TUJUAN

  1. Menentukan absorbtivitas molar larutan standart permanganat dan kromat secara spektronic 20
  2. Menentukan kosentrasi permanganat dan kromat dalam campuran secara spektronic 20 dengan panjang gelombang 450 nm dan 520 nm.
  3. Mencari panjang gelombang terapan maksimum dari larutan permanganat dan kromat.

DASAR TEORI

            Spektofotometri adalah pengukuran jauhnya pengabsorbsian energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi. Pada analisa spektrofotometri ini, alat yang digunakan adalah spektrofotometer. Alat ini terdiri dari spectrometer dan fotometer. Spectrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan (Underwood, 2002).

Spektrofotometeri adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu. Sedangkan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan lalu direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Pada spektrofotmeter, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya sebagai prisma. Spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau larutan blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbs antara sampel dan blangko ataupun pembanding (Khopkar, 2014).

Tabel 1.1 Spektrum Cahaya Tampak dan Warna Komplementer

No.λ (nm)WarnaWarna Komplementer
1.400-435VioletKuning-Hijau
2.435-480BiruKuning
3.480-490Hijau-BiruOranye
4.490-500Biru-HijauMerah
5.500-560HijauUngu
6.560-580Kuning-HijauViolet
7.580-595KuningBiru
8.595-610OranyeHijau-Biru
9.610-750MerahBiru-Hijau

 (Underwood, 2002)

Metode spektrofotometri ultra-violet ini berdasarkan hukum Lambert-Beer. Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah radiasi cahaya tampak, sinar UV, dan cahaya lain yang terserap oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan (Triyati, 1985).

Hubungan antara serapan radiasi dari Panjang gelombang lintasan melewati medium yang menyerap mula-mula dirumuskan oleh Bouger (1729). Penemuan Bouger dapat dirumuskan secara matematis sebagai berikut :

           Ln  = k2b ……………………..………………………….(1)

Dimana Po adalah daya radiasi masuk dan P adalah daya yang keluar dari suatu lapisan medium sebesar b satuan. Sedangkan hubungan antara konsentrasi spesies penyerap dan tingkat absorbsi dirumuskan oleh Beer (1859) yang analog dengan Bouger. Hukum Beer dapat diterapkan benar-benar hanya untuk radiasi monokromatik dengan sifat dasar spesies penyerap tidak boleh sepanjang jangka konsentrasi yang diselidiki. Hukum Beer ini dirumuskan sebagai berikut :

           Log  = k4C ..……………………..……………………….(2)

(Day dan Underwood, 2002)

ALAT DAN BAHAN

  1. Spectronic-20 ( Boucsh & Lomb )
  2. Kuvet
  3. Labu takar 100 ml
  4. Pipet volume 1 ml.
  5. Larutan KMnO4 standart 10-3M
  6. Larutan K2CrO4 standart 10-3M
  7. Larutan NaOH encer
  8. Aquades

PEMBAHASAN

Praktikum spektrofotometri dilakukan dengan tujuan untuk menentukan absorbtivitas molar larutan standart permanganat dan kromat secara spektronic 20, menentukan kosentrasi permanganat dan kromat dalam campuran secara spektronic 20 dengan panjang gelombang 450 nm dan 520 nm, dan mencari panjang gelombang terapan maksimum dari larutan permanganat dan kromat.

Pada percobaan pertama, spektrofotometri dihidupkan dan ditunggu 15 menit agar tercapai kesetimbangan termal, kesetimbangan mekanik, dan juga kesetimbangan elektrik. Selanjunya spektrofotometer dikalibrasi dengan memasukkan kuvet larutan blanko yaitu aquadest. Alat harus dikalibrasi dengan larutan blanko setiap pergantian konsentrasi maupun panjang gelombang. Penggunaan aquadest untuk kalibrasi karena aquadest merupakan pelarut pada zat uji sehingga menjadi acuan nilai serapan minimum. Proses kalibrasi bertujuan menyeimbangi variasi sumber panjang gelombang maupun absorpsi oleh larutan pembanding. Kalibrasi dilakukan dengan membuat A menjadi 0 dan T menjadi 100%. Kalibrasi harus dilakukan agar hasil pengukuran yang dilakukan akurat (Underwood, 2002)

Selanjutnya membuat larutan KMnO4 dan K2CrO4 dengan variasi konsentrasi dengan cara pengenceran KMnO4 dan K2CrO4 dengan aquadest. Kemudian larutan dimasukkan ke dalam spektrofotometer dalam wadah kuvet. Pengenceran dilakukan untuk menyesuaikan konsentrasi zat terlarut agar galat hasil pengukuran absorbansi larutan dapat diminimalkan (Underwood, 2002)

Semua sampel diuji pada spektrofotometer, dilakukan pengukuran dengan panjang gelombang 450 nm dan 520 nm dan dikalibrasi kembali dengan larutan blanko. Pemakaian panjang gelombang 450 nm dan 520 nm karena panjang gelombang tersebut sesuai dengan spektrum cahaya tampak dari zat yang diuji dan warna komplementernya. Warna komplementer dari warna yang teramati adalah warna yang diserap oleh suatu senyawa kimia. Jika larutan ditambahkan warna komplementer maka dapat memberikan serapan yang baik. Berdasarkan teori pada panjang gelombang 450 nm KMnO4 mengabsorbsi cahaya secara maksimal, begitu pula pada panjang gelombang 520 nm. Panjang gelombang optimal harus ditentukan terlebih dahulu sebelum melakukan perhitungan kadar sampel pada spektrofotometer.Pada percobaan ini didapat nilai absorbansi dan transmitansi yang akan digunakan untuk mencari absorptivitas molar. Absorptivitas molar adalah konsentrasi yang diserap oleh suatu sampel (Underwood, 2020).

