Analisis Novel “Ronggeng Dukuh Paruk”

Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang bernama Srintil. Novel ini berlatar tempat di Dukuh Paruk. Dukuh Paruk merupakan sebuah kampung terpencil yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Dawuhan. Sedangkan, latar waktunya adalah sekitar tahun 1965-an.
  1. Tema
Dari berbagai masalah, novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dapat dikelompokkan menjadi dua masalah pokok, yaitu masalah budaya, adat istiadat dan keterbelakangan. Masalah adat dalam RDP diperjelas seperti dalam kutipan berikut.
Adat Dukuk Paruk mengajarkan, kerja sama antara ketiga laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut (RDP: 11)
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa kerja sama yang dilakukan bersama untuk memperoleh suatu tujuan, harus berakhir ketika tujuan tersebut telah dicapai. Hal itu dilakuakan untuk menemukan pemenang, siapa yang layak memperoleh bagian yang lebih banyak dari apa yang diperoleh, dan ketika pemenang ditentukan maka tidak ada protes diantara mereka, karena sudah merupakan adat dari daerah Dukuh Paruk. Menanggapi hal itu dapat disimpilkan bahwa tidak ada budaya gotong royong di RDP, yang ada hanyalah kerja sama kemudian kemudian bersaing untuk menjadi pemenang.
Dari masalah adat ini dapat diangkat tema mayor, yaitu bahwa adat masyarakat Dukuh Paruk merupakan aturan yang harus dilestarikan oleh orang-orang seketurunan Ki Secamenggala yang menjadi nenek moyang masyarakat Dukuh Paruk.
Masalah keterbelakangan daerah dalam RDP terlihat dari kutipan berikut ini.
Entah sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk. Kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit, serta sumpah serapah cabul menjadi bagiannya yang sah (RDP: 79)
Dari uraian tersebut diketahui bahwa tema pokok dalam RDP, yaitu pertentangan antara keramat Ki Secamenggala dengan kaum terpelajar. Masyarakat Dukuh Paruk yang karena kebodohannya tidak pernah menolak nasib yang diberikan alam, meraka selalu memuja Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di Tengah Dukuh Paruk. Kubur Ki Secamenggala tersebut menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan pola tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana. Hal itu menggambarkan bahwa masyarakat Dukuh Paruk tidak mengalami perkembangan dalam keilmuan, mereka hanya meneruskan tradisi yang diciptakan oleh nenek moyang, yaitu Ki Secamenggala. Budaya tersebut digambarkan pengarang dalam novel ini dengan mengangkat tema budaya ronggeng yang tidak dapat terpisahkan dari dukuh paruk.
Pengarang menjadikan Dukuh Paruk pendukuhan yang terkenal dengan dunia peronggengan. Dukuh paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk karena ronggeng merupakan ciri khas dari pendukuhan Dukuh paruk. Ronggeng yang diceritakan dalam novel tersebut bernama srintil. Dari awal Bab di Novel menceritakan dari srintil masih kecil hingga dia menjadi Ronggeng Dukuh Paruk, dia dipercaya sebagai seorang ronggeng sejati yang kemasukan indang ronggeng. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Selain itu ada kepercayaan bahwa srintil dilahirkan di Dukuh Paruk atas restu arwah Ki Secemenggala dengan tugas menjadi Ronggeng. Sehingga dapat disimpulkan Dukuh Paruk hanya lengkap ketika ada keramat ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan khusunya ada ronggeng bersama perangkat calungnya.
  1. Latar
  1. Latar Tempat
Novel RDP berlatar utama di pendukuhan yang bernama Dukuh Paruk. Latar tempat ini terlihat dalam kutipan berikut.
