7 Fakta Suku Betawi yang Unik Banget

Suku Betawi adalah suku yang cukup terkenal di Indonesia, karena punya boneka unik bernama ondel-ondel. Selain itu, ada fakta unik lain seperti bahasanya yang gaul, kesenian tradisionalnya, dan lain-lain. Kaum muda betawi mulai sadar untuk melestarikan budaya nenek moyang, seperti menggunakan bahasa betawi, main lenong dan perang pantun.

Sebenarnya nama ‘betawi’ berasal dari kata ‘batavia’, sebutan untuk daerah Jakarta pada masa penjajahan. Kata ini adalah diksi dari bahasa Belanda lalu oleh masyarakat yang mungkin susah untuk mengucapkan huruf V, kata batavia pun jadi betawi. Sebutannya melekat sampai sekarang. Ini fakta lain tentang suku betawi yang perlu Anda ketahui.

1. Makanan Tradisional

Ada banyak sekali makanan tradisional khas betawi. Camilan paling terkenal adalah kerak telor, dan sayangnya agak susah untuk ditemukan. Biasanya nyamikan ini banyak dijual ketika ada acara, seperti Pekan Raya Jakarta. Kerak telor adalah ketan yang dimasak dengan telur bebek, lalu di atasnya ditaburi ebi alias udang kering. Rasanya tentu gurih dan sedap.

Selain kerak telor, ada lagi dodol betawi yang biasanya dibuat jelang lebaran. Rasanya manis dan bertekstur kenyal. Jika Anda ingin makan yang mengenyangkan, ada soto betawi yang kuahnya istimewa, karena diberi santan atau susu. Rempah-rempah seperti kapulaga dan kayumanis memperkaya rasanya. Biasanya soto ini berisi rebusan daging sapi atau jerohan.

Buah seperti gandaria bisa dibuat pelengkap makanan dan dijadikan sambal. Sayangnya buah ini sudah agak langka di pasaran. Jika Anda punya nyali, coba makan semur jengkol yang biasanya ada di meja makan warga betawi asli. Walau aromanya luar biasa menusuk hidung, tapi makanan khas ini memiliki banyak penggemar karena kelezatannya.

2. Bahasa

Suku Betawi memiliki bahasa khas yang hingga kini masih dipakai dalam pergaulan. Bahkan kaum muda yang berasal dari luar Jakarta, menggunakan bahasa betawi sebagai simbol bahwa ia adalah anak yang keren. Kata-kata seperti ‘loe, gue, mpok, dan aye’ bisa dimengerti oleh banyak orang, karena sudah umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya bahasa betawi mudah difahami karena kata-katanya hampir sama dengan bahasa indonesia (atau bahasa melayu saat zaman penjajahan). Bahasa betawi bahkan menyerap diksi dari bahasa China. Seperti go yang artinya 5 dan ceng itu 1.000. Jadi goceng adalah 5.000, sedangkan seceng adalah 1.000, dan ceban adalah 10.000.

Masyarakat betawi asli menyebut ibu dengan sebutan ‘enyak’ dan ayah dengan panggilan ‘babe’, sedangkan ‘encing’ artinya paman. Banyak orang faham dengan kata-kata dalam bahasa betawi, karena sering menonton lenong modern, sinetron, dan film yang bercerita tentang kehidupan orang betawi sehari-hari. Bbisakah Anda menggunakan bahasa ini?

3. Senjata

Senjata tradisional betawi adalah golok, yakni sejenis pisau yang berukuran lebih panjang dan lebar. Golok yang biasanya tersimpan dalam sarung, selalu dibawa pria betawi kemana-mana. Walau ia bukan seorang jawara. Dulu, guna golok adalah untuk melindungi diri, apalagi ketika zaman penjajahan. Jika ada tentara musuh, golok bisa jadi andalan.

Sekarang golok masih dilestarikan karena saat memilikinya jadi penanda bahwa ia adalah orang betawi asli. Golok juga dijadikan alat bantu ketika berkebun, untuk memotong ranting atau merapikan dahan yang kurang rapi. Ketika idul adha, senjata tradisional ini beralih fungsi untuk menyembelih sapi dan kambing.