V-5

Pada percobaan kedua, larutan tugas dmasukkan ke dalam labu takar 100 ml lalu ditambah 4 tetes NaOH 0,1 N dengan tujuan sebagai pengatur pH dan menciptakan suasana basa pada larutan. Hal tersebut dilakukan karena apabila larutan berada pada suasan asam, larutan akan cenderung tidak stabil dan ion kromat akan teroksidasi menjadi kromat sehingga akan mempengaruhi data yang akan didapat. Kemudian larutan diencerkan dengan aquadest hingga 100 ml. Penggunaan labu takar dipakai karena merupakan alat ukur volume yang memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi. Selanjutnya, alat spektrofotometer dikalibrasi terlebih dahulu. Kemudian larutan tersebut dimasukkan kedalam kuvet dengan pipet mata hingga tiga perempat penuh dan memasukkannya ke dalam spektrofotometer yang telah dikalibrasi dengan larutan blanko pada panjang gelombang 450 nm dan 520 nm (Underwood, 2002)

Pada percobaan ketiga, larutan yang telah dibuat dimasukkan ke dalam kuvet kemudian ke dalam spektrofotometer. Setelah itu dilakukan percobaan pada berbagai macam panjang gelombang untuk mendapatkan panjang gelombang serapan maksimum. Pilihan panjang gelombang yang dapat digunakan untuk larutan KMnO­4 berkisar 500 nm – 560 nm dan untuk larutan K2CrO4 berkisar 435-480 nm. Pilihan yang didapat diperoleh berdasarkan warna komplementer kedua larutan itu sendiri. Larutan KMnO4 berwarna ungu dan memiliki warna komplementer hijau dan K2CrO4 berwarna kuning dan memiliki warna komplementer biru. Untuk menentukan panjang gelombang serapan maksimum dapat ditentukan dengan memasukkan data yang didapat kedalam grafik absorbansi kedua larutan dan titik maksimum panjang gelombang serapan dapat ditentukan ketika nilai absorbansinya berada di titik maksimum. Menurut literatur, panjang gelombang maksimum untuk larutan KMnO4 adalah 525,40 nm (Sinurat,2009). Panjang gelombang tersebut lebih besar 5,40 nm dibandingkan dengan teori yang ada yakni sebesar 520 nm. Sedangkan panjang gelombang maksimum untuk larutan K2CrO4 menurut literatur adalah sebesar 460 nm (Azeez, 2019). Panjang gelombang tersebut lebih besar 10 nm dibandingkan dengan teori yang ada yaitu sebesar 450 nm. Panjang gelombang serapan maksimum akan berpengaruh untuk mencapai tujuan pada percobaan pertama dan kedua. Jika percobaan pertama dan kedua tidak dilakukan pada panjang gelombang serapan maksimum, maka nilai absortivitas yang didapat tidak maksimal (Underwood, 2002).

calonmaba

Pada percobaan spektrofotometri ini terdapat beberapa kesalahan yang mungkin saja terjadi saat melakukan percobaan yaitu pemakaian kuvet yang jumlahnya sedikit membuat penggunaan harus bergantian sehingga terdapat sisa-sisa larutan yang menempel pada kuvet yang susah dibersihkan dengan air dan mempengaruhi pembacaan nilai A dan %T larutan. Pada saat pembersihan kuvet menggunakan tisu, ada kemungkinan terdapat tisu yang menempel pada kuvet dan mengganggu kejernihan kuvet.

Diketahui hasil pengamatan seperti berikut,

Tabel 1. Hasil pengamatan absorbansi KMnO4 dan K2CrO4

M (mol/L)Absorbansi KMnO4Absorbansi K2CrO4
450520450520
0,000100,0400,1300,0600,004
0,000250,0520,2300,1210,051
0,000300,0600,2410,1520,072
0,000500,0700,4170,2000,120

Tabel 2. Hasil pengamatan absorbansi larutan sampel

Panjang GelombangA
450 nm0,098
520 nm0,321

KESIMPULAN

Berdasarkan data yang telah diketahui dan dilakukan perhitungan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Absortivitas dari larutan KMnO4 adalah 169,7 M-1cm-1 untuk panjang gelombang 450 nm dan 581,6 M-1cm-1 untuk panjang gelombang 520 nm. Sedangkan untuk absortivitas dari larutan K2CrO4 adalah 440,8 M-1cm-1 untuk Panjang gelombang 450 nm dan 229,7 M-1cm-1 untuk Panjang gelombang 520 nm.
  2. Konsentrasi KMnO4 dalam campuran adalah 3,535 x 10-4 M dan konsentrasi K2CrO4 dalam campuran adalah 8,623 x 10-5 M.
  3. Panjang gelombang serapan maksimum KMnO4 adalah 545 nm dan K2CrO4 adalah 440 nm.

DAFTAR PUSTAKA

Azeez, Hasanain saad and Mohammad radi mohammad 2019. “Effect of the Acidic and AlkalineSolutions on K2CrO4 and K2Cr2O7 by Ultraviolet and Visible Measurement.” AlMustansiriyah Journal of Science. Vol 30, 221-224

Khopkar, S. M. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-PRESS

calonmaba

Sinurat, N. S. (2009). “Penentuan Konsentrasi Campuran K2Cr2O7 dan KMnO4 dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis.” Bogor: IPB.

Triyati. 1985. Spektrofotometer Ultra Violet Dan Sinar Tampak Serta Aplikasinya Dalam   

            Oseanologi. Jakarta: Oseanografi LIPI

Underwood, A. L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

 

calonmaba

APPENDIKS

  1. Pengenceran larutan
  2. 10 ml                                                              3. 3,33 ml

      V1   x M1 = V2 x M2                                                  V1   x M1 = V2 x M2

1 ml x 10-3 M = 10 ml x M2                                  1 ml x 10-3 M = 3,33 ml x M2  

           M2       = 10-4  M                                             M2       = 3 x 10-4  M              

  • 4 ml                                                                4. 6 ml

      V1   x M1 = V2 x M2                                                   V1   x M1 = V2 x M2

1 ml x 10-3 M = 4 ml x M2                                    1 ml x 10-3 M = 4 ml x M2

          M2       = 2,5 x10-4  M                                  M2          = 2,5 x10-4  M                                    