Dua pululuh tiga rumah berada di pendukuhan itu, di huni oleh orang-orang seketurunan. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya (RDP: 10)
Dari kutipan diatas dapat diketahui bahwa latar tempat di dalam rumah novel RDP terjadi di Dukuh Paruk sedangkan latar tempat di luar rumah tidak ditemukan dalam novel. Adanya dua puluh tiga rumah di pendukuhan menggambarkan bahwa Dukuh Paruk merupakan pemukiman kecil yang keberadaannya ditempat terpencil. Dari kutipan diatas juga terlihat jelas bahwa masyarakat Dukuh Paruk dihuni oleh masyarakat seketurunan, yang mana Ki Secamenggala adalah orang pertama yang tinggal di Dukuh Paruk menjadi nenek moyang mereka. Latar utama yang terjadi di Dukuh paruk memunculkan latar pendukung. Hal ini terdapat dalam latar berikut.
  1. Di tepi kampung
Di tepi kampung ini menjadi latar rasus dan temannya Darsun dan Warta mencabut batang singkong yang menjadi cerita pertama yang terdapat dalam novel (RDP: 10).
  1. Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka
Tempat tersebut merupakan tempat srintil sering bermain dengan mendedangkan lagu kebanggan para ronggeng. Selain itu di bawah pohon nangka srintil sering menari dan bertembang (RDP: 13).
  1. Di halaman rumah Kartareja
Tempat ini menjadi bagian dari upacara sacral yang dipersembahkan kepada leluhur Dukuh Paruk sebelum menuju pekuburan dukuh paruk (RDP: 45)
  1. Di Pekuburan Ki Secamenggala
Latar ini syarat srintil untuk menjadi seorang ronggeng yaitu srintil melakukan upacara pemandian di pekuburan ki secamenggala (RDP: 46)
  1. Pasar Dawuan
Tempat ini adalah tempat yang dituju rasus ketika meninggalkan Dukuh paruk. Hal ini secara implicit terdapat dalam kutipan berikut.
“Sampai hari-hari pertama aku menghuni pasar Dawuan, aku menganggap nilai-nilai yang kubawa dari Dukuh Paruk secara umum berlaku pula di semua tempat (RDP: 84).”
Kutipan diatas menggambarkan bahwa ketika rasus meninggalkan Dukuh Paruk, dia menghabiskan hari-harinya di pasar Dawuan sebagai pengupas singkong. Dengan pekerjaan itu rasus dapat bertahan hidup dari mendapatkan upah pedagang singkong. Tapi tak kemudian dia menjadi seorang tobang.
  1. Di Hutan
Tempat ini menjadi tempat berburu Rasus, Sersan slamet dan Kopral Pujo (RDP: 95)
  1. Di Rumah Sakarya
Latar ini menjadi tempat pertama yang di datangi oleh perampok ketika ingin merampok harta milik srintil, tapi saat itu srinti sedang berada di rumah kartareja, hingga akhirnya perampok berbelok ke rumah kartareja (RDP: 101)
  1. Di Beranda Rumah Nenek Rasus
Tempat ini menggambarkan ketika rasus pulang kerumah neneknya ketika dia selesai menangkap perampok yang ada di Dukuh Paruk, tapi kemudian di kembali menjadi tobang(RDP: 103)
  1. Latar Waktu
Dukuh Paruk adalah pemukiman di tengah hamparan sawah yang luas terdapat dua puluh tiga rumah, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Cerita dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tidak punya tanggal tapi novel trilogi ini terjadi tahun 1965. Hal ini tercermin ketika srintil terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1965. Sedang latar terjadinya peristiwa kematian sebagian warga Dukuh Paruk akibat keracunan tempe bongkrek terjadi tahun 1946. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saai itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1964. Semua penghuni pendukuhan itu telah tidur pulas, kecuali santayib, ayah srintil (RDP: 21).
Kutipan diatas mengambarkan bahwa kematian sebagian masyarakat Dukuh paruk terjadi pada 1946 yang mana saat saat itu srintil masih kecil. Dalam novel ini seseorang yang disalahkan atas terjadinya kematian masyarakat Dukuh paruk akibat tempe bongkrek ada santayib. Pengarang sengaja mengahadirkan cerita ini untuk menggambarkan pembaca dengan bencana yang pernah menimpa Dukuh Paruk, serta mengingatkan ronggeng terakhir di Dukuh Paruk yang mati ketika srintil masih kecil, yang kemudian ronggeng tersebut digantikan oleh srintil.
