Pemalsuan Label SNI Besi Siku, Ini Pesan Kompolnas

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti turut memberi komentar tentang masalah pemalsuan merek Standard Nasional Indonesia (SNI) yang mempunyai potensi bikin rugi keuangan negara sejumlah Rp 2,7 triliun. Ia minta, masalah ini janganlah sampai mangkrak.

Poengky merekomendasikan, supaya faksi pelapor menyampaikan permasalahan itu ke Irwasda serta Propam. “Pelapor masalah pemalsuan bisa memberikan laporan pada Irwasda serta Propam sebagai pengawas internal Polri, untuk lihat adakah yang dilanggar penyidik,” tutur Poengky, pada wartawan, di Jakarta, Kamis (2/7).

Baca Juga : besi siku lubang

Komisioner yang sebagai wakil faktor tokoh warga itu mengutarakan, keutamaan penyidik berlaku pro. “Pada semua masalah pidana yang disampaikan, diinginkan penyidik pro dalam mengatasi,” ulasnya.

Poengky memberikan tambahan, beberapa penyidik dalam melakukan pekerjaannya harus berdasar pada Perkap mengenai Penyelidikan Tindak Pidana. “Penyidik berdasar pada Perkap mengenai Penyelidikan Tindak Pidana,” katanya.

Awalnya, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyebutkan, masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius. Karena, praktek pemalsuannya telah berjalan semasa 3 tahun serta mempunyai potensi bikin rugi negara sejumlah Rp 2,7 triliun.

Artikel Terkait : ACP aluminium composite panel

Neta menerangkan, Polri harusnya memantau perlakuan masalah ini agar pembasmiannya terbuka. Faktanya, efek dari praktek pemalsuan merek SNI pada besi siku tidak cuma bikin rugi negara, dan juga bikin rugi warga.

Ia juga bingung, mengapa masalah pemalsuan merek SNI pada produk besi ini tidak belum terlihat titik terangnya. “Walau sebenarnya infonya, penangkapan telah dilaksanakan pada 17 Juni 2020,” kata Neta, lewat pengakuan pada wartawan, tempo hari.

Menurut Neta, pemalsuan merek SNI itu bukan hanya bikin rugi negara. Dan juga warga untuk customer. “Dengan produk besi siku untuk konstruksi bangunan yang dipalsukan serta dipasarkan ke customer, dicemaskan bangunan yang memakai besi siku itu dapat roboh sebab tidak cocok standard,” papar Neta.

Neta sampaikan, IPW mendapatkan info terbongkarnya masalah ini berawal dari ada surat PO Palsu untuk pemesanan barang dari Thailand berbentuk besi siku. Setelah tiba di Indonesia, barang berbentuk besi siku itu disadari untuk besi siku produk dalam negeri serta ditempel dengan merek SNI palsu serta dipasarkan pada customer.