  • Perhitungan absortivitas molar larutan KMnO4 pada panjang gelombang 450 nm
CACAC2
0,000100,044 x 10-610-8
0,000250,05213 x 10-66,25 x 10-8
0,000300,0618 x 10-69 x 10-8
0,000500,0735 x 10-625 x 10-8
Σ70 x 10-641,25 x 10-8
calonmaba

k1                                                             ɛ          =

=                                                     =

= 1,697 x 10 M-1                                              = 169,7 M-1cm-1

            Perhitungan absortivitas molar larutan KMnO4 pada Panjang gelombang 520 nm

CACAC2
0,000100,131,3 x 10-510-8
0,000250,235,75 x 10-56,25 x 10-8
0,000300,2417,23 x 10-59 x 10-8
0,000500,41720,85 x 10-525 x 10-8
Σ35,13 x 10-541,25 x 10-8

k2                                                             ɛ          =

=                                                     =

= 0,8516 x 10 M-1                                           = 851,6 M-1cm-1

  • Perhitungan absortivitas molar larutan K2CrO4 pada Panjang gelombang 450 nm
CACAC2
0,000100,066 x 10-610-8
0,000250,12130,25 x 10-66,25 x 10-8
0,000300,15245,6 x 10-69 x 10-8
0,000500,2100 x 10-625 x 10-8
Σ181,85 x 10-641,25 x 10-8

k3                                                             ɛ          =

=                                                    =

= 4,408 x 10 M-1                                              = 440,8 M-1cm-1

Perhitungan absortivitas molar larutan K2CrO4 pada Panjang gelombang 520 nm

CACAC2
0,000100,0040,4 x 10-610-8
0,000250,05112,75 x 10-66,25 x 10-8
0,000300,07221,6 x 10-69 x 10-8
0,000500,1260 x 10-625 x 10-8
Σ94,75 x 10-641,25 x 10-8

k4                                                             ɛ          =

=                                                     =

= 2,297 x 10 M-1                                              = 229,7 M-1cm-1

  • Perhitungan konsentrasi KMnO4 dan K2CrO4
Panjang gelombangA
450 nm0,098
520 nm0,321

Misalkan:

Cx = konsentrasi KMnO4

Cy = konsentrasi K2CrO4

A1        = k1 Cx + k3 Cy

0,098   = 169,7 Cx + 440,8 Cy ………………………………………………….(1)

A2          = k2Cx + k4Cy

0,321   = 917,1 Cx + 33,9 Cy ..……………………………………………………(2)

Persamaan (1) dan (2) dieliminasi

0,098   = 169,7 Cx + 440,8 Cy                       0,098   =169,7 Cx + 440,8 Cy

0,321   =  851,6  Cx + 229,7  Cy                   0,616   =1635,07 Cx + 440.8 Cy –

                                                                                    -0,518  = -1465,37 Cx

                                                                                    Cx       = 3,535 x 10-4 M

Cy       = 8,623 x 10-5 M

calonmaba

Praktikum Iodometri

TUJUAN

  1. Menentukan kadar Pb2+  dalam larutan dengan cara iodometri.
  2. Menentukan kadar Cu dalam larutan.

DASAR TEORI

            Reaksi yang terlibat dalam kesetimbangan disebut reaksi oksidasi reduksi atau redoks. Reaksi redoks dikelompokkan menjadi 2 yaitu sistem redoks biasa dimana antara bentuk reduksi dan oksidasi zat, hanya elektron yang dipertukarkan, kedua adalah sistem redoks dari asam basa gabungan. Pada sistem ini tidak hanya elektron yang dipertukarkan tapi juga proton. Dan reaksi yang melibatkan oksidasi reduksi dipergunakan secara luas dalam titrasi. Salah satu metode titrasi yang menggunakan prinsip oksidasi reduksi adalah lodometri. Metode titrasi lodometri ada 2 yaitu lodometri langsung atau lebih dikenal dengan iodimetri dan metode iodimetri tak langsung atau iodometri (Day dan Underwood., 2002:248).

            Larutan standar yang digunakan dalam proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan ini tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan larutan baku primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil dalam waktu yang lama (Day dan Underwood., 2002:298).

ALAT                                                                         BAHAN

  1. Labu takar 100 ml,            2 buah                         1. Larutan tugas Pb(NO3)2 dan CuSO4
  2. Pipet volume 25 ml,          1 buah                         2. Natrium Tiosulfat,              25 ml
  3. Pipet ukur 10 ml,              1 buah                         3. Asam Asetat,                      20 ml
  4. Pipet volume 5 ml,            1 buah                         4. Natrium Asetat,                  20 ml
  5. Pipet mata,                        1 buah                         5. K2Cr2O7,                             10 ml
  6. Buret,                                1 buah                         6. HCl 1:1,                              25 ml
  7. Statif dan klem                  1 buah                         7. KI,                                       20 ml
  8. Kertas pH,                         2 buah                         8. Indikator Amilum,              08 ml
  9. Kertas saring,                    2 buah                         9. Aquadest,                          200 ml
  10. Erlenmeyer 250 ml,          3 buah
  11. Corong,                             1 buah
  12. Botol pencuci,                   1 buah
  13. Karet penghisap,               1 buah
  14. Gelas beaker,                    2 buah

PROSEDUR

MENENTUKAN KADAR pb DENGAN IODOMETRI
menentukan Kadar Cu dengan Iodometri

PEMBAHASAN

Praktikum iodometri dengan pengendapan ini bertujuan untuk menentukan kadar Pb2+ dan Cu2+ dalam larutan tugas. Dari percobaan untuk menentukan kadar Pb2+ yang telah dilakukan diperoleh data pengamatan sebagai berikut.