Latar waktu dalam novel RDP juga terjadi tahun 1960. Hal ini tergambar pada kutipan berikut.
Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak aman. Perampok dengan kekerasan senjata sering terjadi. Tidak jarang perampok membakar rumah korbannya (RDP: 90).
Kutipan di atas menggambarkan peristiwa fenomenal yang terjadi dalam novel RDP tidak hanya kematian akibat tempe bongkrek, tapi peristiwa perampokan yang terjadi di Dawuan. Peristiwa tersebut masyarakat Dawuan khususnya dan rasus tokoh pendatang dari Dukuh Paruk.
Adapun Latar waktu yang tergambar dari novel Ronggeng Dukuh paruk diantaranya sebagai berikut.
  1. Sore hari
Waktu ini tergambar dari kutipan berikut.
Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nagnka itu belanjut sampai matahari menyentuh garis cakrawala (RDP: 14).
Kutipan diatas menceritakan tentang Rasus, Darsun, dan warta ketika mengiringi srintil menari hingga sore hari. Pengarang menggambarkan waktu ini dengan bahasa yang sederhana yaitu “matahari menyentuh garis cakrawala”.
  1. Tengah malam
Waktu tengah malam tergambar dari kutipan berikut.
Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946 (RDP:21).
Kutipan diatas mengambarkan malam sebelum terjadinya keracunan tempe bongkrek yang dialami masyarakat Dukuh Paruk. Waktu yang ditegaskan dalam kutipan di atas adalah tengah malam, yang mana waktu tersebut menjadi latar waktu dalam novel ini.
  1. Tengah hari (Siang)
Latar waktu tengah hari terlihat dalam kutipan berikut.
Namun semuanya berubah menjelang tengah hari. Seorang anak berlari-lari dari sawah sambil memegangi perut (RDP: 24)
Kutipan di atas menegaskan bahwa racun dalam tempe bongkrek mulai bereaksi ketika tengah hari dimana setelah masyarakat Dukuh Paruk selesai melakukan aktivitas di sawah. Dalam kutipan tersebut latar waktu yang terjadi tengah hari.
  1. Pagi
Latar waktu pagi digambarkan dalam kutipan berikut.
Matahari mulai kembali pada lintasannya di garis khatulistiwa. Angin tenggara tidak lagi bertiup (RDP:44)
Kutipan di atas merupakan salah satu latar dalam novel RDP ketika waktu pagi, yang menggambarkan waktu pagi telah terasa.
  1. Malam hari
Waktu malam hari tergambar dari kutipan berikut.
Karena gelap aku tak dapat melihat dengan jelas.
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa waktu terjadinya ketika malam hari. Dengan adanya kata gelap yang memperjelas latar waktu tersebut.
Latar waktu yang disebutkan di atas merupakan waktu yang terdapat dalam novel RDP, sebenarnya dari latar waktu tersebut ada yang lebih dari satu. Tapi penulis hanya mengambil salah satu sebagai perwakilan.
  1. Tokoh dan Penokohan
Novel Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan gaya penokohan naratif, yaitu cara mendeskripsikan watak tokoh cerita yang diambil alih oleh seorang pencerita tunggal, yaitu Rasus. Dalam novel RDP, pencerita memaparkan watak tokoh-tokoh cerita dan menambahkan komentar tentang watak tersebut.
  1. Tokoh utama
Tokoh utama dalam novel RDP adalah Rasus, pengarang menampilkan rasus sebagai narrator dalam peristiwa novel RDP sedang srintil ditampilkan sebagai tokoh yang diceritakan Rasus. Tokoh Rasus merupakan tokoh yang serba tahu akan segala peristiwa dalam cerita itu.