4. Baju Adat

Pria betawi memakai baju sadariah alias celana warna gelap dan baju koko warna putih. Sebuah peci dan sarung yang disampirkan di leher, melengkapi penampilan tersebut. Ini baju betawi yang sudah diberi sentuhan modernitas. Saat berada di rumah, koko diganti dengan kaos putih dan celana batik, kadang memakai ikat pinggang untuk menyelipkan golok.

Sementara wanita betawi memakai kebaya tapi berbeda dengan kebaya jawa. Kebaya encim memiliki bordiran di pingir yang khas, dan dipakai di acara resmi. Kain batik yang kadang dijahit menjadi rok panjang, menjadi pasangan dari kebaya ini. Warna bawahan ini mencolok, biasanya merah muda, biru, atau kuning. Kerudung melengkapi penampilan ini.

Baju adat suku Betawi yang digunakan saat hari pernikahan sangat istimewa, karena merupakan hasil pencampuran budaya. Busananya memakai kerah shanghai dan ada hiasan burung hong di kiri dan kanan mahkota. Ini adalah akulturasi dengan budaya China. Pengantin perempuan juga memakai mahkota bernama siangko yang memiliki cadar unik.

5. Rumah Adat

Rumah adat betawi sangat unik karen terbuat dari kayu berkualitas bagus (biasanya kayu nangka atau gowang) dan dengan desain menarik. Namanya rumah kebaya. Mengapa harus dinamai kebaya? Karena atapnya memiliki sudut lancip sehingga terlihat seperti kebaya yang dilipat. Bagian pinggirnya memiliki aksen yang berbentuk mirip dengan renda kebaya.

Jika Anda mengunjungi rumah adat betawi, maka akan menemui ruang tamu outdoor yang cukup luas. Tujuannya, selain untuk duduk di bale-bale, jadi tempat menerima tamu, juga untuk kumpul bersama keluarga. Dari sana Anda bisa melihat sebuah sumur. Ya, zaman dulu, di Betwi, sumurnya ada di depan rumah, bukan di belakang atau dekat dengan kamar mandi.

Dinding rumah juga terbuat dari kayu namun bagian tengahnya dari anyaman bambu (gedhek). Begitu pula dengan jendela dan daun pintu, terbuat dari kayu gowok yang kuat dan awet. Untuk memperkuat rumah, maka sebelum membangun didirikan pondasi yang terbuat dari batu kali. Di bagian pinggir rumah pondasinya dari batu bata berkualitas baik.

6. Seni Panggung

Ketika belum booming era streaming video dari internet, masyarakat betawi mencari hiburan dengan menonton lenong. Pertunjukan ini punya banyak penggemar, karena para aktor memainkan lawakan yang mengocok perut. Pemain lenong kadang memainkan pantun untuk menyegarkan suasana. Lenong dipakai sebagai cara protes atas isu sosial masyarakat betawi.

Ada lenong Denes yang beda dari lenong biasa. Di lenong denes, pertunjukannya menggunakan bahasa melayu yang digunakan oleh para pejabat dan bangsawan. Diksi yang dipakai adalah: adinda, kakanda, tuanku, dan lain-lain. Lenong jenis ini berisi cerita kerajaan dan kebangsawanan dan pemainnya bernyanyi saat berdialog satu sama lain. Sangat unik.

Wayang ternyata tak hanya ada di Jawa tapi eksis juga di ranah betawi. Wayang yang terbuat dari kulit sapi atau kambing tidak menceritakan kisah kerajaan kuno seperti di Jawa, tapi ceritanya lebih merakyat. Ketika wayang dimainkan, ada pengiring musik dari gamelan ajeng. Uniknya, tak hanya ada saron dan gendang tapi terompet untuk memeriahkan suasana.

Suku Betawi memiliki keunikan pada tradisi dan tata cara dalam menjalani hidup seperti suku nias contohnya. Masyarakat betawi yang masih memakai golok untuk bersih-bersih kebun, memakai baju sadariah dan kebaya encim yang eksotis. Bahasa betawi sampai sekarang juga masih digunakan sehari-hari. Makanan tradisionalnya seperti semur jengkol dan dodol masih eksis hingga sekarang.