Tabel 1. Hasil percobaan titrasi dalam menentukan kadar Pb2+

No.V Na2SO3 sebelum diberi amilum (ml)V Na2SO3 setelah diberi amilum (ml)V Total (ml)
14,80,35,1
25,10,25,3
 Rata-Rata5,2

Dalam menentukan kadar Pb2+, larutan Pb(NO3)2 dimasukkan ke dalam labu takar berukuran 100 ml untuk kemudian diencerkan dengan menggunakan aquadest dalam botol pencuci hingga 100 ml. Alasan digunakannya aquadest untuk pengeceran adalah karena aquadest merupakan senyawa yang netral sehingga tidak mengganggu proses reaksi dan sifat produk yang dihasilkan. Pemakaian labu takar dalam pengenceran dimaksudkan karena labu takar memiliki ketelitian yang lebih tinggi daripada alat lainnya. Sedangkan tujuan dari proses pengenceran itu sendiri bertujuan untuk mengurangi konsentrasi larutan sehingga mempersingkat waktu untuk mencapai titik ekivalen dan menghemat penggunaan titran.

Selanjutnya, mengambil larutan Pb(NO3)2  yang telah diencerkan dengan pipet volume  sebanyak 10 ml kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Ke dalam larutan ditambahkan masing-masing 5 ml larutan CH3COOH dan CH3COONa dengan pipet ukur. Penambahan kedua larutan tersebut bertujuan agar larutan terjaga pH nya dalam suasana asam yaitu sekitar 4-5. Jika terlalu asam (pH<4) Na2S2O3 akan terurai membentuk endapan belerang. Apabila suasana terlalu basa (pH>5), maka Na2S2O3 akan teroksidasi menjadi sulfat. Langkah selanjutnya yaitu mengukur pH larutan dengan kertas indikator universal untuk memastikan pH larutan 4-5. Kemudian ditambahkan 5 ml larutan K2CrO4 4% agar terbentuk endapan PbCrO4 dan larutan berubah warna menjadi kuning dengan reaksi seperti berikut,

         2Pb(NO3)2+ K2Cr2O7+ H2O → 2PbCrO4+ 2HNO3+ KNO3……………………….(1)

calonmaba.com

Gambar 1. Larutan tugas setelah penambahan K2CrO4

Kemudian endapan tersebut disaring dengan corong yang diatasnya diletakkan kertas saring. Kertas saring memiliki pori-pori yang sesuai untuk penyaringan PbCrO4 sehingga endapan terjebak dalam kertas saring. Selanjutnya, endapan dalam kertas saring dicuci dengan aquadest untuk membersihkan dan mengumpulkan endapan sehingga tidak mempengaruhi jumlah endapan. Selain itu proses pencucian bertujuan untuk menghilangkan pengotor yaitu KNO3 dan HNO3 dalam larutanagar tidak ikut berekasi dengan ion iodida. Endapan kemudian dipindahkan ke Erlenmeyer lain dan dilarutkan dengan HCl hingga kertas saring bersih kembali. Endapan larut pada HCl dengan reaksi berikut,

                 2PbCrO4 + 2HCl → 2Pb2+ + Cr2O72-+ H2O + 2Cl……………………………….(2)

Setelah itu, kedalam Erlenmeyer ditambahkan KI 0,1 N sebanyak 5 ml kemudian larutan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3. Penggunaan KI ini karena KI membawa ion iodida (I) sebagai agen pereduksi sehingga ketika bereaksi dengan oksidator Cr2O72- akan membebaskan I2 dengan reaksi,

                     14H+ + Cr2O72-+ 6I→ 3I2+ 2Cr3+ + 7H2O……………………………….(3)

(Svehla. G, 1985:209).

Setelah itu, larutan di titrasi lagi dengan penambahan indikator amilum 2-3 tetes hingga larutan berubah warna menjadi hijau muda. Penggunaan Na2S2O3 guna mereduksi I2 menjadi I. Sedangkan, penggunaan amilum sebagai indikator yang berfungsi untuk menunjukan titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan warna. Larutan indikator amilum ditambahkan pada saat akan menjelang titik akhir titrasi, karena jika indikator amilum ditambahkan diawal akan membentuk iod-amilum yang sulit dititrasi oleh natrium tiosulfat (Ulfa, 2015:199). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut,

                          I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S4O6…………………………………………(4)

(Svehla. G, 1985: 325)

Gambar 3. Larutan tugas setelah      Gambar 4. Larutan tugas setelah

calonmaba.com

Hasil dari percobaan pertama untuk massa Pb2+ dalam larutan adalah 179,4 mg dengan galat -61,5%. Adanya galat disebabkan dalam proses titrasi yang mengandalkan pengamatan visual, yaitu perubahan warna. Galat dapat bernilai negatif karena ketika belum mencapai titik ekivalen, titrasi telah dihentikan atau terlalu cepat dalam menghentikan reaksi sehingga volume Na2S2O3 kurang dari yang sebenarnya. Massa sebenarnya dari Pb2+ adalah sebesar 111,084 mg.

Percobaan kedua yaitu menentukan kadar Cu2+ pada larutan CuSO4 diperoleh data sebagai berikut,

Tabel 2. Hasil percobaan titrasi dalam menentukan kadar Cu2+

No.V Na2SO3 sebelum diberi amilum (ml)V Na2SO3 setelah diberi amilum (ml)V Total (ml)
1134
21,13,34,4
 Rata-Rata4,2

Pada percobaan kedua langkah pertama yang harus dilakukan yaitu mengencerkan larutan tugas dengan aquadest pada labu takar hingga 100 ml mirip dengan percobaan pertama selanjutnya, mengambil larutan yang telah diencerkan tersebut sebanyak 10 ml dengan pipet ukur dan memindahkannya ke erlenmeyer. Selanjutnya, dilakukan penambahan KI sebanyak 5 ml yang mengakibatkan perubahan warna larutan dari biru menjadi kuning kecoklatan. Penambahan KI disini berfungsi untuk mereduksi oksidator yang bereaksi dengan KI sehingga dibebaskan I2 dengan reaksi,

                     2CuSO4 + 4 KI → 2CuI + 2K2SO4 + I2………………………………………..(5)

(Svehla. G, 1985: 231)