Rasus dilukiskan sebagai seorang pemuda rakyat biasa yang tidak mempunyai status kebangsaan, tinggal di daerah terpencil yang mempunayi status rendah, kurang pengetahuan serta mudah rapuh. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadiaku hanya bisa mengumpat dalam hati dan meludah. Asu buntung! (RDP: 53)
Dalam kutipan di atas watak rapuh Rasus tampak jelas dalam pengakuannya bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh ketidakmampuannya melawan hukum pasti di Dukuh Paruk yang harus dilakukan seorang ronggeng yaitu malam bukak-klambu. Rasus harus merelakan orang yang dicintainya yaitu srintil untuk menyelesaikan persyaratan terakhir menjadi seorang ronggeng yang bernama bukak-klambu. Menghadapi hal itu rarus tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya dapat pasrah pada apa yang akan terjadi pada srintil.
  1. Tokoh Pembantu Utama
Tokoh pembantu utama dalam novel RDP adalah srintil, pengarang menggambarkan srintil sebagai seorang ronggeng yang cantik berperawakan menarik serta perempuan yang sempurna fisiknya yang dianggap sebagai titisan dari Ki Secamanggala. Kutipan berikut memperlihatkan kecantikan srintil serta kesempurnaan fisik yang dimilikinya.
Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas dengan jelaga bercampur getah pepaya membuatnya kelihatan seperti boneka. (RDP: 18)
Pengarang dalam kutipan di atas menampilkan tokoh utama Srintil sebagai seorang ronggeng yang sempurna, yaitu dengan kecantikan dan fisik yang dimilikinya. Srintil yang sebelumnya hanya anak Dukuh Paruk biasa yang tidak mempunyai status kebangsaan dijadikan pengarang sebagai perempuan mempunyai status yang tinggi ketika menjadi ronggeng. Hal tersebut menimbulkan perubahan watak yang dimiliki Srintil. Dulu srintil yang sering bermain bersama Rasus, Warta dan Darsun tapi setelah menjadi seorang ronggeng dia sudah tidak ada waktu untuk bermain bersama mereka. Dari situ sangat terlihat perubahan sifat srintil.
  1. Tokoh Bawahan
Tokoh bawahan menurut Grimes (dalam panuti Sudjiman, 1988: 19), merupakan tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Dalam novel RDP memiliki sembilan tokoh bawahan dari analisis novel yang dilakukan. Tokoh bawahan dalam novel RDP diantaranya:
  1. Santayib memiliki sifat keras, tidak mudah putus asa, dan penyayang.
  2. Istri santayib mempunyai sifat baik, patuh, dan penyayang.
  3. Nenek Rasus, memiliki sifat penyayang, sabar dan pikun.
  4. Sakarya, (kakek Srintil) memiliki sifat kolot, keras, dan penyayang
  5.  Nyai Sakarya (nenek Srintil) mempunyai sifat penyayang, penyabar dan peduli kepada orang lain (tetangga), namun dia tetap tunduk pada nasibnya sebagai rakyat kecil.
  6. Sakum memiliki sifat tekun,baik, optimis akan hidupnya,.
  7. Ki Kertareja memiliki sifat kolot, keras, penyayang, licik.
  8. Nyai Kartareja memiliki sifat materialistis, pandai membujuk dan licik.
  9. Sersan Pujo mempunyai sifat baik dan tegas.
  1. Alur Cerita
Cerita dalam novel RDP di buku pertama yang berjudul Catatan Buat Emak terdapat 4 bab. Bagian pertama novel RDP diawali dengan peristiwa yang menunjukkan alur mundur, yaitu peristiwa malapetaka yang terjadi di Dukuh paruk akibat keracunan tempe bongkrek. Hal ini tergambar dari kutipan berikut.