Kemudian ke dalam larutan ditambahkan masing-masing 5 ml larutan CH3COOH dan CH3COONa yang merupakan penyangga dengan rentang pH 3-5. Reaksi antara Cu dan ion Iodida dipaksa bergeser ke kanan oleh pembentukan endapan dan juga oleh penambahan ion iodide berlebih. pH dijaga oleh larutan penyangga. Hasil dari rekasi tersebut adalah endapan CuI sehingga larutan tampak keruh dan I2. Itulah mengapa tidak ada penyaringan endapan karena telah terdapat I2 yang bisa langsung dititrasi dengan Na2S2O3. Titrasi oleh Na2S2O3 ini menyebabkan larutan berubah warna menjadi biru muda bening sedikit keruh dengan reaksi,

                   I2 + 2Na2S2O3→ 2 NaI + Na2S4O6…………………………………………….(6)

(Svehla. G, 1985: 325)

calonmaba.com

Karena perubahan yang tidak tampak jelas pada titrasi pertama maka digunakan indikator amilum untuk titrasi kedua karena amilum memberi warna larutan menjadi biru yang menyebabkan perubahan warna yang jelas. Setelah penambahan amilum dilakukan titrasi yang kedua dengan tiosulfat hingga larutan berubah warna menjadi bening. Setelah itu dilakukan perhitungan dengan volume tiosulfat yang merupakan rata-rata volume hasil titrasi pertama dan kedua.

Hasil dari percobaan kedua untuk massa Cu2+ dalam larutan adalah 133 mg dengan galat -47,63%. Galat dapat bernilai negatif karena ketika belum mencapai titik ekivalen, titrasi telah dihentikan atau terlalu cepat dalam menghentikan reaksi sehingga volume Na2S2O3 kurang dari yang sebenarnya. Massa sebenarnya dari Cu2+ adalah sebesar 90,09 mg.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa kadar Pb2+sebesar 179,4 mg dengan galat sebesar -61,5% dan kadar Cu2+ sebesar 133 mg dengan galat sebesar -47,63%. Massa sebenarnya dari Pb2+ adalah sebesar 111,084 mg. Sedangkan massa sebenarnya dari Cu2+ adalah sebesar 90,09 mg.

DAFTAR PUSTAKA

Day, R,A. & A.L. Underwood. 2002. Kimia Analisis Kuantitatif Edisi ke 6. Jakarta:Erlangga.

Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Bagian I. Jakarta: PT.Kalman Media Pusaka.

    calonmaba.com

Ulfa, A. M. 2015. Penetapan Kadar Klorin (Cl2) pada Beras dengan Menggunakan Metode Iodometri. Jurnal Kesehatan Holistik Vol. 9 No. 4.

APPENDIKS

Appendiks praktikum Iodometri

Praktikum Gravimetri

TUJUAN

  1. Mahasiswa mampu menentukan kadar Ni2+ sebagai kompleks dimethyl glyoxime dengan metode gravimetri.

DASAR TEORI

            Gravimetri adalah salah satu cara analisa kuantitatif pada suatu senyawa yang telah diketahui dengan cara mengukur berat komponen atau senyawa yang diinginkan dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan. Proses pemisahan  komponen dilakukan dengan memisahkan komponen tersebut dari komponen-komponen lain yang tidak diinginkan dan juga memisahkan komponen dengan pelarut yang digunakan. Pemisahan komponen dapat dilakukan dengan membentuk endapan yang sukar larut, kemudian endapan tersebut disaring, dicuci, dikeringkan dan kemudian ditimbang. Dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan sifat volatil komponen yang kemudian akan di destilasi. Cara terakhir dapat juga dilakukan dengan mengendapkan logam murni pada katoda dengan cara elektrolisa (Sugiarso, 2017:27).

            Agar dapat mendapatkan hasil yang baik, suatu analisa gravimetri harus memenuhi beberapa syarat yaitu, komponen yang telah ditemukan harus dapat mengendap dengan sempurna, stabil, dan sukar larut. Untuk memperkecil kelarutan endapan yang terbentuk dapat dilakukan dengan menambahkan ion senama. Kemudian endapan harus murni dan mudah disaring. Terakhir, endapan harus dapat diubah menjadi suatu senyawa secara stoikiometri misalnya dengan pemijaran (Sugiarso, 2017:27).

ALAT DAN BAHAN

calonmaba

  1. Beaker glass 400 ml      1 buah
  2. Sinter Cruss.                  1 buah
  3. Eksikator.                      1 buah
  4. Oven & penanggas air. 1 buah
  5. Pipet ukur 10 ml.           1 buah
  6. Labu takar 100 ml         1 buah
  7. Neraca analitik              1 buah
  8. Pipet tetes                     1 buah
  9. Termometer                   1 buah
  10. NiSO4 7 H2O
  11. HCI encer ( 1:1 )
  12. Larutan DMG 1 % dalam alkohol.
  13. Larutan ammonia 1 N
  14. Larutan AgNO3
  15. Aquadest

PROSEDUR

PRAKTIKUM GRAVIMETRI

PEMBAHASAN

            Praktikum Gravimetri dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar Ni2+ sebagai komplek Dimethyl Glyoxime (DMG) dengan menggunakan metode gravimetri. Hal pertama yang dapat dilakukan pada praktikum gravimetri ini adalah menyiapkan sintercruss untuk diuji daya alirnya. Pengujian dilakukan dengan mengalirkan aquades pada sintercruss kosong untung memastikan sintercruss tidak mengalami kebocoran. Digunakannya aquades dalam pengujian sintercruss karena aquades merupakan larutan netral yang telah melewati proses penyulingan. Jika pada saaat pengujian sintercruss terjadi kebocoran, maka penggunaan sintercruss dapat diganti dengan sintercruss lain. Selanjutnya sintercruss dipanaskan di dalam oven dengan suhu 110°C─120°C selama kurang lebih 30 menit dengan tujuan untuk menguapkan aquades pada sintercruss. Setelah itu sintercruss kosong didinginkan pada eksikator dengan tujuan untuk menyerap aquades yang mungkin tersisa karena di dalam eksikator terdapat silika gel yang bersifat higroskopis atau menyerap air. emudian ditimbang massanya pada neraca analitik dan dicatat. Kemudian sintercruss kosong ditimbang menggunakan neraca analitik dan dicatat.

calonmaba

            Setelah menyiapkan sintercruss, tahap berikutnya adalah larutan tugas (NiSO4) yang diberikan oleh asisten ditambahkan dengan HCl (1:1) sebanyak 5 ml. Penambahan HCl dimaksudkan untuk mengionisasi NiSO4 menjadi Ni2+dan membuat larutan berada dalam kondisi asam. Kondisi asam ini diciptakan agar pada saat penambahan DMG tidak terjadi pengendapan secara langsung karena DMG mengendap pada suatu basa. Reaksi yang terjadi saat penambahan HCl yaitu,

NiSO4(aq) + 2HCl(aq) → Ni2+(aq) + SO42-(aq) + 2Cl(aq) + H2(g)

(Svehla, 1990:281)

            Selanjutnya larutan diencerkan sampai volumenya 200 ml dengan menggunakan aquades. Alasan digunakannya aquadest untuk pengenceran adalah karena aquadest merupakan senyawa yang netral sehingga tidak mengganggu proses reaksi dan sifat produk yang dihasilkan.Sedangkan tujuan dari proses pengenceran itu sendiri bertujuan untuk mengurangi konsentrasi larutan. Setelah itu larutan dipanaskan hingga suhu 70oC – 80oC agar reaksi pengendapan berjalan sempurna karena apabila dipanaskan pada suhu tinggi akan mengakibatkan pelarutan yang semakin tinggi pula. Suhu pemanasan tidak mencapai 100 oC karena dapat menguapkan H2O. Kemudian ditambahkan 30-35 ml DMG tetes demi tetes. Penambahan DMG berlebih harus dihindari agar tidak terjadi pembetukan endapan DMG itu sendiri yang akan mempengaruhi hasil penimbangan endapan (Khopkar, 2010:35). Penambahan DMG juga harus diiringi dengan pengadukan menggunakan pengaduk kaca dengan tujuan untuk mencegah terjadi pengendapan di tempat tertentu dan memastikan semua Ni2+ bereaksi dengan DMG. Hal ini juga bergna untuk pembentukan kristal-kristal endapan yang teratur (Khopkar, 2010:30). Setelah itu ditambahkan amonia tetes demi tetes agar pH naik secara perlahan. Penggunaan amonia ditujukan agar larutan berada dalam kondisi basa lemah dimana hal tersebut merupakan kondisi ideal untuk mengendapkan Ni2+ sehingga endapan tidak larut kembali (Svehla, 1990:281). Setelah itu akan muncul endapan berwarna merah dengan reaksi seperti berikut,

Ni2+ (aq) + 2C4H8N2O2 (aq) → Ni(C4H6N2O2)2 (s) + 2H+ (aq)

            Setelah itu larutan diletakkan di atas penangas air selama kurang lebih 30 menit untuk mempercepat dan memperbesar partikel endapan yang terbentuk (Svehla, 1990:90). Selanjutnya endapan dimasukkan kedalam eksikator untuk menghilangkan kandungan air dalam endapan. Kemudian endapan disaring menggunakan sintercruss. Penggunaan sintercruss dipilih karena sintercruss lebih tahan terhadap suhu tinggi dan mampu menyaring partikel hingga ukuran setengah milimeter sampai satu milimeter. Penyaringan juga dibantu dengan water jet pump agar penyaringan berjalan lebih cepat. Lalu endapan akan dicuci dengan aquades agar endapan bebas dari klorida. Untuk memastikan endapan bebas klorida, endapan harus dicuci secara terus menerus menggunakan aquades. Air yang keluar dari sintercruss, ditampung untuk selanjutnya akan ditambahkan AgNO3. Jika air yang telah ditambah dengan AgNO3 tidak timbul endapan putih, maka endapan dapat dikatakan bebas dari klorida. Kemudian endapan dikeringkan pada  oven bersuhu 110oC – 120oC kurang lebih 45 – 60 menit untuk mempercepat proses pengeringan karena pada suhu tersebut, H2O dapat menguap dengan baik. Selanjutnya endapan dimasukkan kedalam sintercruss untuk menghilangkan uap air. Setelah itu kadar Ni2+ didapat dan dicatat.

            Pada suatu sampel mineral alam yang diperkirakan mengandung atom, Ni, C, O, Mg, dan Ca dan mineral lain dianalisis dan diambil sebanyak 100 gram yang selanjutnya didestruksi dengan HNO3 dan pemanasan sehingga pengotor-pengotor dalam mineral hilang. Setelah melewati tahapan seperti yang terlah dijelaskan sebelumnya, didapat endapan seperti berikut,

Tabel 1. Massa endapan yang didapat

ProsesMassa Endapan (gram)
Pengeringan 11,1223
Pengeringan 21,1181
Pengeringan 31,1018
Pengeringan 41,1018
Rata-Rata1,111

Setelah dilakukan perhitungan, didapat massa Ni2+ sebesar 1,12877 gram sehingga kadar Ni dalam suatu sampel mineral sebesar 1,12877%. Untuk melakukan eksplorasi tambang, maka analis harus memperhatikan kriteria seperti berikut,

Tabel 2. Pertimbangan eksplorasi lahan

Kandungan NikelKriteria
0,01-0,08 %Tidak layak untuk dieksploitasi
0,08-1%Disimpan sebagai cadangan
1-1,5%Layak untuk dieksploitasi dengan pertimbangan analisis ekonomi
>1,5%Direkomendasikan segera untuk menjadi lokasi tambang

Berdasarkan Tabel 2 tersebut, mineral yang ditemukan dapat layak untuk dieksploitasi dengan pertimbangan analisis ekonomi.

KESIMPULAN

            Berdasarkan data dan perhitungan terhap data yang ditemukan, didapat massa Ni2+ sebesar 1,12877 gram dan kadar Ni dalam suatu sampel mineral sebesar 1,12877%. Dari hasil tersebut juga dapat direkomendasikan bahwa mineral yang ditemukan layak untuk dieksploitasi dengan pertimbangan analisis ekonomi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Khopkar, S. M. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia.