Sebelas tahun yang lalu ketika srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman yang kecil itu lengang, amat lengang. (RDP: 21)
Kutipan di atas memberi gambaran bahwa kejadian malapetaka yang membunuh sebagian masyarakat Dukuh Paruk akibat keracunan tempe bongkrek terjadi sebelas tahun yang lalu yaitu ketika srintil masih kecil. Kutipan di atas juga menjadi paragraf awal novel dalam penceritaan tentang malapetaka tempe bongkrek. Sehingga dapat diketahui bahwa penceritaan tentang malapetaka tempe bongkrek dalam novel menggunakan alur mundur.
Sedangkan pada bagian kedua dan seterusnya menggunakan alur maju yang menceritakan tentang inti dari cerita novel RDP, yaitu kisah Srintil dengan Rasus dan kisah Srintil yang menjadi Ronggeng baru setelah tidak adanya Ronggeng selama 11 tahun serta kebingungan rasus akan asal-usul ibunya yang menghilang sejak ia kecil. Adanya alur maju terlihat dari kutipan berikut.
Sudah dua bulan Srintil menjadi ronggeng. Namun adat Dukuh Paruk mengatakan masih ada dua tahapan yang harus dilaluinya sebelum Srintil berhak menyebut dirinya seorang ronggeng yang sebenarnya. (RDP: 43)
Kutipan di atas menjelaskan tentang srintil yang sudah menjadi ronggeng. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa alur begerak maju sampai akhir cerita, yaitu dari srintil yang dulunya masih kecil saat malapetaka tempe bongkrek dan sekarang sudah berusia 11 tahun menjadi seorang ronggeng.
Tahap-tahap alur perkembangan alur secara rinci terdiri dari lima bagian sebagai berikut.
1) Perkenalan
Perkenalan dalam novel RDP pada buku pertama yang berjudul Catatan Buat Emak terdapat 4 bab. Dalam bab pertama Rasus, srintil, santayib, dan sakarya diperkenalkan, bab pertama menceritakan tentang kehidupan rasus dan srintil ketika masih kecil yang harus di tinggal oleh kedua orang tua mereka karena peristiwa keracunan tempe bongkrek yang menimpa warga Dukuh Paruk. Kemudian pada bab kedua menceritakan perihal kematian Emak rasus dan kehidupan Ki Secamenggala, dalam bab dua emak rasus, nenek rasus, kartareja, Nyai kartareja diperkenalkan. Dalam bab ketiga membicarakan tentang sayembara bukak klambu, bab ini Dower dan Sulam diperkenalkan. Pada bab keempat tokoh utama dibicarakan, dalam bab ini Sersan slamet dan Kopral Pujo diperkenlakan.
2) Timbulnya Konflik
Konflik utama Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu malapetaka keracunan tempe bongkrek yang membunuh sebagian masyarakat Dukuh Paruk termasuk kematian ronggeng Dukuh paruk yang terakhir serta penabuh gendang. Rasus sebagai tokoh utama yang juga mengalami malapetaka tersebut. Munculnya konflik lain ditandai ketika srintil mulai menjadi ronggeng baru, saat itu kehidupan srintil mulai berubah. Dari yang dulunya sering bermain bersama Rasus, Warta, Darsun, tapi setelah menjadi ronggeng dia sudah tidak ada waktu untuk bermain. Menanggapi hal itu Rasus mulai renggang dengan srintil, wanita yang disukainya.
  1. Peningkatan konflik
Konflik meningkat pada bab dua dan tiga. Konflik utama dikembangkan dengan kuat pada bab tiga, yaitu ketika srintil harus menyelesaikan syarat terakhir menjadi seorang ronggeng, syarat terakhir yang harus dipenuhi itu bernama bukak-klambu. Sebuah syarat yang akan menggoyahkan hubungan Rasus dan Srintil. Hal itu memunculkan kebencian yang mendalam bagi rasus atas semua kebudayaan yang ada di Dukuh paruk.
  1. Klimaks
Puncak permasalahan terjadi ketika srintil telah menjadi seorang ronggeng Dukuh Paruk. Itu tandanya srintil menjadi milik orang banyak dan rasus sebagai seorang laki-laki yang menyukainya harus merelakan.