Sugiarso, Djarot dkk. 2017. Kimia Analitik I. Surabaya: Laboratorium Perpindahan Panas dan   

               Massa Surabaya

Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.

calonmaba

APPENDIKS

  1. Apa saja syarat-syarat endapan dalam gravimetri?

Jawab :

  1. Kelarutan endapan sangat kecil.
  2. Endapan yang terjadi harus murni.
  3. Endapan harus mudah,cepat disaring dan dicuci
  4. Endapan yang ditimbang harus mempunyai rumus yang pasti.
  • Tuliskan reaksi pengendapan pada analisis ini!

NiSO4 (aq) + 2HCl (aq) → Ni2+ (aq) + SO42- (aq) + 2Cl (aq) + H2 (g)

Ni2+ (aq) + 2C4H8N2O2 (aq) → Ni(C4H6N2O2)2 (s) + 2H+ (aq)

  • Tuliskan perhitungan penentuan kadar Ni dalam sampel mineral!

Jawab :

gram Ni2+ =

                 =

                 = 1,12877 gram

    %Ni2+    = %

                 = 1,12877%

  • Apa rekomendasi saudara dari hasil analisis tersebut?

Jawab : Dari hasil perhitungan dapat direkomendasikan bahwa mineral yang ditemukan                layak untuk dieksploitasi dengan pertimbangan analisis ekonomi.

calonmaba

Praktikum Asidi Alkalimetri

 TUJUAN

  1. Mahasiswa mampu melakukan percobaan dan menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam suatu sampel.
  2. Mahasiswa mampu melakukan percobaan dan menentukan kadar karbonat dan NaOH dalam suatu sampel.
  3. Mahasiswa mampu melakukan percobaan dan menentukan kadar Natrium karbonat (Na2CO3) dalam soda pencuci.

DASAR TEORI

Analisa volumetri adalah salah satu metode analisa berdasarkan hasil pengukuran volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan akurat dan bereaksi secara kuantitatif dengan larutan yang mengandung suatu zat yang akan ditentukan, cara kerja ini disebut titrasi. Analisa dengan metode volumetri didasarkan pada reaksi kimia :

a A + b B   à   produk hasil reaksi                                ……(1)

Zat A sebagai pentitrasi (titran), B adalah zat yang dititrasi (analit). Titrasi asidi alkalimetri adalah titrasi asam basa dimana titrasi tersebut terdiri dari asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri adalah proses dimana larutan mengandung basa dan garam dari asam lemah dititrasi dengan larutan standar asam. Sedangkan alkalimetri adalah larutan mengandung asam dan garam dari basa lemah dititrasi dengan larutan standar basa (Day, R.A. Underwood., 2002).

calonmaba

            Pada saat melakukan titrasi, akan terjadi perubahan warna larutan akibat perubahan pH dan indikator yang digunakan. Indikator yang biasa digunakan yaitu metil oranye (rentang pH 3,1 hingga 4,4), bromtimol biru (rentang pH 6,0 hingga 7,6), dan fenoftalein (rentang pH 8,0 hingga 9,6). Pemilihan indikator yang akan digunakan didasarkan pada perubahan warna di sekitar titik ekivalen dari titrasi. Untuk asam lemah, pH pada titik ekivalen berada pada lebih dari 7, sehingga indikator fenoftalein dapat digunakan. Basa lemah yang memiliki pH dibawah 7, indikator yang lazim digunakan adalah metil oranye (Day, R.A. Underwood., 2002).

ALAT DAN BAHAN

  1. Labu takar 100 mL.
  2. Pipet volume 25 mL.
  3. Erlenmeyer 250 mL.
  4. Botol pencuci.
  5. Buret.
  6. Pipet tetes.
  7. Larutan tugas.
  8. Larutan HCI 0,1 N
  9. Indikator PP
  10. Indikator MO
  11. Larutan BaCl2
  12. Aquades

Prosedur

Praktikum Asidi Alkalimetri

PEMBAHASAN

            Praktikum Asidi Alkalimetri ini terdiri dari percobaan dengan menggunakan 2 indikator untuk mengetahui kadar karbonat dan bikarbonat dan menggunakan 1 indikator untuk mengetahui kadar karbonat dan NaOH dalam suatu larutan. Indikator yang digunakan pada percobaan adalah indikator PP dan MO.calonmaba

            Pada praktikum menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dengan menggunakan 2 indikator didapat hasil pengamatan yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengamatan Titrasi Untuk Menentukan Kadar Karbonat dan Biarbonat

NoLarutan TugasIndikatorVol AnalitVol Titran (ml)V Rata – rata ( ml )
1Na2CO3PP100 ml1,31,51,4
2NaHCO3MO100 ml4,74,24,45

Reaksi yang terjadi pada praktikum menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dengan menggunakan 2 indikator, yaitu :

Na2CO3 + HCl                  NaHCO3 + NaCl  (Ditambah indikator PP)

 NaHCO3 + HCl              H2CO3 + NaCl (Ditambah indikator MO)

Pada praktikum menentukan kadar karbonat dan NaOh dengan menggunakan 1 indikator didapat hasil pengamatan yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Hasil pengamatan Titrasi Untuk Menentukan Kadar Karbonat dan NaOH

NoLarutan TugasIndikatorVol AnalitVol Titran (ml)V Rata – rata ( ml )
1NaOHMO100 ml676,5
2Na2CO3PP100 ml3,32,73

Reaksi yang terjadi pada praktikum menentukan kadar karbonat dan NaOH dengan menggunakan 1 indikator, yaitu :

  Na2CO3 + 2HCl             H2CO3 + 2NaCl  (Ditambah indikator MO)

         NaOH + HCl            NaCl + H2O

Na2CO3 + BaCl2              BaCO3 + 2NaCl  (Ditambah indikator PP)

         NaOH + HCl            NaCl + H2O

calonmaba

            Pada saat melaksanakan praktikum, digunakan indikator PP dan MO. Indikator PP dan MO ditambahkan dengan tujuan untuk membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range pH tertentu. Bermacam-macam indikator memiliki tetapan ionisasi yang berbeda dan mengakibatkan perubahan warna pada range pH yang berbeda pula (Khopkar, 2010).

Pada praktikum dengan menggunakan dua indikator, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meminta larutan tugas kepada asisten dalam labu takar 100 ml. Kemudian, mengencerkan larutan tugas dengan aquadest di dalam labu takar hingga volumenya 100 ml. Pengunaan labu takar bertujuan agar pengenceran dapat dilakukan secara teliti. Selanjutnya, memipet larutan tugas sebanyak 10 ml dengan pipet ukur ke dalam erlenmeyer dan mengencerkan kembali dengan aquadest. Tujuan dari pengenceran ini adalah untuk memperbesar konduktivitas molar larutan yang berakibat menurunkan kosentrasi larutan tugas sehingga perubahan warna oleh indikator dapat diamati dengan jelas dan untuk mempercepat proses titrasi (Svehla, 1985). Selanjutnya menambahkan dua tetes indikator PP sehingga larutan berubah warna menjadi merah keunguan. Kemudian, larutan dititrasi dengan HCl 0,1 Nhingga larutan menjadi tidak berwarna. Pemilihan indikator PP pada titrasi pertama dikarenakan PP merupakan indikator yang cocok untuk titik akhir pertama dengan kisaran pH 8,3-10,0 dan pH larutan NaHCO3 pada saat itu berkisar 8,35 (Svehla, 1985). PP merupakan indikator yang lazim digunakan, karena tidak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In nya, atau basa (Yurida, dkk., 2013). Setelah itu, larutan ditetesi dengan indikator MO sebanyak 2 tetes sehingga larutan berwarna kuning dan dilanjutkan dengan mentitrasi larutan dengan HCl 0,1 N hingga larutan berubah warna menjadi merah kejinggaan. Pemilihan indikator MO pada titrasi kedua karena MO memiliki rentang pH antara 3,1-4,4 (Svehla, 1985). Rentang tersebut cocok untuk titik akhir kedua dengan pH H2CO3 berkisar 3,9.

Pada praktikum dengan menggunakan satu indikator, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meminta larutan tugas pada asisten dalam labu takar 100 ml. Kemudian, mengencerkan larutan tugas dengan aquadest di dalam labu takar hingga volumenya 100 ml. Selanjutnya, memipet larutan tugas sebanyak 10 ml dengan pipet ukur ke dalam erlenmeyer dan mengencerkan kembali dengan aquadest. Selanjutnya, ditambahkan indikator MO sebanyak dua tetes sehingga larutan berwarna kuning. Indikator MO digunakan karena pH larutan pada titik akhir berada pada rentang indikator MO. Kemudian, mentitrasi larutan dengan larutan standar HCl 0,1 Nhingga larutan berubah warna menjadi merah kejinggaan. Setelah itu, volume HCl yang dibutuhkan dicatat. Selanjutnya, memipet larutan tugas sebanyak 10 ml dengan pipet ukur ke dalam erlenmeyer lain dan mengencerkan kembali dengan aquadest. Lalu, meneteskan larutan BaCl2 sebanyak 5 ml. Setelah ditetesi dengan larutan BaCl2, terbentuklah endapan putih BaCO3. Penambahan BaCl2 perlu dilakukan agar kadar NaOH dapat ditentukan. Larutan kemudian ditambahkan dua tetes indikator PP sehingga warna larutan berubah menjadi merah kejinggaan. Selanjutnya, larutan tersebut dititrasi dengan HCl 0,1 Nhingga mencapai titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi bening.

calonmaba

            Volume rata-rata yang didapat dari dua kali titrasi untuk satu jenis larutan dapat digunakan untuk menghitung kadar karbonat dan bikarbonat serta kadar karbonat dan NaOH:

M1.V1 = M2.V2……..………………………….………(1)

 (Day dan Underwood, 2002).

Sehingga dengan menggunakan persamaan tersebut dapat diperoleh kadar Na2CO3 sebesar 92,7325 mg dan NaHCO3 sebesar 320,276 mg. Diketahui kadar Na2CO3 dan H2CO3 sebenarnya adalah 71,3323 mg dan 306,191 mg. Diperoleh galat dari kadar Na2CO3 dan H2CO3 adalah sebesar 30% dan 4,6%. Dan untuk percobaan dengan menggunakan 1 indikator, kadar Na2CO3 dan NaOH sebesar 309,17 mg dan 200,0249 mg. Diketahui kadar Na2CO3 dan NaOH sebenarnya adalah 238,501 mg dan 140,008 mg. Diperoleh galat dari kadar Na2CO3 dan NaOH adalah sebesar 29,63% dan 42,87%. Kesalahan tersebut dapat terjadi karena praktikan kurang teliti dalam membaca meniskus larutan pada labu ukur, pipet volume, maupun buret. Kemudian pada saat titrasi akan mencapai titik akhir, praktikan membuka valve pada buret terlalu besar.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa kadar Na2CO3 sebesar 92,7325 mg dan NaHCO3 sebesar 320,276 mg. Diperoleh galat dari kadar Na2CO3 dan H2CO3 adalah sebesar 30% dan 4,6%. Dan untuk percobaan dengan menggunakan 1 indikator, kadar Na2CO3 dan NaOH sebesar 309,17 mg dan 200,0249 mg. Diperoleh galat dari kadar Na2CO3 dan NaOH adalah sebesar 29,63% dan 42,87%.

DAFTAR PUSTAKA

Day, R. A. & A. L. Underwood. 2002. Kimia Analisis Kuantitatif Edisi ke 6. Jakarta: Erlangga.

Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.

Khopkar, S. M. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia.

Yurida, M. dkk. 2013. Asidi-Alkalimetri. Jurnal Teknik Kimia 19(2):5

calonmaba