  1. Pemecahan masalah atau Penyelesaian
Penyelesaian bagian pertama novel RDP yaitu ketika Rasus pergi meninggalkan Dukuh. Rasus merasa dukuh paruk bertindak semena-mena dan hanya menciptakan kesengsaraan baginya. Sebagai seorang anak yang menghubungkan diri emaknya dengan diri srintil, Dukuh Paruk membuat noda dalam hidupnya. Kepergian Rasus untuk menentukan pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan itulah yang nantinya akan mengubah segalanya, tentang Srintil, asal-usul ibunya, dan juga tujuan hidupnya.
Berdasarkan tahap-tahap alur yang diuraikan di atas dapat disimpulkan alur yang terdapat dalam novel RDP buku pertama Catatan Buat Emak menggunakan alur campuran.
  1. Sudut Pandang
Berdasarkan beberapa pandangan tentang pusat pengisahan, dapat diperoleh gambaran bahwa ada beberapa kemungkinan yang dapat dipergunakan oleh pengarang dalam menceritakan ceritanya melalui pusat pengisahan, seperti halnya dalam novel RDP pada bagian pertama menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.
Ia merasa srintil telah menjadi milik semua orang Dukuh Paruk. Rasus cemas tidak bisa lagi bermain sepuasnya dengan Srintil di bawah pohon nangka. Tetapi Rasus tak berkata apapun. (RDP: 20)
Pengarang dalam kutipan di atas ikut terlibat dalam cerita sekaligus sebagai pengamat. Penggunaan orang ketiga dalam novel ini dapat dikatakan logis, dalam gaya penceritaan orang ketiga serta serba tahu karena pengarang berada di luar cerita, pengarang mengetahui batin tokoh utama, seperti tokoh Rasus ketika menyaksikan pentas menari srintil. Pengarang seperti ikut merasakan apa yang dirasakan Rasus, yaitu perasaan hati Rasus.
Sedangkan pada bagian kedua sampai seterusnya ditampilkan dengan Sudut pandang orang pertama pelaku utama, yaitu Rasus yang di sebut “aku”. “Aku” yang bercerita dalam novel RDP mempunyai dua kemungkinan. Pertama, “aku” pencerita yang berkedudukan sebagai pengarang yang menyusun cerita. Kedua, “aku” tokoh utama yang mempunyai kedudukan yang dominan pada cerita.
Penggunaan sudut pandang orang pertama pelaku utama terlihat jelas dalam kutipan berikut.
Aku mengenal dengan sempurna setiap sudut tersembunyi di Dukuh paruk. Ketika kartareja bercakap-cakap dengan Dower, aku mendengarnya dari balik rumpun pisang di luar rumah. (RDP: 59-60)
Pada kutipan di atas ditunjukkan dengan tidak adanya komentar pengarang dalam cerita. Tokoh utama bercerita tentang dirinya sendiri melalui tingkah laku yang diperankannya. Disamping itu, dari pemahaman tokoh aku tentang Dukuh Paruk memperkuat dugaan sedut pandang pada bab dua sampai empat menggunakan orang pertama pelaku utama.
  1. Simbol
Dalam nover RDP karya Ahmad Tohari terdapat beberapa symbol. Simbol-simbol tersebut diciptakan pengarang sebagai gambaran ide, pikiran, atau perasaannya. Simbol itulah yang harus ditafsirkan atau dimaknai sendiri oleh pembaca. Simbol-simbol yang akan dibahas dalam kajian kali ini adalah sebagai bdrikut.
  1. Pegeblug
Pagebluk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti wabah (penyakit), tapi dalam novel RDP diartikan kejadian yang terjadi karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Pemaknaan kata Pegeblug sebagai kutuk roh Ki Secamenggala didasarkan pada kutipan berikut.
“ Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah Pegeblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!” (RDP: 26)
Kutipan di atas menjelaskan makna arti Pegeblug dalam novel RDP. Dari situ dapat diketahui bahwa Pegeblug dalam novel RDP adalah sebuah simbol yang digunakan untuk mewakili kutuk roh Ki Secamenggala.
  1. Bukak-klambu
Bukak-klambu merupakan sebuah frasa dalam bahsa jawa yang terdiri atas dua kata yaitu bukak dan klambu. Bukak dalam bahasa jawa yang diindonesiaka berarti membuka. Sementara klambu juga kata yang berasal dari bahasa jawa, yang ketika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah sebuah kain lebar yang menutupi ranjang tempat tidur. Sehingga frasa “Bukak-klambu”dapat diartikan sebagai membuka kain yang menutupi ranjang. Namun, dalam cerpen RDP, Bukak-klambu
bukanlah membuka kain yang menutupi ranjang melainkan semacap sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati viginitas itu. Hal itu ditunjukkan dalam kutipan berikut ini.
Memenangkan sayembara Bukak-klambu bukan hanya menyangkut renjana berahi. (RDP: 57)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Bukak-klambu sebuah simbol yang terdapat dalam novel RDP yang memiliki makna yaitu malam yang harus dijalani seorang ronggeng bersama laki-laki sebagai persyaratan terakhir menjadi seorang ronggeng.
  1. Sumpah serapah
Sumpah serapah dalam novel RDP karya ahmad Tohari merupakan sebuah simbol. Sumpah serapah merupakan gabungan dari dua kata yaitu kata sumpah dan serapah. sumpah dalam Kamus Besar Bahsa Indonesia berarti pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya). Sementara serapah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti kutuk atau kutukan.
Namun, dalam novel RDP, sumpah serapah merupakan sebuah simbol yang berarti perkataan kotor. Pemaknaan ini didasarkan pada kutipan teks di bawah ini.
Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! Pikirku. (RDP: 51)
Kutipan di atas menggambarkan sumpah serapah yang diartikan perkataan kotor. Pengarang dalam kutipan tersebut menggunakan kata “bajingan” dan “bajul buntung” sebagai wujud dari perkataan kotor yang dalam novel RDP disebut sumpah serapah. Sehingga dapat diketahui bahwa simbol sumpah serapah dalam novel mewakili perkataan kotor yang terdapat dalam novel RDP.
  1. Ironi
Ironi memiliki arti sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Dalam novel RDP terdapat beberapa ironi.
Pada akhir permainan, rasus, warta, dan darsun minta upah. Kali ini mereka yang berebut menciumi pipi srintil. Perawan kecil iti melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng. (RDP: 14)
Kutipan di atas menggambarkan kehidupan di Dukuh Paruk begitu bebas, tidak ada tatakrama yang berlaku, jika hal tersebut dikaitkan dengan zaman sekarang, memunculkan kontradiksi. Di dukuh Paruk upah yang didapatkan dengan ciuman pipi merupakan hal yang wajar tapi jika hal tersebut dilakukan di zaman sekarang sangat betentangan dengan harga diri. Pertentangan kehidupan juga terlihat dalamkutipan berikut.
Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pila istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun berahinya. (RDP: 39)
Kutipan di atas juga menggambarkan perilaku yang bertentangan dengan kehidupan sekarang, yaitu seorang istri yang merasa senang ketika suaminya dapat bertayub(menari) dengan seorang ronggeng. Menanggapi hal tersebut, seorang ronggeng ketika pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk.
Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kehidupan sekarang. Di zaman sekarang ketika seorang suami menari dengan wanita selain istrinya akan mendapat tuduhan selingkuh. Selain itu, Kehidupan ronggeng Dukuh Paruk yang sangat mewah pada zamannya dikaitkan dengan kehidupan ronggeng zaman sekarang yang akan menari ketika ada acara-acara tertentu.
  1. Nilai dan Moral
Nilai yang terkandung dalam novel RDP yaitu nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyatrakat, peradaban, atau kebudayaan.Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Orang-orang yang sudah berkumpul hendak melihat Srintil menari mulai gelisah. Mereka sudah begitu rindu akan suara calung. Belasan tahun lamanya mereka tidak melihat pagelaran ronggeng. (RDP: 19)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Dukuh Paruk begitu erat dengan budaya pertunjukkan ronggeng. Adanya ronggeng merupakan pemersatu masyarakat yang ada di Dukuh Paruk. Nilai budaya yang terdapat dalam novel juga sangat erat dengan adat yang ada di Dukuh paruk.
Dukuh Paruk yang identik dengan adanya ronggeng juga mengaitkan budayanya dengan perilaku masyarakat, pertunjukkan ronggeng yang dihadirkan dalam novel menimbulkan perilaku yang kurang dapat diterima di masyarakat sekarang. Misalnya Dukuh Paruk dengan kemelaratannya, keterbelakangannya, kebodohannya tanpa pengetahuan, di Dukuh paruk hal seperti sudah biasa.
Sedangkan moral yang terdapat dalam novel RDP yaitu moral yang didapat dari ajaran pelbagai ajaran adat yang menguasai peputaran manusia atau disebut moral terapan. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.
Di belakangku Dukuh Paruh diam membisu. Namun segalanya masih utuh di sana: keramat Ki Secamenggala, kemelaratan, sumpah serapah, irama calung, dan seorang ronggeng. (RDP: 107)
Melalui kutipan di atas pengarang melukiskan kehidupan masyarakat yang masih berada dalam alam pikiran mitis, miskin, longgar tatanan moralnya, dan ronggeng. Kutipan di atas menggambarkan bagaimana moral yang tercipta di Dukuh paruk. Dengan kemelaratan yang turun temurun tidak menumbuhkan semangat masyarakat Dukuh Paruk untuk memperbaiki hidup. Tapi walaupun begitu kehidupan mereka sangat bergantung pada pertunjukkan ronggeng yang menghasilkan kesenangan pribadi.
Tingkah laku masyarakat Dukuh Paruk yang biasa dengan sumpah serapah mencerminkan kebiasaan yang dinilai tidak baik. Sehinggan moral yang terdapat dalam novel RDP banyak membahas tentang bentuk moral etika, yaitu membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.

Penutup

Secara analisis, novel Ronggeng dukuh Paruk dapat menambah pemahaman kepada pembaca dalam menemukan unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik cerpen. Unsur novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dianalisi yaitu tema, latar, penokohan dan perwatakan, alur, sudut pandang, simbol, ironi, dan nilai moral dalam novel.
Tema pokok dalam RDP, yaitu pertentangan antara keramat Ki Secamenggala dengan kaum terpelajar. Latar yang terjadi di Dukuh paruk. Tokoh utama Rasus dan tokoh pembantu utama Srintil. Alur yang terjadi alur campuran dengan menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Simbol yang dimunculkan yaitu bukak-klambu, sumpah serapah, dan pegeblug. Ironi yang di gambarkan tentang kontradiksi dengan kehidupan sekarang, serta nilai moral tergambar kurang baik.
Sinopsis Novel ”Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari
Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Namun,warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main bersama Rasus, Warta, Darsun.
Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian mereka sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat. Dalam waktu singkat, Srintil pun membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat.
Sebagai seorang ronggeng yang sah, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, di sisi lain, Rasus yang mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk.
Kepergian Rasus ternyata meninggalkan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan,dan tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan ketentaraannya itulah kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan penghargaan seluruh orang Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil.
Beberapa hari singgah di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Pada saat fajar, Rasus melangkah gagah tanpa berpamitan pada Srintil yang masih pulas tidurnya. Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Setelah kejadian itu Srintil setiap hari tampak murung dan sikap Srintil menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya ronggeng Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk.
Daftar Rujukan:
Tohari, A. 2004. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ekasiswanto, R. dan Sugihastuti. 1999. Teori Prosa Indonesia. Yogyakarta: ……
http://faizaturrohmah.blogspot.co.id/2012/10/analisis-novel-ronggeng-dukuh-paruk.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *